
Selesai menembus resep di apotik Davina cepat cepat keluar dari rumah sakit saat beberapakali orang yang ia lewati menatapnya dengan tatapan sinis membuat Davina tidak betah berlama lamaan di sana, setelah keluar dari dalam rumah sakit Davina memutuskan untuk mampir di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah sakit.
Davina melangkahkan kakinya dengan santai di sepanjang trotoar khusus penguna kaki, kondisi taman yang tidak terlalu ramai membuat bangku bangku taman terlihat sangat longgar karena cuma ada beberapa pengunjung yang ingin mencari ketenangan seperti Davina saat ini.
Davina mendudukan tubuhnya di salah satu bangku taman yang letaknya di sudut taman dengan memangku tasnya, semilirnya angin menerpa pepohonan yang ada di taman tersebut membuat suasana nyaman menghampiri Davina, Davina memejamkan matanya merasakan semilirnya angin yang menerpa beberapa helai rambutnya.
Davina membuka matanya saat dirinya tertarik dengan buku yang ia pinjam di perpustakaan tadi membuat ia mengeluarkan buku itu dari dalam tasnya, membaca kalimat demi kalimat di buku itu dengan sangat serius membuat Davina sesaat lupa dengan banyaknya masalah yang menghampirinya.
"Makan dengan porsi lebih sedikit, namun sering., konsumsi makanan yang mudah dicerna dan rendah lemak, serta hindari makanan yang pedas, berlemak, dan berbau tajam atau menyengat,perbanyak minum air putih,konsumsi air jahe hangat"
"Minum Vitamin dan susu hamil dengan teratur" tulisan yang ada di buku tersebut membuat Davina lupa kalo dia harus membeli susu hamil.
"Aku sampai lupa kalo aku harus beli susu hamil" Davina merogoh tas kuliahnya untuk melihat tinggal berapa sisa uang yang ada di dalam dompetnya.
"Tinggal segini mana cukup buat beli susu hamil" guman Davina saat tinggal beberapa lembar uang yang ada di dalam dompet milikinya.
"Tapi tidak mungkin aku tidak minum susu hamil, anak ku juga butuh gizi" ucap Davina membelai perutnya yang masih datar, dan tanpa dirinya sadari sepasang kaki melangkah mendekat ke arahnya.
"Kamu hamil?" suara itu datang dari arah depan Davina yang tengah menundukan kepalanya dengan tangan yang mengusap perutnya membuat Davina mendongakkan wajahnya.
"Kak Ali? " Davina kaget saat laki laki yang sudah lama sekali tidak ia temui sekarang berdiri tepat dihadapannya yang tengah menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Kak Ali ngapain kakak ada disini?" pertanyaan itu ia layangkan pada laki laki yang berdiri di hadapannya membuat Davina juga berdiri dari duduknya karena se ingatnya Davina laki laki yang tengah di hadapannya ini sedang meneruskan kuliahnya dan juga membantu Ayahnya mengembangkan usahanya tapi Davina lupa di mana laki laki itu melanjutkan kuliahnya.
"Kamu sudah menikah?" tanya Ali yang malah menanyakan hall lainnya pada Davina, membuat Davina meremas buku yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Kak Ali bicara apa? Vina gak ngerti" Davina berusaha menutupi ke gugup an nya.
"Jangan pura pura tidak tau Davina, sekarang jawab pertanyaan ku kamu beneran hamil? dan anak siapa tu?" Ali masih bertanya dengan Davina dengan pertanyaan yang masih sama.
"Enggak kak Vina gak hamil"
"Kamu tidak bisa bohong Vina jelas jelas tadi aku dengar sendiri kalo kamu bilang kalo kamu harus membeli susu hamil, kalo bukan untuk diri kamu sendiri buat siapa lagi?"
"Sudah aku bilang aku tidak hamil kak" jawab Davina dengan jawaban yang masih sama. "Kalo begitu Vina pulang dulu" Saat Davina melangkah melewati tubuh Ali tangan laki laki itu sudah mencengram pergelangan tangannya.
"Tunggu vin..."
"Jawab pertanyaan aku dengan jujur Vina, apa kamu beneran hamil?" Ali masih dengan kekeh ingin tau apa yang di dengarnya tadi tidak lah salah.
Dapat di lihat dengan jelas raut wajah kecewa dari wajah Ali, tadi saat ia melihat Davina dari kejauhan tadi hatinya sudah sangat berbunga bunga karena bisa bertemu kembali dengan wanita yang sudah berhasil merebut harinya itu,walau dulu Davina tidak mau menerima cintanya tapi bagi Ali tidak masalah karena ia masih memiliki banyak kesempatan, tapi semua itu hanya angan angan sesaat, saat telinganya mendengar dengan jelas kalo Davina mengucapkan kalo dirinya ingin membeli susu hamil apa lagi tangan Davina yang mengusap perutnya membuatnya bisa menebak dengan cepat wanita di hadapannya ini tengah mengandung.
"Jangan bohong Vina!"
"Vina gak bohong kak, Vina beneran gak hamil"
"Gak aku gak percaya, aku cuma butuh jawaban jujur dari kamu atas omongan kamu tadi"
"Vina tidak meminta kakak untuk percaya atau tidaknya dengan Vina, lagian ini bukan urusan kakak karena kita tidak punya hubungan apa apa"
__ADS_1
"Tapi kakak sayang sama Vina"
"Tapi Vina enggak kak!" suara Vina membuat hati laki laki itu tiba tiba terasa sangat sakit.
Bukan hanya Ali sendiri yang menahan rasa sakit di hatinya Davina juga menahan rasa sakit saat ia harus dengan terpaksa bilang seperti itu pada laki laki di hadapannya, karena pada kenyataannya hati Davina masih menaruh rasa cinta dengan laki laki di hadapannya itu.
Tapi sekarang ia harus mengubur dalam dalam perasaan itu, karena ia tidak mungkin masih mencinta laki laki lain saat setatusnya saja sudah resmi istri William dan tengah mengandung anaknya.
"Gak,kamu pasti bohong kan? kakak yakin kalo sampai detik ini kamu masih mencintai kakak" Ucap Ali dengan sangat yakin bahwa Wanita di hadapannya masih menaruh rasa padanya.
"Buat apa Vina berbohong sama kakak?" hati Davina begitu terasa sangat sakit saat mulut dan hatinya harus berkata hall yang berbeda.
"Kalo gitu kasih kakak satu alasan kenapa kamu sudah tidak cinta lagi dengan kakak secepat ini?"
"Karena memang kita tidak berjodoh kak"
"Alasan macam apa itu vin?" ucap Ali saat ucapan tidak berguna itu keluar dari mulut wanita yang ia cintai.
"Sudahlah kak, lupakan Vina karena di luar sana banyak wanita baik dan sempurna yang lebih pantas untuk kak Ali dari pada Vina yang hanya anak tukang penjualan gorengan"
"Karena pada kenyataannya kita tidak akan pernah bersatu tidak akan pernah kak"
"Dan Vina harap ini pertemuan pertama dan terakhir kali kita kakak, dan semoga setelah ini tidak ada lagi pertemuan selanjutnya" Ujar Davina sebelum akhirnya ia melangkah kan kakinya dengan cepat meninggalkan Ali yang masih berdiri di tempatnya dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
"Vina jangan pergi vin"
"VINA" teriak Ali dengan sangat kencang saat Davina sudah berjalan dengan sangat jauh.