Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 54


__ADS_3

"Max apa aku rasa bulan ini aku tidak bisa mengunjungi proyek itu jadi bulan ini yang akan berkunjung kesana kamu saja" Ucap William melangkah keluar dari dalam restoran setelah melakukan pembahasan dengan tuan Garda.


Max menganggukan kepalanya mengikuti langkah kaki William yang pergi dari dalam restoran. "Baik tuan"


"Kau bisa mengirimkan perkembangan proyek itu melalui e-mail ku nanti"


"Baik tuan, tapi kalo boleh saya tau apa anda sudah menyiapkan disain proyek yang ingin anda rubah sesuai keinginan tuan Garda?" tanya Max saat tuan Garda tadi meminta sedikit perubahan dalam proyeknya.


"Belum nanti akan aku bahas oleh arsitek nya, lagi pula proyek ini bukan proyek main-main jadi saya ingin proyek ini selesai sesuai dengan apa yang di inginkan tuan garda"


"Baik tuan" jawab Max dan di lanjutin membahas hall yang lain mengenai pekerjaan.


"Tuan William?" panggil seseorang dari arah belakang membuat William dan Max menghentikan langkah kakinya.


Keduanya membalikan badan mereka terlihat dimana Bram yang berdiri tidak jauh dari keduanyaya dengan tersenyum saat atasan dan sistem itu melihatnya dengan tatapan penuh kebingungan.


"Apa kabar tuan William? tuan Max?" tanyanya basa basa-basi setelah sampai di hadapan William dan Max.


Max hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab sapaan Bram.


Beda hallnya yang dilakukan Max William menatap malas pria itu. "Mau apa kamu disini?"tanya William yang tidak suka kehadiran orang yang ada di hadapannya itu.


Bram melirik kanan dan kiri baru kembali menatap William. "Ini tempat umum tuan William siapa pun boleh datang kesini termasuk diriku bukan?" ujarnya dengan menampilkan senyuman mengejek ke arah William.


"Apa anda kesini baru saja bertemu dengan tuan Garda?"


"Bukan urusan anda!"


Ujung bibir Bram tertarik saat mendapatkan jawaban sombong keluar dari mulut William. "Anda tau tuan William bertemu anda disini merupakan anugrah terbesar yang di berikan tuhan kepada saya setelah sekian lamanya kita tidak bertemu" lanjutnya dan itu membuat William muak dengan omong kosong pria dihadapannya ini.


"Apa anda tidak punya pekerjaan lain selain mengucapkan omong kosong anda itu?" tanya William dan hanya mendapatkan gelengan dan kekehhan Bram.


"Buang-buang waktu!" ucap William dan berniat meninggalkan Bram di ikuti Max.


Baru beberapa langkah dirinya berjalan menjauh dari Bram suara pria itu kembali terdengar membuat langkahnya kembali terhenti.

__ADS_1


"Selamat untuk kehamilan istri anda tuan William!" teriak Bram saat William melangkah menjauh dari dirinya.


William yang mendengar ucapan pria itu langsung membalikkan badannya terlihat Bram tersenyum penuh kemenangan setelah mengatakan hall itu.


"Dari mana pria brengsek itu tau?!" tangan William terkepal dengan sangat kuat di sisi tubuhnya.


"Kenapa tuan Bram bisa tau? bahkan selama ini yang tau akan hall ini hanyalah orang-orang tertentu" bukan hanya William yang di buat kaget oleh ucapan pria itu, Max yang berdiri di samping William juga tidak kalah kagetnya mendengar rahasia terbesar William bisa tersebar luas deeper ini.


Bram yang melihat William hanya diam saja kembali melangkahkan ke arah keduanya, di tepuknya pelan pundak William. "Terlihat seperti jomblo, bergerak menghamili gadis belasan tahun, bukan main tuan William"


"Bahkan tuan Bram tau kalo Davina masih berumur belasan tahun, sampai mana pria ini tau akan hall itu?"


"Jaga ucapan anda tuan karena saya tidak menghamili siapapun disini!" ucap William berusaha mengontrol emosinya.


"Benarkah? tapi sayang saya tidak percaya dengan ucapan anda" ucap tuan Bram dengan memasukan tangannya di saku celana.


"Lebih baik anda pergi dari sini sebelum saya membawa anda ke kantor polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik" tegas William dengan menunjuk arah lain memerintah pria itu segera pergi dari hadapannya.


"Sabar tuan William jangan terburu-buru seperti itu, kita baru saja ketemu bukankah lebih baik kita berbincang-bincang dulu?"


"Pergi!" potong William.


William yang melihat pria itu malah mengotak ngatik ponselnya dengegus kasar.


"Bukankah ini anda?" tanya Bram menunjukkan foto yang ada di ponselnya dimana terlihat dirinya dan Davina sedang berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan.


William yang tadinya membuang pandangan ke arah lain beralih menatap layar ponsel yang ada di tangan Bram, kornea mata William membulat sempurna untuk sesaat saat melihat apa yang ada di dalam sana sebelum akhirnya William kembali menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat kaget.


"Sial! apa selama ini pria brengsek ini memata-matai ku?"


Bukan hanya satu foto yang di tunjukkan Bram kepada William melainkan ada lima gambar foto di tempat yang berbeda dan itu membuat William menujukan senyuman misteriusnya.


"Apa anda percaya kalo dia istri saya?" tanya William dengan menunjuk layar ponsel milik Bram.


"Tentu" jawab Bram penuh percaya diri.

__ADS_1


"Hanya orang bodoh yang mempercayai gambar itu tanpa mengetahui asal-usulnya" ejek William.


Emosi Bram terpancing saat mendengar kata-kata William, niatnya membuat William merasakan takut malah dirinya yang mendapatkan serangan balik dari William.


"Anda salah tuan Bram saat mencari musuh,apa anda berniat menakut-nakuti saya disini?" tanya William membuat Bram langsung bungkam begitu saja.


"Kalo anda ingin mencari masalah dengan saya seharusnya anda pintar-pintar mencari bahan untuk mengancam saya, bukan bermain seperti anak kecil seperti ini" kini gantian William menepuk pundak Bram sebelum membalikan badannya.


"Ah satu lagi" ucap William yang kembali menatap wajah Bram yang menatapnya dengan tajam.


"Saya tegaskan sama anda bahwa Wanita yang ada di dalam foto itu bukan istri saya melainkan pelayanan saya, dan apa ide anda untuk balas dendam pada saya sudah habis? sehingga anda membawa-bawa pelayanan dirumah saya?" lanjut William saat melihat ekspresi kemarahan dari raut wajah Bram.


"Kenapa sekalian anda tidak membawa penjaga rumah saya untuk menakut nakuti saya?" ejek William yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Bram yang terbakar api amarah di tempatnya.


***


Di sebuah gedung pencakar langit tepatnya di ruang William, William meluapkan semua emosinya yang ia pendam sejak tadi.


"Dari mana pria itu tau kalo Davina istriku!" raung William memenuhinya seisi ruangannya.


"Sepertinya tuan Bram berencana untuk balas dendam pada anda atas kejadian enam bulan yang lalu saat anda mengungkapkan kebusukannya pada semua orang, karena setelah kejadian itu saya mendengar tuan Bram sulit untuk mendapatkan proyek karena semakin sedikit perusahaan yang mempercayakan dirinya"


Brak....


William memukul meja kebesarannya dengan sangat kencang membuat Max terperanjat kaget.


"Aku seneng kalo perusahannya itu sudah tidak mendapatkan kepercayaan dari orang lain"


"Tapi aku tau Bram mencari informasi itu untuk melakukan suatu rencana!" William mengepalkan tangannya begitu kuat di atas meja kebesarannya.


Beralih menatap Max yang berdiri di depan meja kebesarannya. "Pastikan semua stasiun televisi ataupun media sosial lainnya untuk tidak menerima apapun yang di berikan oleh Brawijaya Company"


"Ta-tapi buat apa tuan?" tanya Max yang tidak tau maksud William.


"Apa kau sudah lupa ingatan? atau kau buta Max?! jelas-jelas tadi si brengsek itu menunjukan foto diriku dengan Davina di salah satu swalayan dan aku tidak ingin berita tidak tidak beredar di mana-mana!"

__ADS_1


"Baik tuan" Akhirnya Max paham apa yang di maksud atasannya itu memang sekarang untuk membuka aib seseorang sangat gampang dengan adanya internet yang hanya membutuhkan waktu tidak kurang dari satu menit berita itu bisa berkembang luas di masyarakat.


"Kalo begitu saya permisi tuan" Max langsung mengundurkan diri ruangan William untuk menjalankan apa yang di perintahkan atasannya itu.


__ADS_2