Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 64


__ADS_3

Membuka perlahan kelopak matanya William menyambut dunia baru yang akan ia mulai dengan gadis yang tengah tertidur sangat pulas di lengan kekarnya, wajah Davina yang tengah tertidur seperti bayi di dalam pelukannya membuat William mengukir senyuman menyingkir anak rambut yang menutupi wajah cantik itu William baru benar-benar menyadari kalo Davina bisa memiliki wajah secantik ini karena selama ini ia sibuk mencari kesalahan pada gadis itu tanpa bisa melihat sisi yang lainnya.


Davina yang merasa terusik dengan tangan William mengerjap kan matanya, "Kamu sudah bangun?" Davina menaikan pandangannya ke arah William yang tengah menatapnya dengan tersenyum.


"Aaaa" Refleks Davina langsung mendudukan tubuhnya menarik selimut sampai batas dada karena tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun.


"Kamu kenapa?" ikut mendudukan tubuhnya William menatap Davina yang terlihat ketakutan.


"A-apa yang anda lakukan tuan?"


Menunjukan wajah bodohnya William menatap tak percaya gadis itu bagaimana bisa ia melupakan malam indah mereka untuk pertama kalinya. "Apa kamu lupa?"


"Lupa?" Davina meremas selimut di tangannya memikirkan apa yang sudah terjadi tadi malam tadi sampai otaknya baru mengingat akan apa yang sudah ia lakukan dengan pria itu. Menepuk jidatnya pelan Davina cengengesan sendiri.


"Sudah ingat?"


"Sudah tuan" jawabannya lirih.


Menarik tangan gadis itu agar masuk ke dalam pelukannya William mengunci tubuh gadis itu agar tidak bisa pergi ke mana-mana. "Siapa yang menyuruhmu memanggil ku dengan sebutan tuan?"


"Te-terus saya harus memanggil anda apa?"


"Jadi gini ya rasanya punya istri yang masih bocil" mencoba sabar William menarik rafasnya panjang.


"Panggil sayang!" melepaskan pelukannya dari William Davina mengelengkan kepalanya. "Tidak mu?"


"Bukan" Salah tingkah sendiri Davina mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Panggil sayang atau kita lakukan yang tadi malam!" dengan gerakan cepat William mengungkung tubuh mungil Davina.


"Tuan lepas!"


"Panggil sayang!" suara penuh tekanan itu membuat Davina menelan salivanya karena ia tidak terbiasa memanggil orang dengan sebutan mesra seperti itu.


"Sa-sayang" setalah mengatakan hall itu Davina langsung menutup matanya dengan rapat rasanya malu sekali memanggil suami sendiri dengan sebutan seperti itu.


Merasa senang dengan ucapan gadis itu William membelai wajah putih tersebut. "Kamu tidak kerja?" tanya William dengan posisi yang masih sama.


Mendengar pertanyaan itu Davina baru sadar kalo dirinya harus kerja membuka matanya ia menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul tujuh pagi, mendorong tubuh William agar menjauh Davina bangkit dari tidurnya dengan menarik selimut. Beruntung saat gadis itu mendorongnya ia masih ada di atas kasur yang empuk.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" melihat Davina yang membalut tubuhnya dengan selimut William menatap gadis itu bingung.


"Saya harus kerja tuan". "Maaf maksud saya sa-sayang" tersenyum kaku Davina melanjutkan langkahnya.


"Kau mau keluar pakai selimut seperti itu?"


Davina yang sudah berada di dekat pintu menatap penampilannya, apa yang di katakan William memang benar tidak mungkin ia keluar dengan keadaan seperti ini apa lagi ini sudah pagi dan pasti pegawai rumah sudah melakukan tugas mereka masing-masing.


Merasa tangan kekar melilit pinggangnya membuat Davina tersadar akan lamunannya. "Kamu bisa mandi di kamar ku" ucap William dengan menghembuskan nafasnya di celuk leher Davina.


Davina yang belum terbiasa akan hall itu bergidik geli. "Ti-tidak tuan, saya bisa mandi di bawah" tolak Davina.


"Tidak ada penolakan" mengangkat tubuh itu ia membawa Davina ke dalam kamar mandi tidak memperdulikan suara gadis itu yang terus meronta untuk di turunkan.


Davina yang malu akan kejadian tadi hanya menundukkan wajahnya tidak berani menatap William yang nampak biasa saja di kursinya, pak Mun yang merasakan aura yang berbeda dari William menatap pasangan suami istri itu secara bergantian. Berbeda dengan Tanti wanita itu mencibir di dalam hati saat melihat kedekatan anak dan pembantu itu semakin akrab.


"Apa kau tidak berniat berhenti bekerja?"


"Nanti saya akan berhenti jika usia kandungan saya udah masuk delapan bulan"


"Kenapa tidak sekarang saja?"


"Kalo itu mau mu, ya sudah"


Tersenyum senang Davina mengantarkan William ke depan seperti biasa, menyerahkan tas kerja suaminya pada Max ia menatap William yang tengah membenarkan setelah jasnya.


"Silahkan tuan" seperti biasa Max membukakan pintu belakang untuk William.


"Kenapa kau diam saja?" William yang melihat Davina hanya diam saja menatap gadis itu.


"A-apa ada yang ketinggalan tuan?" tanya Davina memastikan karena sepertinya semuanya sudah ia lakukan terus apa yang kurang?.


"Kau tidak tau kewajiban seorang istri?" kini Davina di buat benar-benar bingung akan ucapan William, kewajiban apa yang ia maksud?, bukankah selama ini ia sudah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri?, terus apa yang tidak ia tahu?.


"Ck..." William berdecak kesal saat Davina masih diam saja, menyodorkan tangannya ke arah Davina membuat gadis itu hanya menatap tangannya. "Cium!, kenapa diam saja?!"


Semua orang menatap tak percaya ke arah William yang mengizinkan Davina untuk pertama kalinya mencium punggung tangannya. Tidak ingin kehilangan kesempatan itu Davina langsung meraih tangan William dan ciumnya punggung tangan tersebut dengan lembut.


Melihat Davina yang sudah melepaskan ciuman tangannya berjalan satu langkah ke arah gadis itu menundukan wajahnya sedikit William mendaratkan bibirnya ke kening Davina untuk pertama kalinya. Benda tanpa tulang itu mendarat sempurna di keningnya membuat jantung Davina tidak aman saat ini rasanya seperti ada ribuan kembang api meletus-letus di dalamnya. menjauhkan wajahnya William bisa melihat wajah Davina yang mulai merona merah dan itu membuat wajah tanpa poles itu semakin cantik.

__ADS_1


Melirik sekilas ke arah bawah ia menatap sejenak perut buncit yang tengah mengandung darah dagingnya membuat William ingin sekali mendaratkan satu kecupan di sana. Karena tidak berani melakukan hall itu William hanya bisa menatapnya dengan mengucapkan kata-kata yang bisa membuat harinya tenang. Baru sekarang ia baru sadar betapa berengsek nya dulu yang dengan tega hampir ingin melenyapkan darah dagingnya sendiri hanya karena ia tidak bisa menerima Davina yang mengandung anaknya.


"Aku berangkat dulu" melangkah ke arah pintu mobil dengan Max yang sudah menunggu dirinya di sana.


"Tunggu" cegah Davina.


"Apa?"


"Ada yang ketinggalan"


"Apa?"


Meraih tangan kekar William gadis itu mengarahkan tangan tersebut ke arah perutnya. Hangat rasanya menyelimuti hati William saat ia bisa merasakan pergerakan sang anak, air mata William jatuh tanpa di minta rasa sakit membuat dadanya terasa sesak.


"Anda kenapa?" tanya Davina yang melihat tiba-tiba William menangis saat pria itu mengusap perutnya.


"Dia nendang?" bukannya menjawab pertanyaan Davina William melayangkan pertanyaan lain.


"Iyah dia nendang, bahkan setiap saatnya dia bergerak begitu aktif di dalam sana" jawab Davina antusias.


"Hanya pria bodoh yang tidak bisa menerima anugerah besar ini" William terus menatap perut itu. Selama ini ia sudah tega menelantarkan anak dan istrinya, ia merasa ingin rasanya ia memilih mati sekarang juga dari pada harus merasakan penyesalan sedalam ini.


"Benarkah?"


"Iyah, sepertinya ia ingin cepat keluar supaya bisa bermain dengan ayahnya"


"Apa dia masih bisa menganggap ku ayah kalo anak ini tau kejadian sebenarnya?"


Menganggu antusias William berbicara pada anaknya untuk pertama kalinya. "Kamu sehat-sehat ya di dalam sampai waktunya tiba nanti"


"A-ayah sayang kamu" bibir William bergetar mengatakan kata Ayah yang mungkin lebih baik tidak ia ucapkan.


"Iyah ayah" jawab Davina menirukan suara anak kecil.


Menatap Davina yang tengah tersenyum ke arahnya, tanpa aba-aba William langsung memeluk hangat pada wanita yang sudah sabar selama ini menghadapai dirinya dengan sifat buruk yang ada di dalam dirinya dirinya.


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri hadiah 🤗♥️.

__ADS_1


__ADS_2