
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan William masih berada di ruang kerjanya bersama dengan Max menyelesaikan pekerjaan yang sempat berantakan tadi, wajah lelah terukir jelas dari kedua orang itu bola matanya yang sudah mengeluarkan cairan berwarna putih meminta sang pemilik untuk istirahat tapi keduanya sangat enggan untuk istirahat sejenak saja.
Membawakan dua cangkir kopi Davina melangkah mendekat arah meja William. "Belum selesai?" tanya Davina lembut.
Melihat kedatangan Davina William memaksakan senyumannya. "Sebentar lagi"
"Kenapa kamu belum tidur?, ini sudah sangat larut." ucap William menatap jam di ponselnya.
"Aku akan menunggumu"
"Kamu tidak perlu menunggu ku, kalo kamu ngantuk kamu bisa tidur duluan" ujar William.
Beralih menatap Max yang duduk di depan William pria itu beberapa kali menguap dan mengusap cairan berwarna putih. "Max anda bisa istirahat saja dulu dan pekerjaannya bisa di sambung besok bukan?"
"Ti-tidak nona saya tidak lelah"
"Jangan bohong, lebih baik kamu tidur di sini untuk satu malam tadi saya sudah meminta pak Mun membersihkan kamar tamu untuk mu"
Max menatap atasannya itu meminta persetujuan, William yang dapat melihat asistennya itu kelelahan menganggukan kepalanya kecil dan memintanya untuk istirahat.
"Baik nona, terimakasih" Berdiri dari duduknya Max berjalan meninggalkan William dan Davina menuju kamar tamu.
__ADS_1
Melihat Max yang sudah pergi Davina beralih menatap suaminya. "Kamu masih mau kerja?"
"Iyah tinggal sedikit lagi" jawab William melanjutkan pekerjaannya. Davina menarik kursi ke samping William berniat untuk melihat suaminya bekerja.
Setengah jam berlalu William yang sudah nampak tidak kuat lagi menahan kantuknya menyandarkan punggungnya ke badan kursi memejamkan matanya sebentar William berniat istirahat sejenak tapi sayangnya matanya memilih untuk tetap tertutup alhasil pria itu tertidur di kursi kerjanya. Melihat William yang ketiduran membuat Davina mengelengkan kepalanya William memang seorang yang pekerja keras bahkan pria itu sangat keras kepala tidak ingin tidur sebelum pekerjannya selesai.
Menarik pelan laptop milik William Davina menatap laporan yang di buat oleh suaminya, iseng menarikan tangannya di papan keyboard gadis itu menyelesaikan satu laporan yang belum selesai di kerjakan William, memiliki IQ yang tinggi membuat Davina tidak butuh waktu lama untuk paham hanya sekedar melihat William bekerja, satu laporan selesai berniat mematikan layar laptopnya mata Davina menatap beberapa berkas yang sepertinya belum di kerjakan, melirik sekilas kearah William yang masih tertidur pulas Davina menyelesaikan laporan tersebut satu demi satu.
Jam terus berputar sampai jarum jam menunjukan pukul dua dini hari dan berkas yang terakhir baru saja Davina selesaikan, merenggangkan otot-otot tubuhnya Davina merasa kantuk yang sudah tidak bisa ia tahanan lagi berjalan ke arah sofa Davina merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah karena tidak mungkin ia tidur di atas kursi dengan perut buncitnya, baru saja Davina memejamkan matanya dirinya langsung masuk ke alam mimpi.
Sang surya yang mulai menunjukan cahayanya meminta agar seluruh penghuni bumi untuk bangun, cahaya matahari yang masuk melalui celah kaca ruangan William membuat kedua orang yang tengah terlelap di tempatnya masing-masing tidak terusik sama sekali.
Tanti yang baru saja keluar dari dalam kamarnya mengedarkan pandangannya mencari sosok Davina tapi sepertinya gadis itu belum turun dari lantai dua, berjalan kearah dapur Tanti bertanya kepada pak Mun yang baru akan memasak.
"Pagi nyonya"
"Apa William sama Davina belum turun?" tanya Tanti.
"Belum nyonya mungkin sebentar lagi" Tanti menganggukan kepalanya berniat ke lantai dua mengecek anak dan menantunya mata Tanti menatap Max yang baru saja keluar dari kamar tamu.
"Tuan Max, anda disini?" tanya Tanti berhenti di depan tangga.
__ADS_1
"Iyah nyonya, anda sendiri mau kemana?" tanya Max saat melihat Tanti yang sepertinya ingin ke lantai dua.
"Saya mau melihat Davina kenapa jam segini belum turun juga"
"Sebaiknya anda jangan ke atas dan lebih baik anda melakukan saja pekerjaan anda agar tuan William tidak marah dengan anda" ucap Max berlalu begitu saja meninggalkan Tanti yang masih mematung di tempat dengan mengepalkan tangannya kuat di sisi tubuh.
Membuka matanya pelan William melihat sekitar dan baru sadar kalo dirinya tertidur di ruang kerja. "Pekerjaan ku" ucap William panik dan langsung menatap layar laptopnya yang kebetulan masih nyala.
Dahi William menimbulkan garis halus saat semua perkerjanya sudah selesai dan di kerjakan dengan sangat rapi. "Siapa yang mengerjakan ini semua?" tanya William pada dirinya sendiri dengan tangan yang terus memeriksa satu persatu dokumennya.
"Tidak mungkin Max yang menyelesaikan ini semua kalo pria itu saja sudah tidur lebih dahulu tadi malam" Menyandarkan punggungnya ke badan kursi mata William menatap seseorang yang tengah tertidur di atas sofa.
"Davina?" William melupakan gadis itu yang sudah menemani dirinya bekerja tadi malam, berjalan dengan cepat ke arah sofa melihat wajah Davina yang tengah tertidur sangat pulas.
Duduk di pinggir sofa tangan William menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya. "Apa kamu yang menyelesaikan pekerjaan ku tadi malam?" tanya William dengan menatap wajah Davina.
Masih sulit di percaya kalo Davina yang sudah menyelesaikan pekerjaannya tadi malam, tapi itulah kenyataannya karena yang ada di ruangan ini hanya dirinya dan gadis itu, menyisir rambut Davina kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Selain aku telat menyadari kebaikan dan kecantikan mu aku juga telat menyadari ternyata kamu gadis yang pintar" ucap William menoel hidung mancung Davina membant gadis itu menggeliat tanpa membuka matanya.
Tidak ingin tubuh Davina sakit semua akibat tidur di sofa William mengangkat tubuh itu membawanya ke dalam kamar, menurunkan secara perlahan tubuh mungil itu ke atas kasur William menarik selimut sampai batas dada. Meraih ponselnya William mengirimkan pesan kepada Max kalo dirinya akan masuk kantor jam dua belas siang karena tubuhnya yang masih sangat lelah dan jika di ajak kerja lagi William tidak ingin semua pekerjaannya berantakan. Naik ke atas kasur pria itu merebahkan tubuhnya di samping Davina membawa tubuh itu ke dalam pelukannya.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah🤗♥️