
Hari semakin larut dan jam menunjukan pukul sembilan malam, dimana kondisi kantor sudah sangat sepi, semua para pegawai sudah pulang saat jam kantor tadi, menyisihkan dua satpam kantor yang masih berjaga di depan pintu kantor.
Walau jam menunjukkan pukul sembilan malam, William seperti enggan untuk pulang kerumahnya, ia lebih memilih berdiri di sisi kaca di ruangannya, melihat beberapa lalu lalang kendaraan di bawah sana, sesekali William menatap langit dari jendela ruangannya memperlihatkan kelap kelip bintang yang menghiasi langit malam.
Entah kenapa baru kali ini William saat mempunyai masalah tidak tertarik sama sekali dengan wanita wanitanya, biasanya William akan melampiaskan kemarahannya dengan memacu lawan jenisnya di atas ranjang sampai mereka yang kewalahan menghadapi tenaga William.
"Tuan" panggil seseorang dari belakang William, membuat William mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara, di mana terlihat Max yang masuk ke dalam ruangannya dengan memegang sebuah kotak di tangannya.
"Kamu tidak pulang Max?" tanya William dengan tatapan yang kembali menatap langit malam.
"Tadi saya berniat akan pulang tapi saat melihat lampu ruangan anda masih menyala saya yakin, anda masih berada di sini, dan saya juga membawakan makam malam buat anda tuan" kata Max yang perlahan berjalan ke arah meja kerja William dan menaruh kotak yang berisi makanan yang baru saja ia order dari aplikasi di hp nya.
"Saya tau anda belum makan tuan, maka saya membawakan anda makan malam" kata Max lagi saat tidak mendapatkan jawaban dari William yang masih asik menatap langit malam.
Dan William masih memilih untuk diam tidak menjawab pertanyaan Max, karena ia lebih tertarik dengan langit malam dari pada ucapan Max yang membawakannya makan malam.
"Anda kenapa tuan? apa anda punya masalah?" tanya Max yang sudah berdiri di samping William yang tengah menatap keluar jendela.
"Tidak"
"Mulut anda memang bisa bilang tidak tuan, tapi tubuh anda bilangan iyah" kata Max membuat William beralih menatap Max yang sudah berdiri di sampingnya.
"Hah..." William menghela nafas panjang dan berjalan ke arah arah meja kebesarannya, bersamaan dengan Max yang juga ikut duduk di depan William dengan meja yang jadi penghalangnya.
"Davina hamil" kata William memecah keheningan yang timbul di ruangan itu, membuat Max menajamkan pendengarannya, memastikan telinganya tidak salah menangkap informasi.
"A-apa tuan?" tanya Max memberanikan diri menanyakan ulang ucapan atasannya itu.
"Davina hamil" kata William kembali sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya.
Max yang mendengar itu membulatkan matanya, Davina masih terlalu muda untuk hamil di usianya yang masih belas an,tapi Max yakin atasannya itu tidak memikirkan umur saat melakukan hubungan ****, tapi di satu sisi ia senang saat Davina hamil, berharap anak yang ada di kandungannya itu bisa merubah sifat William yang suka gonta ganti pasangan saat melakukan hubungan **** sampai sekarang.
"Aku berniat untuk mengugurkan anak itu tapi Davina dengan keras berusaha mempertahankan keberadaan anak itu" kata William lagi.
"M-mengugurkan tuan?" tanya Max dengan tatapan tidak percaya, kalo William mempunyai niat sejahat itu sampai membunuh janin yang tidak berdosa sama sekali.
"Karena aku tidak mau mempunyai anak dari seorang pelayan di rumah ku!" kata William menekan kalimat pelayan.
"T-tapi tuan nona Davina itu istri anda"
"Istri di atas kertas!" ralat William dengan cepat. "Aku menikahinya bukan karena cinta melainkan balas budi karena aku sudah menolongnya dari segrombolan pereman yang mau menyakitinya"
"Tapi tuan bagaimana pun sekarang Nona Davina sudah resmi menjadi istri anda yang dengan jelas tengah mengandung anak anda"
"Anda mau kemana tuan?" tanya Max saat William berdiri dari kursi kebesarannya, dan ingin melangkah pergi.
"Pulang" jawab William singkat membuat Max juga dengan cepat berdiri dari duduknya mengikuti langkah William yang ingin keluar dari dalam ruangannya.
***
__ADS_1
Sedangkan di Mansion William Davina tengah menunggu kedatangan suaminya saat pak Mun mendapatkan kabar dari Max kalo William lima belas menit lagi akan sampai di Mansion, membuat para pelayan, pak Mun dan Davina menunggu kedatangannya di teras rumah.
Angin malam yang terasa begitu dingin membuat Davina sesekali mengusap kedua lengannya saat angin itu menerpa tubuhnya, Davina merutuki kebodohannya saat ia lupa membawa switer miliknya, mengingat angin malam tidak bagus untuk ibu hamil. mata Davina yang tadinya sibuk menatap dedaunan yang di terpa angin malam beralih menatap para pelayan William yang mengunakan baju yang sangat sexy yang memperlihatkan lengan dan paha mulus mereka, dan tidak ada satupun dari mereka.
"Apa mereka tidak merasa kedinginan dengan pakaian seperti itu?" batin Davina saat para pelayan William hanya diam saja, seakan akan mereka tidak menghiraukan angin malam yang menusuk tulang mereka.
"Dan apa peraturan di rumah ini pelayanan harus memakai pakaian yang begitu sexy seperti itu? dan apa mereka tidak malu di lihat para penjaga di rumah ini?"
Suara mobil yang berhenti tepat di depan mereka membuat Davina beralih menatap ke depan di mana dengan sigap Max membukakan pintu belakang mobil untuk William, William yang keluar dari dalam mobil membuat tatapan mata William dan Davina sesaat bertemu satu sama lain, mereka tidak menghiraukan suara sambutan dari para pelayan yang menyambut kedatangan William.
Entah apa arti dari tatapan mata itu, yang jelas tatapan mata itu tidak mengisyaratkan kebahagiaan sedikit pun saat ini, Keduanya masih sibuk dengan pikiran mereka masing masing tidak menghiraukan orang orang yang berada di sana yang tengah menatap keduanya secara bergantian.
Davina yang masih sedikit mempunyai rasa takut dengan William karena perlakukannya tadi pagi buru buru mengalihkan pandangannya ke arah lain, sedangkan William yang melihat Davina mengalihkan pandangannya masih menatap Davina yang menatap arah lain.
"Apa dia masih marah dengan ku?"
"Kenapa tiba tiba aku peduli dengannya? mau dia marah atau apapun itu bukan urusan ku! karena aku memang tidak menginginkan anak dari dirinya sampai kapan pun!"
"Tuan?" suara Max membuat William dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumahnya di ikuti para pelayannya termasuk Davina yang juga ikut masuk ke dalam rumah, sedangkan Max yang melihat William sudah masuk ke dalam rumah kembali ke dalam mobil dan mengendarinya meninggalkan halaman rumah William.
"Lepas sepatuku!" perintah William dengan menatap Davina yang ikut berdiri dengan para pelayannya.
Davina yang sedari tadi hanya menundukkan wajahnya tidak berani menatap wajah William mendapatkan senggolan dari pelayan yang berdiri tepat di sampingnya membuat Davina menoleh ke samping.
"Kenapa?" tanya Davina.
"Di panggil tuan William" kata pelayanan tersebut membuat Davina beralih menatap William yang tengah menatapnya.
"Apa kau tidak dengar aku bilang apa tadi?" tanya William membuat Davina mengelengkan kepalanya tanda ia tidak mendengar suara William yang memanggilnya.
"Lepas sepatuku!" kata William sekali lagi mengulangi perkataannya dengan tangan yang mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jas.
"L-lepas sepatu tuan?" kata Davina terbata bata, membuat William beralih menatap Davina.
"Apa kau keberatan?"
"T-tidak tuan" kata Davina yang langsung menghampiri William yang tengah duduk di sofa, Davina mendudukan tubuhnya di atas karpet dengan tangan yang melepaskan sepatu William yang ia kenakan berserta kaos kakinya.
"Nona Davina seperti istri rasa pembantu ya"
"Iyah, setatusnya saja yang sebagai istri tuan william tapi tugasnya tidak jauh berbeda dengan kita"
"Iyah betul, kalo gitu apa bedanya"
"Bedanya kita mendapatkan gaji yang lumayan besar sedangkan nona Davina tidak di bayar sama sekali"
"Kasian ya"
"Ngapain harus kasihan, toh bukan kita yang jadi Nona Davina"
__ADS_1
Davina yang masih melepaskan sepatu dari kaki William, mendengar semua pembicaraan para pelayan yang tengah membicarakannya dari belakang, luka yang tadi pagi belum sembuh kembali lagi di torehkan oleh para pelayan yang mencibirnya di belakang, Davina sekuat tenaga berusaha agar tidak menumpahkan air matanya untuk malam ini, biarkan satu kali ini saja air matanya itu tidak menunjukan bahwa dirinya benar benar rapuh.
Davina meraih sendal rumahan yang biasa di pakai William dan memakaikannya di kaki suaminya itu, "Sudah tuan" kata Davina yang berbicara dengan menundukkan wajahnya.
William yang mendengar ucapan Davina langsung berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ke meja makan, karena perutnya yang sudah minta di isi dari tadi membuatnya memutuskan untuk makan terlebih dahulu, seperti tadi para pelayan dengan sigap mengikuti William di belakang dan Davina juga terpaksa harus ikut dengan mereka menuju meja makan.
Seperti biasanya Davina mengambilkan makanan untuk William yang setiap hari ia lakukan, Davina yang melihat deretan makanan yang begitu lezat tiba tiba perutnya berbunyi minta di isi, dengan cepat Davina memegang perutnya yang berbunyi mungkin anaknya lapar karena Davina belum makan malam.
"Silahkan tuan" kata Davina menaruh satu piring nasi yang sudah komplit dengan lauk i dalamnya.
"Kau lapar?" Tanya William saat mendengar suara perut Davina berbunyi.
"Sedikit tuan" jawab Davina.
"Kau ingin makan?" tanya William lagi tanpa menatap wajah Davina.
"I-iyah tuan" jawab Davina karena perutnya memang sudah terasa sangat lapar.
"Kalo begitu kamu bisa makan sisaku nanti" kata William tanpa rasa bersalah saat berkata seperti pada Davina.
"S-sisa tuan?" tanya Davina tidak percaya dengan ucapan suaminya itu, dan matanya beralih pada deretan makanan yang begitu banyak di atas meja.
"Maksudnya sisa makanan ini tuan?" tanya Davina sambil menunjuk deretan makanan yang tertata rapi.
"Apa kau pikir aku akan memberikannya kepada mu?" tanya William menatap Davina dengan sinis sebelum kembali menatap piringnya.
"Terus tuan?" tanya Davina bingung, William yang sudah kenyang membersihkan mulutnya dengan tisu sebelum menatap Davina.
"Kau ingin makan bukan?"
"Iyah tuan"
"Makanlah" kata William mengarahkan piringnya ke arah Davina dimana di dalam piring itu masih ada sisa dari William, Davina tidak menyangka bahwa sisa yang di maksud suaminya itu adalah sisa makanan di piringnya.
"Kenapa diam? bukankah tadi kau ingin makan?" kata William saat" melihat Davina hanya diam dengan mata yang melihat piring yang ia sodorkan ke arahnya.
"T-tapi tuan"
"Makan!" kata William tidak ingin di bantah.
Davina mendudukan tubuhnya di kursi samping William, sesaat mata Davina mantap makanan yang ada di piring suaminya itu sebelum akhirnya ia menyendokkan makanan ke dalam mulutnya dengan wajah yang tertunduk, air mata yang tadi ia tahan sekuat tenaga sudah tidak bisa ia tahan lagi, air mata itu satu persatu berjatuhan tepat di dalam piring.
"Enak?" tanya William yang hanya mendapatkan anggukan dari Davina.
"Kalo enak mulai sekarang dan seterusnya, kamu bisa memakan makanan sisaku" kata William yang langsung meninggalkan Davina di meja makan yang masih menundukan kepalanya.
Semua pelayan meninggalkan Davina saat William memutuskan untuk naik ke lantai dua di ikuti pak Mun di belakangnya, sekarang tinggal Davina sendirian di meja makan, perut Davina yang sangat lapar membuat Davina masih menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya dengan deretan air mata yang membanjiri pipinya.
Rasa perih dan sakit di hatinya semakin menjadi saat ia memaksakan makanan itu untuk terus masuk ke dalam perutnya yang terasa begitu lapar karena satu hari ini Davina harus bolak balik kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, sampai Davina meletakan kembali sendok tersebut saat mulutnya tidak lagi kuat untuk mengunyah makanan karena isakan tangis yang mulai terdengar.
__ADS_1
"Mama minta maaf sayang" kata Davina lirih dengan bibir yang bergetar karena isakan tangisannya dengan tangan yang mengusap perutnya.