
Dokter Hermawan keluar dari ruangan operasi langsung di sambut William yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Bagaimana keadaan istri ku?"
Membuka masker yang menutupi wajahnya dokter Hermawan mulai menceritakan keadaan Davina. "Nona Davina sempat mengalami kritis saat di tengah operasi berlangsung dengan keajaiban tuhan nona Davina bisa melewati masa kritisnya, dan karena itu juga jam operasi sedikit lama karena memang nona Davina yang mengeluarkan darah yang banyak dan beruntung pihak rumah sakit memiliki beberapa kantung darah yang sesuai dengan golongan darah nona Davina"
William bernafas lega saat pihak rumah sakit mengatakan mempunyai stok darah yang sesuai dengan istrinya dengan begitu ia tidak perlu meminta pertolongan pada siapapun apa lagi sampai darah sang istri sesama dengan ayah mertuanya membuat William tak rela memohon-mohon para pria brengsek itu.
"Ja-jadi bagaimana keadaan istriku sekarang?" tanya William ingin jawaban akurat.
"Nona Davina baik-baik saja tuan dan nona masih harus rawat inap di sini untuk beberapa hari kedepan memastikan bahwa tidak ada cindera yang serius akibat kecelakaan itu"
William bernafas lega saat istrinya baik-baik saja. "Terus bagaimana keadaan anak saya?"
"Selamat tuan nona Davina melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan"
"Laki-laki?" tanya William dengan nada bahagia.
"Iyah tuan dia laki-laki" jawab dokter Hermawan. "Dan untuk bayi yang di lahir kan secara prematur putra anda harus ditempatkan di inkubator atau di bawah lampu yang memancarkan kehangatan untuk memastikan suhu tubuhnya stabil"
"Bayi yang lahir sebelum waktunya, seringkali memiliki sistem imun tubuh yang belum matang sempurna. Kondisi ini membuatnya rentan terhadap infeksi dan virus. Untuk meningkatkan sistem imunitas tubuhnya, bayi prematur perlu mendapatkan obat-obatan dan perawatan medis yang komprehensif."
"Dan saya akan meminta dokter spesialis anak untuk memastikan tidak ada penyakit paru-paru kronis atau chronic lung disease (CLD) yang berisiko diidap oleh bayi prematur." jelas dokter Hermawan agar William juga mengetahui kondisi anaknya yang lahir secara prematur.
"Lakukan yang terbaik untuk putraku, dan pastikan penyakit itu tidak ada pada putra ku karena aku tidak ingin putra ku merasakan sakit!"
"Saya akan berusaha yang terbaik tuan" ucap dokter Hermawan karena dokter hanya bisa berusaha yang terbaik untuk pasiennya sisanya tuhan yang tahu.
Tidak berselang lama brankar Davina di dorong keluar oleh suster di ikuti inkubator sang anak yang akan di tempatkan di ruangan khusus bayi prematur. Kulitnya yang putih pucat dan sedikit berkerut seperti jeruk mandarin membuat William menatap kasihan pada putranya yang harus lahir belum waktunya apa lagi mulutnya yang sepertinya mencari sumber makanannya nampak jelas bahwa putranya itu tengah kelaparan.
__ADS_1
William memutuskan untuk mengantar Davina terlebih dahulu keruang rawatnya baru nanti ia akan menemui sang anak. Memastikan semuanya sudah terpasang dengan baik dokter Herwanan keluar dari ruangan Davina dan berpesan pada William agar segera memanggilanya jika Davina sudah siuman.
Menarik kursi di samping ranjang sang istri William menggenggam tangan lemah sang istri dengan sangat hati-hati. Lagi-lagi air matanya jatuh begitu saja mengusap punggung tangan sang istri lembut William mendaratkan satu kecupan ringan di sana.
"Kamu wanita terhebat yang pernah aku temui selama ini, dan beruntungnya aku bisa memiliki mu menjadi istriku" menatap mata Davina yang masih terpejam tangannya terulur mengusap rambut Davina lembut. "Tapi sepertinya keberuntungan itu tidak berpihak pada mu yang harus menikah dengan pria brengsek seperti diriku"
"Mungkin aku terlalu pengecut untuk berbicara hall ini saat kamu membuka mata mu tapi nyatanya aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan hal ini langsung pada mu"
"Aku mencintaimu Davina" ucap William lirih. Jelas ucapannya tidak akan di dengar oleh Davina kalo gadis itu saja masih berada di alam bawah sadarnya. "Mungkin terlalu baik jika kamu membalas cinta ku yang selama ini sudah menyakiti mu dengan begitu kejamnya"
"Aku mohon maafkan aku, aku benar-benar tidak ingin kehilangan kamu Vina, cukup tuhan membuat ku kehilangan segalanya tapi jangan dirimu, aku baru saja merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya bukankah terlalu kejam jika tuhan membuat kita berpisah?" isak William semakin menjadi menundukan wajahnya William tak berani menatap wajah sang istri yang semakin menyayat hatinya.
Cukup lama William menundukan wajahnya dengan terus menangis sampai ia merasakan sesuatu memegang rambutnya. Menaikan pandangannya William dapat melihat Davina yang masih berusaha membuka matanya dengan susah.
"Ka-kamu sudah bangun?" mengusap sisa air katanya kasar William semakin mendekatkan dirinya dengan Davina.
Davina hanya mengangguk menjawab ucapan William. "Ha-haus" ucapnya lirih.
Tangan kiri Davina meraba perutnya dan mendapatkan perutnya yang sudah mengecil, merasa takut terjadi sesuatu pada bayinya pandangan Davina menyapu ruang rawat inapnya. "Anak ku"
"Dimana anak ku" rancau Davina panik.
"William dimana anak ku!" tanya Davina menatap wajah suaminya.
"Anak kita ada tapi bukan disini"
"Apa maksud mu?" tanya Davina tak suka basa-basi.
"Kamu mengalami benturan yang cukup kuat pada perutmu akibat kecelakaan tadi sehingga dokter melakukan operasi caesar untuk menyelamatkan anak kita" jelas William berusaha menangkan Davina yang terlihat begitu panik.
__ADS_1
"Sekarang dimana anak ku, aku mau ketemu dia sekarang" mencoba bangkit dari tidurnya William lebih dahulu mencegahnya.
"Vina jangan banyak gerak dulu, kamu haru saja siuman dan aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Kalo kamu mau ketemu sama anak kita biar aku panggil kan dokter untuk memeriksa keadaan mu terlebih dahulu" ucap William langsung keluar dari ruang rawat sang istri memerintahkan Max yang menunggu di luar untuk memanggil dokter Hermawan.
Dokter Hermawan masuk kedalam memeriksa keadaan Davina secara menyeluruh. "Apa anda merasakan pusing pada kepala bagian belakang anda nona?"
"Tidak"
"Anda merasakan mual pada perut anda?"
"Sedikit" jawab Davina seadanya.
Dokter Hermawan menganggukan kepalanya. "Sejauh ini keadaan nona Davina baik-baik saja tuan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dan untuk mual yang di rasakan oleh nona Davina itu efek pada obat bius dan akan hilang secara perlahan"
"Apa saya boleh melihat anak saya?" tanya Davina membuat kedua orang itu menatapnya.
"Sebaiknya anda istrirahat dulu nona, keadaan anda masih terlalu lemah untuk kemana-mana"
"saya baik-baik saja, lagi pula bukankah anda sendiri yang bilang saya baik-baik saja"
"Tapi nona-"
"Saya mohon saya mau bertemu dengan anak saya" pinta Davina dengan tatapan memohon.
"Baiklah anda boleh melihat anak anda tapi jangan terlalu lama karena anda masih harus banyak-banyak istrirahat mengingat anda kekurangan banyak sekali darah tadi nona" Davina menganggukan kepalanya menyetujui ucapan dokter Hermawan.
Meminta perawat membawakan kursi roda ke ruangan Davina, William membantu memindahkan sang istri dengan sangat hati-hati ke kursi roda. Di ikuti dua suster dan satu dokter perempuan spesialis anak yang di tugaskan dokternya Hermawan secara khusus untuk memantau keadaan putra William, kelimanya berjalan keruangan khusus dengan William yang mendorong kursi roda sang istri.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️