
Jam makan siang yang sudah terlewatkan satu jam tadi karena kondisi restoran yang ramai saat makan siang membuat Davina, Mia dan tema temannya mengundurkan sedikit waktu makan siangnya untuk mengantarkan makanan ke pelanggan.
"Haha....iyah betul banget, aku udah baca tu crita yang kamu share di grup"
"Punya lagi gak cerita yang lain gitu" tanya Mia dengan memakan bekal miliknya.
"Enggak tau, author nya lama bgt gak up" jawab teman Mia.
"Kalo udah kirim lanjutannya" ingat Mia membuat temannya menganggukkan kepalanya.
Berbeda dengan Davina yang hanya diam dengan tangan yang memainkan isi kotak bekalnya, entah kenapa ***** makannya tiba tiba hilang begitu saja, padahal dari tadi ia sudah menahan lapar yang amat sangat.
Mia menoleh ke arah Davina saat Davina hanya diam saja dari tadi. "Kamu gk makan?" tanya Mia.
Davina mengelengkan kepalanya. "Vina tiba tiba gak lapar mbak"
"Kenapa? bukannya tadi kamu bilang kamu udah lapar banget?" Mia di buat heran dengan sikap Davina, Davina yang baru makan tiga sendok saja sudah bilang tidak lapar apa lagi rotinya dengan bekal yang hampir habis tapi masih terasa lapar, dasar perut karet...
"Gak tau" jawan Vina se enaknya. "Mbak mau?" tawar Davina menujuk kotak bekalnya yang baru ia makan tiga sendok, karena mubazir kalo di buang.
"Boleh?" tanya Mia antusias karena beberapa kali ia sempat mencoba makanan Davina rasanya begitu enak, apa lagi sekarang di tawarkan bekalnya yang masih utuh.
"Ambil aja" Davina mengarahkan kotak bekalnya ke arah Mia membuat wanita itu tersenyum senang.
"Makasih" ujar Mia antusias yang langsung memakan bekal miliki Davina dan mencampakkan bekal miliknya yang masih sisa sedikit, ketiga teman kerja Davina mengelengkan kepalanya melihat Mia yang makan dengan lahapnya.
__ADS_1
***
"Huek...huek..."
"Sial!, huek..." umpat William di sela sela saat ia memuntahkan isi perutnya di dalam wastafel.
"Tuan anda tidak apa apa?" tanya Max yang baru saja datang dan mendengar suara orang muntah dari dalam kamar mandi atasnya itu membuat Max langsung melangkah ke dalamnya dan terlihat William yang tengah mengeluarkan isi perutnya, tapi yang keluar hanya cairan berwarna putih karena William belum makan sama sekali.
"Apa kau tidak lihat?!" ucap William kesal, sebelum ka kembali mengeluarkan isi perutnya.
Max yang melihat William masih saja mengeluarkan isi perutnya membuat ia memijat tengkuk William tak tega dan tidak biasanya atasannya itu muntah-muntah seperti ini kecuali kalo William terlalu banyak meneguk minuman ber alkohol dengan jumlah banyak, tapi seingat Max William dua hari ini tidak meneguk minum itu.
Dengan senantiasa Max berdiri di samping William dengan memijat tengkuknya pelan, berharap dengan itu mual yang di rasakan William berkurang.
William mengambil botol dari tangan Max tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan langsung meneguk habis air di dalamnya.
"Anda baik baik saja tuan? mau saya panggilkan dokter Hermawan untuk memeriksa keadaan anda?" tawar Max membuat William menatapnya dari cermin kaca.
"Aku tidak selemah itu sampai harus di periksa dokter Hermawan" ucap William sebelum ia melangkah keluar dari dalam kamar mandi dengan Max yang mengekorinya dari belakang.
"Kau sudah membawa pesan ku?" tanya William yang sudah mendudukan tubuhnya di sofa ruangannya..
"Ini tuan" Max menaruh satu pelastik berwarna putih ukuran sedang di atas meja depan William dan mengeluarkan isinya yang berupa aneka jenis makanan.
William yang meminta Max untuk membelikan makanan di restoran langganannya karena sebelum ia merasakan mual, ia sudah lebih dahulu merasakan lapar yang teramat sangat membuat Max membeli lumayan banyak makanan kesukaan William.
__ADS_1
Max menatap atasannya itu dengan tatapan heran, William yang tidak pernah makan siang kecuali bertemu klien di luar membuatnya tidak akan pernah makan siang, tapi sekarang William memakan makanan di hadapannya dengan begitu lahap seperti orang yang tengah hamil.
"Pesankan aku makanan lagi yang sama seperti ini" titah William kepada Max tanpa mengalihkan pandangannya dari barisan makannya, padahal baru setengah yang tuannya itu makan dan sekarang ia sudah memintanya memesan makanan lagi?.
"Ba-baik tuan" karena butuh waktu lama untuk bolak balik ke restoran langganan William, Max memilih delivery order saja dan memberikan tips yang lumayan besar kalo sampai makanan itu sampai di kantor William lima menit lagi, setelah itu Max memasukan lagi benda pipih itu ke dalam saku jasnya.
"Apa ini efek dari bawaan bayi?" batin Max yang mengingat banyak orang di luar sana bilang kalo laki laki juga bisa merasakan apa yang di rasakan ibu hamil apa ini salah satu contoh nyatanya?.
"Tapi aku masih tidak percaya kalo hall seperti itu nyata, bukannya yang hamil wanita? tapi kenapa pria juga bisa kena efeknya?" Max yang masih menatap heran wajah William dengan makanan yang sebentar lagi habis segera menepis pikiran itu dari otaknya. "Mungkin tuan William kebetulan lagi lapar" Max berusaha berfikir yang masuk di akalnya saja karena laki laki yang hampir seumuran dengan William itu juga belum pernah merasakan hall seperti itu kalo menikah saja sampai sekarang belum.
Tok...tok...
Max mengalihkan pandangan ke arah pintu sebelum ia beranjak dari duduknya, dan membuka pintu kerja ruangan William.
"Kamu? ngapain kamu bisa sampai ke sini?" Tanya Max dengan tatapan sinis, karena tidak ada satupun karyawan yang boleh menginjakan kaki di lantai teratas gedung ini tanpa persetujuan dari William atau dirinya.
"Sebelumnya maaf tuan Max kalo saya lancang, tadi saya mendapatkan pesanan ini katanya atas nama anda" kata wanita yang di ketahui bekerja di bagian resepsionis di kantor William dengan menyerahkan satu kantung plastik ke arah Max.
"Karena beberapa kali saya menghubungi nomer ruangan anda Tidak ada jawaban" lanjutnya membuat Max mengangguk paham dan menerima pelastik pesanan nya.
"Dan ini tuan kata orang yang mengantarnya ini bonus buat anda" matanya lagi menyodorkan kantong plastik berwarna hitam yang berukuran kecil.
Max menatap plastik yang ada di tangan wanita itu. "Ambil saja sebagai tanda terimakasih" ujar Max yang langsung masuk lagi ke dalam ruang William.
"Rezeki, dan kapan lagi coba bisa naik ke lantai teratas kantor ini" wanita itu senyam senyum sendiri dengan rasa bahagia saat pintu ruang William sudah tertutup.
__ADS_1