Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 83


__ADS_3

Setelah empat hari berada di rumah sakit hari ini Davina di perbolehkan pulang dengan pesan tidak boleh melakukan kegiatan yang bisa membuat tubuh cepat lelah mengingat luka operasi belum sepenuhnya kering dengan sempurna.


Sedangkan baby Arsalan masih harus di rawat dalam inkubator selama dua minggu kedepan untuk terus di pantau perkembangannya. Sebelum pulang Davina dan William datang ke ruang inkubator untuk melihat keadaan sang anak.


Karena tidak di perbolehkan masuk oleh dokter akhirnya William dan Davina hanya bisa menatap sang anak dari luar yang tengah menghisap jarinya sendiri.


"Apa kita tidak bisa berada di sini lebih lama?" ucap Davina dengan tangan mengusap permukaan kaca berharap sentuhan itu bisa sampai pada sang anak tapi itu sungguh mustahil.


"Kamu harus banyak-banyak istirahat di rumah, ingat kata dokter keadaan mu masih belum sembuh sepenuhnya"


"Rasanya sangat berat meninggalkan Arsalan di sini sendirian"


William yang tau rasa kegelisahan itu menundukan wajahnya menaruhnya pada pundak Davina. "Dii sini sudah ada dua teman yang akan menemani Arsalan,' dengan begitu dia tidak akan kesepian saat kita tinggal pulang" hibur William walau hiburannya tidak tidak mempan untuk Davina.


"Apa kita tidak bisa bawa pulang Arsalan?" kedengaran egois saat Davina berkata seperti itu yang mementingkan perasaannya sendiri dari pada kesehatan sang anak tapi ibu mana yang tega' meninggalkan anaknya sendirian di sini berada jauh darinya.


"Biarkan Arsalan di sini sampai dua minggu kedepan, dan saat dokter mengatakan keadaan Arsalan sudah benar-benar kuat kita akan menjemputnya dan membawa dia pulang"


"Jangan sedih kapanpun kamu mau bertemu dengan Arsalan aku akan membawamu kesini" lanjut William mencium singkat pipi Davina.


Mendapatkan anggukan dari sang istri William mendorong kursi roda Davina keluar dari' rumah sakit dimana Max sudah menunggu dirinya. Mengendong tubuh mungil Davina dari atas kursi William menaruh tubuh itu secara hati-hati di jok belakang baru dirinya yang masuk.


Di sepanjang perjalanan William yang terbiasa untuk diam kini mulai sedikit cerewet menceritakan berbagai lelucon agar sang istri tak merasa kesedihan setelah kejadian buruk yang menimpa keduanya akhir-akhir ini. Davina yang merasa William terlalu kaku untuk menceritakan lelucon tersebut hanya mengelengkan kepalanya dan sesekali dirinya menggoda William membuat keadaan mobil sedikit ramai.-


Melihat atasannya yang banyak berbicara hari ini membuat suasana hati Max juga sedikit bahagia bagaimana tidak pria itu selama ini terlalu kaku untuk berbicara apa lagi tertawa yang ada selama ini hanyalah amarah dan amukan yang ia terima.


Terlalu asik saling menggoda satu sama lain keduanya tidak sadar kalo mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti didepan mansion. Membukakan pintu belakang Max mempersilahkan William keluar terlebih dahulu baru ia membantu Davina.


"Selamat datang tuan,nona" sambut pak Mun.


Davina yang belum terbiasa di sambut seperti ini hanya tersenyum membalas sapaan pak Mun, sedangkan William memerintahkan asisten rumah tangga yang lainnya untuk mengambil barang-barang Davina di bagasi.


"Kamu mau makan apa biar aku suruh pak Mun buatkan sesuatu untuk mu" tanya William memapah Davina masuk ke dalam rumah.


"Aku tidak lapar"


"Ini sudah siang dan kamu harus makan"

__ADS_1


"Aku tidak lapar William, aku hanya butuh istirahat saja" ucap Davina mengulas senyum manisnya.


Membalikan badannya sedikit William memerintahkan pak Mun untuk membuat sup ayam untuk Davina.' Menganggukkan kepalanya pak Mun langsung melangkah kakinya menuju dapur.


"Sudah aku bilang aku tidak lapar" ucap Davina mendudukan tubuhnya perlahan di sofa.


"Mau kamu lapar atau tidak kamu harus makan, dan ingat kata dokter kalo Arsalan masih membutuhkan asi mu"


Bukannya menjawab Davina malah terkekeh dan itu membuat William sedikit kesal. "Kenapa tertawa? apa ada yang lucu?"


"Tidak, hanya saja aku merasa ini masih seperti mimpi bisa di perhatikan oleh dirimu"


"Memang kenapa aku memperhatikan dirimu? kamu istriku dan wajar aku memperlakukan mu seperti itu"


"Iyah, iyah tuan William"


"Jangan memancing ku!"


"Aku tidak memancing" elak Davina.


"Aku benar-benar ingin menghukum mu Davina!" baru saja William menarik tubuh mungil itu masuk kedalam pelukannya Pak Mun dari arah dapur membawa semangkuk sup.


"Ma-makasih pak Mun" ucap Davina terbata-bata dan masih berusaha menyingkirkan tubuh William yang semakin mempererat pelukannya.


Pak Mun yang melihat wajah malu dari sang nona akan sikap tuannya hanya terkekeh geli. "Sama-sama nona" kembali ke dapur pak Mun membiarkan kedua pasangan itu bermesraan.


"William hentikan!" Davina merasa geli saat William mencium lehernya dan ia yakin pasti itu akan meninggalkan bekas di leher putingnya.


"Sebentar lagi"


"William!" bukannya berhenti William semakin menjadi membuat Davina tidak ingin sampai hal ini berlangsung ke arah yang seperti biasa ia lakukan dengan William, memikirkan bagaimana caranya pria ini menjauh dari tubuhnya Davina berpura-pura meringis kesakitan pada perutnya.


"Auu" pekik Davina.


Mendengar pekikan dari sang istri buru-buru William melepaskan pelukannya menatap raut wajah Davina yang seperti kesakitan dengan memang perutnya. "Kenapa? apa perutmu saki? mana yang sakit? apa perlu kita ke dokter lagi?" cecer William.


"I-iyah di sini yang sakit" ucap Davina beralih memegang dadanya.

__ADS_1


"Apa rasa nyeri operasinya menjalar sampai ke dada?" tanya William dengan bodohnya dan itu membuat Davina menahan tawanya agar tidak pecah.


"Bukan nyeri lagi ini sangat sakit"


"Apa!"


"Sepertinya di dalam terlalu penuh"


"Penuh? penuh apa? apa asi mu mau keluar?"


"Bukan"


"Terus?" tanya William masih dalam mode panik.


"Terlalu penuh di isi dengan nama mu" gombal Davina dan langsung tertawa terbahak-bahak.


Sedangkan William yang tadi di buat panik kini menampilkan wajah bodohnya menatap Davina yang masih terus tertawa. "Kamu berbohong?"


"Kamu sangat lucu kalo sedang panik seperti tadi"


Merasa di bodohi oleh sang istri William menangkup wajah Davina dengan kedua tangannya menghujani wajah putih itu dengan ciuman bertubi-tubi.


"William hentikan"


"Aku akan benar-benar menghukum mu setalah kamu sembuh nanti" ucap William masih dengan menghujani wajah Davina dengan ciumannya.


"Tapi sayang itu masih sangat lama sekali" ucap Davina membuat William menatapnya dengan tatapan frustasi.


"Kenapa sekarang kau suka sekali mematahkan semangat ku!"


"Karena itu hobi baru ku"


"Dasar nakal!"


Keduanya terus menggoda satu sama lain di ruang tengah sampai Davina merasa kewalahan akan perbuatan William yang terus membalas gombalannya. Melihat sang istri yang mulai kelelahan William mengentikan aksinya dan beralih menyuapi Davina dengan telaten. Awalnya hanya Davina yang makan tapi kini satu mangkuk sup tersebut di makan dua orang.


***

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️


__ADS_2