
Saat William ingin membuka makan yang baru saja di antarkan resepsionis ke ruangannya dirinya lebih dulu merasakan mual yang lagi lagi menghampirinya, dengan langkah sedikit berlari William masuk ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi makannya di dalam wastafel.
Max yang melihat William kembali muntah muntah di buat bingung sendiri, pasalnya William masih keras kepala untuk tidak mau memeriksakan diri ke dokter Hermawan, bahkan wajahnya sudah terlihat pucat karena terlaku banyak muntah.
"Wajah anda sangat pucat tuan, apa anda yakin anda baik baik saja?"
"Aku baik baik saja, kau pikir aku kenapa? lagian aku hanya muntah muntah mungkin karena salah makan"
"Tapi lebih baik kita ke dokter tuan, saya khawatir dengan keadaan anda"
"Tutup mulut mu Max!, sudah berapa kali aku bilang kalo aku baik baik saja!" William menatap tajam kedua bola mata aistennya itu.
"Tapi tuan...."
"Kalo kau benar benar tidak bisa diam aku akan mematahkan tulang leher mu itu sekarang" jeda William saat Max yang terus saja bicara yang membuat kepalanya seketika terasa pusing.
"Maaf tuan"kini Max lebih memilih diam dari pada tuannya itu benar benar akan mematahkan tulang lehernya.
"Antar aku pulang" titah William yang berjalan lebih dahulu keluar dari dalam kamar mandi.
"Sepertinya aku harus hubungi nona Davina" Max merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan benda pipih itu tapi sesaat pergerakan tangannya terhenti mengingat kalo dirinya tidak memiliki nomor ponsel Davina.
"Aku tidak tahu berapa nomer ponsel Nona Davina" Max berdecak kesal di dalam kamar mandi tersebut, tapi sesaat satu nama terlintas di otaknya tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi orang tersebut.
"Halo pak Mun" sapa Max saat sambungan telefon sudah terhubung, Max menghubungi pak Mun karena cuma pak Mun yang dekat dengan Davina selama di rumah William.
"Saya mau pak Mun menghubungi nona Davina agar segera pulang sekarang!" titah Max, tapi sesaat pak Mun menjawab kalo dirinya tidak memiliki nomor ponsel Davina membuat Max mengusung wajahnya kasar.
__ADS_1
"Gini saja nanti saya kirim alamat tempat Nona Davina bekerja, dan pak Mun bisa menjemputnya langsung" ujar Max yang baru ingat kalo dirinya pernah bertemu dengan Davina di salah satu restoran saat ia menemani William miteeng, dan ia masih ingat sekali kalo Davina memakai seragam pelayanan saat itu.
Setelah mengirimkan lokasi tempat Davina bekerja Max langsung keluar dari ruangan William dengan sedikit berlari.
***
Davina yang di jemput pak Mun secara mendadak tanpa tau alasannya membuatnya hanya pasrah dan menitipkan izin kepada Mia kalo sampai seseorang menanyakan keberadaannya, sampai dirumah Davina tidak di perbolehkan untuk masuk melainkan ia di suruh untuk berdiri di luar karena matanya William akan pulang cepat.
Davina terheran heran dengan sifat pak Mun itu tapi biasanya juga William baru akan pulang nanti sore menjelang malam tapi kenapa baru jam satu lebih William sudah mau pulang?, Davina yang tidak tau apa apa hanya memilih diam dan menuruti perintah pak Mun.
Setalah lima belas menit lamanya mobil mewah milik William terparkir tepat di hadapan Davina dan dengan sigap Max memutari mobil membukakan pintu untuk atasannya, tapi tidak seperti biasanya Max membantu William keluar dari dalam mobil tapi dengan cepat niat baiknya itu di tolak oleh William setelah ia menepis tangan Max yang ingin memapahnya.
"Aku bisa sendiri!" William memakan tiga kata itu dengan menatap tajam Max.
"Maaf tuan" Max menundukkan kepalanya dengan cepat saat mendapatkan tatapan tajam itu.
Saat tubuh William oleng ke samping dengan sigap Davina menerima tubuh kekar itu walau kekuatannya tidak seberapa tapi setidaknya ada Max yang dengan sigap membantu memapah tubuh William masuk ke dalam rumah.
"Nona biar saya saja, kasihan kandungan anda" saat ingin menaiki anak tangga pak Mun menawarkan dirinya karena ia khawatir dengan janin yang ada di kandungan Davina yang masih dalam usia muda.
Davina menatap wajah milik William sesaat wajah yang biasanya tampil dengan galaknya sekarang berubah menjadi sangat pucat entah apa yang telah terjadi ia juga tidak tau dan ia akan tanyakan pada asisten Max nantinya, Pak Mun langsung mengambil pergelangan lengan William saat Davina hanya diam saja, dan setelah itu Max dan pak Mun membantu William untuk ke kamarnya dengan Davina yang mengekori di belakangnya.
"Tuan Max ini sebenarnya ada apa dengan tuan William?" Davina bertanya setelah William di rebahkan di atas kasur.
"Tadi saat di kantor tuan William sudah bolak balik kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya"
"Apa dia salah makan?" tanya Davina memastikan.
__ADS_1
"Tidak mungkin tuan William sampai salah makan karena setiap harinya saya memastikan makanan yang masuk ke dalam mulut tuan William itu sehat" ujar pak Mun.
"Iyah nona, dan tidak mungkin juga tuan William salah makan makanan restoran langganannya secara restoran itu terkenal dengan kualitas makanannya yang di nomor satukan" imbuh Max.
"Terus tuan William kenapa?" pertanyaan itu kembali di layangkan dengan menatap wajah William yang sedang istirahat.
Pak Mun dan Max saling pandang dengan mengangkat bahunya tanda mereka juga tidak tau apa yang telah terjadi dengan tuannya itu.
"Tuan?" suara Davina membuat pak Mun dan Max beralih menatap William yang sudah menutup mulutnya dan dengan cepat menyibakkan selimut yang membalut tubuhnya dan melangkah dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi membuat Davina mengikuti langkah suaminya.
"Tuan anda baik baik saja?" tanya Davina.
"Lemas" satu kata lirih itu terucap dari mulut William saat tubuhnya benar benar lemas sekarang.
William sekarang sudah kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan bantuan Max dan pak Mun sedangkan Davina entah kemana karena ia langsung keluar begitu saja tanpa pamit.
"Apa tidak sebaiknya kita hubungi dokter Hermawan?" saran pak Mun.
"Tapi tuan William kekeh tidak mau di periksa" jawab Max.
Sedangkan Davina kembali masuk ke dalam kamar William dengan secangkir air jahe hangat di tangannya, ia menundukan tubuhnya di samping tubuh William mengoyangkan goyangkan bahu William pelan agar dirinya membuka matanya.
"Saya bawakan air jahe untuk anda tuan" Davina membantu William untuk meminum air jahe buatannya karena dirinya juga sering mengonsumsi air jahe itu sesuai dengan saran dokter untuk menghilangkan mualnya dan itu berhasil.
"Pelan pelan" Davina kembali merebahkan tubuh William dengan pelan.
Sesaat setelah meminum air jahe buatan Davina William merasa perutnya sudah tidak bergejolak seperti tadi. di perhatikannya Davina yang tengah memijat kakinya dengan begitu lembut tapi dengan cepat William mengalihkan pandangan ke arah lain tidak mau berlama lama melihat wajah Davina.
__ADS_1