
Seperti janjinya tadi pagi William menjemput Davina di tempat kerjanya dan kali ini dirinya sendiri yang menyetir mobil karena Max masih harus mencari dalang itu yang sampai sekarang belum di ketahui siapa. Menunggu Davina di dalam mobil William memikirkan siapa orang terdekatnya yang bisa melakukan ini semua kepadanya?, dan apa motif orang itu untuk membocorkan data-data perusahaannya?.
Davina yang sudah masuk ke dalam mobil melihat William yang tengah melamun dengan menatap lurus kedepan dapat dilihat dari sorot matanya seperti pria di sampingnya itu tengah memikirkan sesuatu hall yang sangat berat. Mengoyangkan pundak William pelan pria itu langsung tersadar akan lamunannya.
"Kamu sudah datang?"
"Kamu kenapa?" tanya Davina balik.
"Tidak hanya saja aku sedikit banyak pikiran" ucap William memijat keningnya.
"Pikiran apa?"
"Apa lagi kalo bukan perkerjan, sudah tidak usah di pikirkan biar itu jadi urusan ku" menyalakan mesin mobilnya William melajukannya ke restoran yang sudah ia booking tadi pagi.
Sampainya di restoran seorang pramusaji menuntun keduanya menuju ruangan VVIP yang sudah di pesan oleh William, membukan pintu ruangan tersebut Davina terpanah akan interior ruang VVIP tersebut yang terlihat sangat mewah. Menariknya salah satu kursi untuk Davina mempersilahkan gadis itu duduk lebih dahulu.
"Terimakasih" ucap Davina langsung mendudukan tubuhnya.
Baru William yang duduk di tempatnya menatap Davina yang masih sibuk melihat interior ruangan tersebut. "Kenapa wajah mu sangat menggemaskan seperti itu?" William mencubit pelan pipi Davina.
Davina memanyunkan bibirnya mendapatkan perlakuan seperti itu dari William. "Aku belum pernah makan di restoran mewah seperti ini sebelumnya jadi maklumin saja kalo sedikit norak" ucap Davina.
Mempersilahkan pramusaji menaruh makanan dan minum mereka Davina memincingkan matanya menatap makanan di hadapannya. "Berapa harga makanan ini?" tanya Davina sebelum memakannya.
"Kenapa memang?"
"Aku hanya ingin tau berapa satu porsi makanan ini"
Mengunyah makanan di mulutnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Davina. "Sekitar empat ratus ribu"
"Apa!, makanan seperti ini sampai empat ratus ribu?!" harga yang sangat mahal menurut Davina bagaimana bisa restoran ini menyajikan makanan dengan porsi yang sangat sedikit tapi juga sangat mahal seperti ini?.
"Kamu tau aku biasanya makan nasi padang hanya dua puluh ribu itu pun sudah sangat kenyang bersama anak ku, dan ini makanan empat ratus ribu?" mengantungkan kalimatnya Davina kembali menatap makanan di hadapannya. "Kenyang enggak mahal Iyah"
__ADS_1
"Kalo kamu tidak merasa kenyang kamu bisa pesan lagi" ucap William enteng.
"Kalo aku pesan sepuluh porsi berapa juta saja yang kamu keluarkan hanya untuk makanan seperti ini?"
Melihat ekspresi wajah Davina yang sangat menggemaskan membuk William mengelengkan kepalanya, bukannya memakan makanannya gadis itu terus mengoceh tiada henti mengomentari makanan di hadapannya.
"Buka mulut mu" William mengarahkan satu sendok ke arah Davina.
"Tidak"
"Kenapa?"
"Terlalu kasian untuk dimakan" ucap Davina dengan begitu polosnya. William yang tidak dapat menahan tawanya lagi akan sikap gadis itu menertawakan seberapa polos istrinya, mungkin saja kalo William mengajak wanita-wanitanya makan makanan mahal mereka akan merasa sangat senang bahkan mungkin mereka tidak akan malu untuk meminta lagi tapi berbeda dengan Davina gadis itu malah kasihan untuk memakan makanan seharga empat ratus ribu itu.
Mengusap air matanya yang terlalu banyak tertawa William mengatur nafasnya sebentar. "Ini makanan buat di makanan buat di kasihani, sekarang buka mulut mu"
"Boleh tidak makanan ini di tukar dengan nasi padang saja?" William benar-benar tertawa tiada henti dibuatnya saat mendengar hal-hal aneh itu.
"Kalo begitu kamu belikan aku nasi padang saja"
"Tidak ada nasi padang, nasi padang segala yang ada sekarang buka mulut kamu" mengarahkan kembali satu sendok itu ke depan mulut Davina dengan pasrah gadis itu membuka mulutnya mengunyahnya secara perlahan Davina merasakan sensasi yang sangat sempurna dari makanan tersebut dan pantas saja harganya sangat mahal kalo saja rasanya bis sesempurna ini.
"Gimana enak?" tanya William.
Davina mengangguk kepalanya. "Sangat enak, pantas saja rasanya begitu sempurna"
William mengelengkan kepalanya tadi merasa kasihan tapi akhirnya di makan juga benar-benar gadis yang sangat lucu. Memakan makanan milik masing-masing Davina tiada henti menceritakan hal-hal lucu membuat ruang VVIP tersebut di penuhi oleh tawa Keduanya, dan hall itu membuat William melupakan sejenak tentang masalah yang menimpa perusahaannya.
Setelah selesai makan William mengajak Davina untuk mendatangi sebuah Mall terlebih dahulu sebelum kembali mengantarkan gadis itu ketempat kerjanya. Masuk ke dalam salah satu toko perhiasan William di sambut dengan sangat ramah oleh para pelayan toko.
"Selamat siang tuan William, ada yang bisa saya bantu?"
"Tunjukan cincin pernikahan yang terbaik di toko ini"
__ADS_1
"Baik tuan, silahkan anda duduk terlebih dahulu" mempersilahkan William duduk dengan Davina karyawan tersebut langsung pergi untuk mengambil pesanan William.
"Kenapa kamu beli cincin pernikahan?" tanya Davina setelah karyawan tersebut pergi.
"Kita dulu menikah tidak ada cincin pernikahan bahkan aku hanya memberikan mu uang mahar lima ratus ribu, dan karena sekarang kita sudah sepakat menjalin semuanya dari awal aku juga ingin kita memakai cincin pernikahan seperti orang-orang" jelas William, Davina yang tidak tau harus menjawab apa ucapan William hanya mengiyakan saja.
Tidak berselang lama karyawan tadi membawakan berbagai cincin terbaik toko tersebut dari mas,permata, berlian ada di hadapan Davina sekarang dengan ukiran-ukiran yang sangat cantik.
"Pilih mana yang kamu suka" ucap William.
"Cincin ini semua terlihat sangat cantik dan mewah aku jadi bingung untuk memilihnya" jawab Davina masih menatap deretan cincin tersebut.
"Kalo saran saya sebaiknya nona pilih yang ini saja" menunjukan salah satu cincin berlian pada Davina. "Cincin ini baru saja datang tadi pagi dan di ukir sangat khusus jadi hanya ada satu di toko ini, dan cincin ini juga selain sepasang dia juga memiliki sebuah kalung yang tidak kalah cantiknya" menunjukan kalung di dalam kotak berwarna mas mata Davina di buat jatuh cinta oleh kalung yang sangat cantik itu.
Melihat Davina yang sepertinya sangat suka dengan kalung yang di tunjukan karyawan tersebut William memintanya membungkusnya. "Bungkus itu dan bawakan bill nya kesini"
"Baik tuan" menyiapkan nota pegawai tersebut pergi.
Meraih cincin yang ia beli William memasangnya di jari manis Davina terlihat sangat cantik saat cincin itu tersemat di jari putih milik Davina. "Sangat cantik"
Mendengar itu Davina tersenyum melihat tangannya yang di pasang cincin oleh William. "Apa kau tidak mau memakan di jari ku?" sindir William.
Davina yang terlalu asik menatap cincinnya terkekeh kecil, meraih cincin tersebut Davina menyematkan nya di jari manis William dan kini Keduanya sudah menggunakan cincin pernikahan walau telat yang terpenting cincin itu sudah cukup membuktikan kepada orang-orang bahwa dirinya sudah menikah.
"Mau di pakaikan kalungnya sekalian?"
"Tidak, itu terlalu mahal aku takut nanti kalo aku memakainya akan hilang, lebih baik itu di simpan saja" ucap Davina.
Memilih mengiyakan ucapan Davina William membayar bill yang di berikan karyawan tersebut menggunakan karu blackcard nya. Setelah menyelesaikan transaksi William mengantarkan Davina kembali ketempat kerjanya sebelum jam makan siang berakhir.
***
Jangan lupa Like, Vote Komen dan Beri Hadiah ♥️🤗
__ADS_1