
"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" suara berat itu memberhentikan langkah Davina yang baru saja melewati ruang tamu.
Davina membalikan badannya menatap wajah William yang berjalan ke arahnya, sekilas mata Davina menatap jam besar yang ada di ruangan itu yang menunjuk pukul sembilan malam dan dirinya baru sampai rumah.
"Maaf tuan" Davina memilih menundukan kepalanya tidak berani menatap wajah William.
"Apa sekarang perkejaan mu berubah menjadi wanita malam?"
Davina memilih diam tanpa menjawab hinaan yang di lontarkan William padannya.
William yang tidak suka dengan orang yang tidak menjawab ucapannya mendongak wajah Davina dengan cengkraman kuat dagunya. "Jawab!"
Davina hanya bisa menggelengkan kepalanya karena cengkraman William yang begitu kuat membuatnya tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun dari dalam mulutnya.
William menatap rendah tubuh Davina yang ada di hadapannya. "Aku jadi penasaran berapa harga untuk tubuh mu ini" ucap William seringai licik di wajahnya.
Davina yang hari ini sudah sangat lelah melepas tangan William dari dagunya begitu saja membuat William menatap tajam apa yang baru saja Davina lakukan.
"Harus berapa ratus kali saya bilang sama anda tuan kalo saya buka wanita MURAHAN!" tekan Davina pada kalimat terakhirnya, ia tidak suka dikatakan murahan oleh William yang secara tidak langsung menyamakannya dengan wanita-wanitanya.
"Anda tau tuan?, karena berita tadi siang saya baru saja kehilangan pekerjaan saya!, pekerjaan yang sangat-sangat saya butuhkan untuk menopang kehidupan saya dan anak saya nantinya!"
__ADS_1
"Mungkin berita itu tidak berdampak sedikitpun pada kehidupan anda!, tapi berita itu sangat-sangat berdampak buruk pada kehidupan saya!" air mata Davina jatuh begitu saja dari kedua bola matanya. Lelah...Davina sangat lelah hari ini dari batinnya yang di kuras habis habisan, pikirannya yang pusing mencari pekerjaan sana-sini, badannya yang mulai lemas karena belum makan apapun sampai saat ini menyempurnakan kesedihannya.
"Kalo anda terus menatap saya sebagai wanita murahan kenapa anda tidak menceraikan saya saja tuan? kenapa anda malah menyiksa saya setiap harinya? saya manusia tuan saya punya hati, saya punya perasaan dan saya punya batas kesabaran!"
"Jangan pernah bermimpi kalo aku akan menceraikan mu! karena sampai kapanpun hall itu tidak akan terjadi!"potong William.
Sudut bibir Davina membentuk sebuah senyuman saat mendengar hall itu geli rasanya saat mendengar pria Casanova seperti William mengucapkan hall itu. "Kenapa tuan? bukankah derajat saya lebih rendah dari wanita-wanita anda itu? terus apa gunanya anda masih mempertanyakan saya?"
William terdiam tidak bisa menjawab ucapan Davina ia juga tidak tau kenapa dirinya bisa berkata seperti itu, kata-kata itu keluar begitu saja dari dalam mulutnya yang tidak suka dengan ucapan pisah yang di lontarkan gadis itu.
"Atau anda memilih untuk membunuh saya dan anak saya tuan?" tanya Davina sekali lagi tapi tidak mendapatkan jawaban dari William.
"Kalo begitu lakukan sekarang tuan! saya lebih baik mati malam ini bersama anak saya dari pada saya harus merasakan neraka di dekat anda setiap harinya!"
"Bunuh saya tuan" ucap Davina dengan suara lelahnya.
William menatap tak percaya wajah Davina, wajah yang selalu terlihat baik-baik saja dihapannya kini harus terlihat sangat kacau. William membuang asal kaca di tangannya.
"Aku akan membunuhmu dengan cara lain!" ucap William langsung mengendong tubuh Davina ke lantai dua.
"Tuan lepas!" Davina memukul-mukul tubuh William dengan kuat tapi sepertinya pukulan Davina tidak berpengaruh sama sekali pada William.
__ADS_1
William membuka pintu kamarnya membawa Davina lebih masuk lagi dan menjatuhkan tubuh itu ke atas kasur, Davina yang mulai ketakutan memundurkan tubuhnya saat melihat William melepas semua pakaiannya.
"An-anda mau apa tuan?" Suara Davina bergetar menahan takut saat William berjalan ke arahnya.
Sringai licik timbul di sudut bibir William saat melihat gadis itu ketakutan. "Kenapa? bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk membunuh mu? tapi kenapa kamu malah ketakutan seperti ini?".
Davina mengelengkan kepalanya saat tubuhnya sudah menyentuh headboar tempat tidur. "Ja-jangan tuan" pinta Davina yang sudah tidak bisa kabur lagi.
"Kita sudah melakukan ini berulang kali kenapa harus jangan?" Dengan gerakan cepat William menarik tangan Davina dengan tangan yang satunya lagi memegang tengkuk leher Davina ******* habis bibir merah itu.
Davina memukul-mukul dada William berusaha menjauhkan diri dari tubuh kekar pria itu, tapi usahanya sia-sia saat William membaringkan tubuhnya dan langsung mendapatkan serangan dari William yang membuat Davina tidak bisa menghindar.
"Jangan tegang, nikmati saja setiap sensasinya" ucap William dengan suara menggodanya tepat di telinga Davina.
"Ja-jangan tuan" Davina mendorong tubuh William agar menyingkir dari atasannya.
"Nikmati saja" lanjut William yang langsung membuka paksa baju Davina satu persatu walau agak susah saat Davina terus berontak William kali ini tidak menggunakan kekerasan untuk memberikan pelajaran pada wanita itu.
Davina menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya saat tubuhnya sudah benar-benar polos tanpa sehelai benang pun. "Biarkan saya pergi tuan" ucap Davina menahan dada William saat pria itu memajukan tubuhnya.
William tidak menjawab ucapan Davina, pria bertubuh kekar itu meraup apa yang bisa ia jangkau membuat Davina tidak bisa menahan suara desahannya lagi.
__ADS_1
"Aaa...."
Malam ini kamar William di penuhi dengan suara ******* kedua orang yang tengah memadu kasih. dengan Davina yang perlahan mulai pasrah akan apa yang di lakukan William padanya.