
"Sayang bukan disitu" rengek Davina.
Davina yang sudah memasuki bulan kesembilan kehamilannya meminta William untuk menata taman kecil yang sengaja ia bikin di belakang rumah dua minggu yang lalu. Entah kenapa saat melihat toko bunga yang sempat ia lalui hari itu membuat Davina merasa ingin memiliki taman yang khusus dengan koleksi bunga-bunga kesukaannya, dan hal tersebut langsung di buatkan oleh sang suami.
"Apa disini sudah pas?" tanya William setelah menggeser pot yang lumayan besar itu untuk kesekian kalinya.
"Sedikit ke kanan" perintah Davina.
"Sudah?" tanya William memastikan.
"Sempurna" ucap Davina antusias dan berjalan mendekat kerah William melihat taman yang baru saja selesai itu dari dekat. "Cepek banget kelihatannya?" goda Davina saat William memegang punggungnya yang terasa pegal.
"Ini belum seberapa sayang" tangan William langsung menarik Davina masuk kedalam pelukannya.
"William jangan seperti ini nanti kalo Arsalan lihat bagaimana?" ucap Davina meronta melepaskan pelukan William, tak ingin sang anak melihat sikap ayah nya.
"Tenang saja Arsalan lagi pergi dengan nenek, kakeknya ke teman kompleks"
"Kapan?, kenapa tidak ada yang memberitahu ku?" tanya Davina saat baru tahu anaknya pergi.
"Tadi ibu yang pamit saat kamu masih mandi, sayang" jawab Davina mendaratkan kecupan pada bibir merah merona milik Davina.
"William, kamu itu sudah tua masih saja asal nyosor" sindir Davina.
Bukannya marah William terkekeh dan semakin mempererat pelukannya. "Umur boleh tua, tapi lihat wajah ku saja masih seperti orang berumur dua puluh delapan"
Davina memutar bola matanya malas mendengar pujian William untuk dirinya sendiri. "Yayaya, terserah kau mau bilang apa tapi sekarang cepat mandi lihat tubuh mu sudah penuh dengan keringat dan jahatnya dirimu keringat itu juga menempel pada bajuku" ucap Davina menunjukan bajunya yang terkena keringat William.
"Kalo begitu kenapa kita tidak mandi bersama saja?"
"Wil-"
"Mumpung tidak ada siapa-siapa dirumah hanya kita berdua"
"Tapi-"
"Aku sudah lama tidak melihat keadaannya dan sekarang ini waktu yang sangat tempat untuk menjenguknya"
"Tapi Wil-"
"Tidak ada tapi-tapi an sayang" potong Davina untuk sekian kalinya langsung mengendong tubuh Davina menuju kamar.
"William turunkan aku, aku malu!" rengek Davina saat keduanya melewati art dan juga pak Mun.
"Anggap mereka semua benda mati" ucap William enteng dan terus melangkah menuju kamarnya.
__ADS_1
Sampainya dikamar mandi William menurunkan tubuh Davina pelan, melepas pakaian yang istrinya itu kenakan menunjukan tubuh yang masih saja langsing meski sudah dua kali hamil.
Sebelum istrinya mengeluarkan suara penolakan bibir William terlebih dahulu mendarat memberikan ciuman yang sangat lembut, membangkitkan jiwa ranjang Davina secara perlahan untuk bangkit.
Dan benar saja tanpa waktu yang lama bibir Davina membalas ciuman William yang tak ingin kalah dengan suaminya itu.
membalikan badannya istrinya William menuntun benda pusaka miliknya masuk ke dalam sumur yang akan membawa keduanya melayang ke awan. Suara indah yang keluar dari bibir Davina mengema memenuhi kamar mandi saat benda pusaka milik William bermain dengan sangat indah didalam sana.
"Sayang aku datang" erang William semakin memperdalam mainannya.
"Will..." panggil Davina saat cairan hangat milik William memenuhi rahimnya.
William melepas miliknya langsung membalikan badan Davina untuk kembali ia peluk. "Kenapa kamu sangat candu sayang" bisik William tepat ditelinga Davina.
"Sudah cukup jangan membuat milik mu itu bangun lagi, aku lelah Wil" rengek Davina masih mengatur nafasnya.
"Satu kali lagi ya"
"Aku-"
"Mama!"
"Arsalan?" ucap Davina dan William bersamaan saling tatap.
Dengan gerakan cepat tangan William mengunci pintu kamar mandi sebelum putranya itu membuka dan akan melihat apa yang seharusnya belum ia lihat.
"I-iyah sayang" sahut Davina dari dalam.
"Mama sedang apa didalam?" tanya Arsalan penasaran.
Davina menatap William meminta alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan putranya itu, entah kenapa tiba-tiba otak pintar Davina langsung kosong saat dalam situasi panik seperti ini.
"Bilang saja kalo kamu sedang mandi" ucap William dengan sangat pelan.
"Tapi aku sudah mandi" jawab Davina yang membuat William menepuk jidatnya.
"Iyah itu tadi, tapi sekarang kita akan mandi lagi"
"Mama dengan siapa di dalam?" tanya Arsalan.
"Kenapa tiba-tiba Arsalan jadi anak cerewet seperti itu!" gerutu William kesal saat putranya yang tak berhenti memanggil Davina.
"Crewet-crewet juga itu kecebong mu!" ucap Davina menjawab asal mula Arsalan berada. Sedangkan William hanya tersenyum kuda.
"Mama sendiri sayang"
__ADS_1
"Tapi kenapa Arsalan dengar suara orang lain?"
"I-itu bukan siapa-siapa hanya air kran" jawab Davina bohong.
"Mama sedang mandi?"
"Iyah"
"Bukannya tadi baru selesai mandi?" tanya Arsalan yang masih mengingat ucapan sang ayah jika mamanya tadi masih mandi saat ia pergi.
Benar ucapan William putranya itu semakin di ladeni tidak akan ada habisnya apa lagi tangan suaminya yang sudah tak mulai bisa di kondisikan meraba sana sini saat dalam keadaan seperti ini.
"Jangan macam-macam!" ucap Davina menatap tajam wajah tanpa dosa milik William.
"Mama nenek suruh mama, dan ayah turun"
"Iyah sayang mama akan segera keluar"
"Baiklah, tapi apa mama tau ayah dimana?"
"Coba cari di taman belakang" suruh Davina, kalo ayahnya saja berada di dalam satu ruangan bersamanya.
"Baiklah" Arsalan langsung pergi dari dalam kamar mamanya menuju taman belakang rumah.
Davina menghela nafas lega saat suara Arsalan tak lagi terdengar. Dan kembali menatap wajah William yang sepertinya ingin menahan sesuatu.
"Kamu kenapa?"
"Sayang aku mau satu kali lagi"
"Tidak ada, aku ingin segara turun dan menemui Arsalan" ucap Davina berjalan ke arah shower.
"Tapi lihat punya ku sudah kembali bangun" rengek William menunjuk miliknya yang kembali segar bugar.
"Tidak untuk sekarang, aku tidak ingin Arsalan kembali kesini dan menunggu kita sampai keluar dari kamar mandi yang ada anak itu tidak akan berhenti bertanya"
"Tapi ini bagaimana?" tanya William yang merasa di gantungkan.
"Tunggu sampai siang hari, biasanya Arsalan akan tidur siang nanti jam satu" usul Davina menaruh sampo di kepalanya.
"Tapi itu masih sangat lama"
"Tunggu sampai jam satu dan aku akan memuaskan mu nanti!" janji Davina membilas busa di kepalanya.
William menghela nafas panjang dan ikut membersihkan tubuhnya bersamaan Davina di bawah guyuran air shower yang dingin.
__ADS_1
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️