Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 69


__ADS_3

Menyenderkan punggungnya ke headboar tempat tidur Davina memijat kakinya yang terasa sangat pegal karena perjalanan yang ia tempuh selama dua hari ini apa lagi besok dirinya juga harus kembali bekerja. Melihat pintu kamar mandi terbuka buru-buru Davina menjauhkan tangannya dari kaki.


"Kamu kenapa?" tanya William menghampiri Davina ke ranjang.


"Aku tidak apa-apa hanya saja sedikit lelah karena perjalanan tadi" jawab Davina.


Menyisir rambut Davina menggunakan jari-jari tangannya tersenyum kecut. "Kenapa kamu tidak mau keluar dari pekerjaan itu?, apa kamu masih meragukan ku?"


Davina mengelengkan kepalanya cepat. "Tidak, itu tidak seperti yang kamu pikirkan hanya saja itu ke inginan ku sendiri yang ingin tetap kerja"


Meraih tangan William yang masih menyisir rambutnya Davina menggenggam tangan itu. "Jangan berfikiran sampai ke situ, bukankah aku sudah janji akan resign saat kandungan ku masuk usia delapan bulan? dan itu tinggal beberapa hari lagi jadi aku mohon biarkan aku kerja untuk beberapa hari kedepan" pinta Davina.


Berat sekali rasanya melihat istrinya yang masih menginginkan kerja bahkan dirinya saja memiliki banyak uang, dan ini lah satu sisi yang William suka dengan Davina karena gadis itu tidak bergantung dengan durinya dan benar-benar sudah menjadi gadis mandiri.


Menghela nafas panjang William mengukir senyuman tulusnya. "Iyah aku izinkan tapi mulai besok kamu berangkat bersama ku"


Merasa senang karena dirinya masih di perbolehkan kerja Davina mengiyakan permintaan William yang akan mengantarnya kerja mulai besok.


"Sekarang ikut aku" bangun dari duduknya William menarik lembut tangan Davina.


"Mau kemana?" tanya Davina saat tangannya tiba-tiba saja di tarik oleh William.


"Nanti juga kamu tahu" menuruni anak tangga Keduanya berjalan ke arah taman belakang yang sudah di sulap dengan sangat cantik bahkan banyak sekali lampu lampion warna warni.


"Cantik sekali" puji Davina yang senang saat melihat lampu lampion yang berwarna warni tersebut.


Melihat Davina yang suka dengan ini semua, William berjalan mengambil satu lampion yang akan ia terbangkan bersama Davina. "Mau main lampion bersama ku?" tawar William dengan lampion di tangannya.


Mengangguk antusias gadis itu menjawab ucapan suaminya. "Tapi sebelum itu tulis dulu apa yang kamu inginkan di sisi sini dan aku di bagian sini, dan jangan kepo dengan tulisan masing-masing" ucap Davina.


"Iyah"


Sebelum William menulis apa yang ia inginkan matanya menatap wajah Davina yang terlihat sangat cantik saat cahaya dari lampu lampion itu mengenai wajahnya. Keduanya mulai menulis apa yang mereka inginkan di tempat yang sudah di tentukan oleh Davina sebelumnya.


"Aku hanya ingin hidup bahagia bersama suami dan anak ku nanti" ~Davina.

__ADS_1


Permintaan yang sangat sederhana dan juga sangat simpel yang di tuliskan oleh Davina dengan penuh harapan.


"Kamu cantik dan aku ingin melihat kecantikan mu itu sampai mataku sudah tidak bisa melihat dunia ini lagi" ~William.


Selesai menulis apa yang mereka inginkan William mulai menyalakan lampion tersebut dengan korek api. "Sudah siap?"


"Sudah" jawab Davina.


"Satu..."


"Dua..."


"Tiga..."


Mengarahkan lampion tersebut ke udara keduanya melihat lampion tersebut yang mulai terbang menjauh. Melihat Davina dengan senyuman mengembang seperti itu walau hanya hall kecil yang ia berikan tapi senyuman gadis itu yang sangat berarti untuknya sekarang.


"Vina" panggil William.


Davina yang tadinya masih menatap langit beralih menatap wajah William yang berdiri di sampingnya. "Iyah"


"Maukah kamu belajar mencintai bersama ku?" tanya William pelan dan masih bisa di tengkap jelas oleh telinga Davina.


"Kamu serius?"


"Sangat serius"


Cup...


Davina memekik kaget saat William tiba-tiba mencium bibirnya, sedangkan William yang melihat hall itu terkekeh kecil, menarik tengkuk Davina William sedikit menundukan wajahnya mengarahkan bibirnya ke arah bibir merah milik Davina. Keduanya saling menautkan kedua bibir utu dengan penuh kasih tanpa menghiraukan dimana sekarang mereka berada karena pada umumnya dunia hanya milik berdua author hanya ngontrak.


Melepaskan tautan bibir itu William dapat melihat wajah Davina yang sudah merona, menyapu bibir merah itu menggunakan ibu jarinya William tersenyum sangat manis ke arah Davina. "Udah pintar sekarang"


"Karena kamu gurunya makannya aku cepat pintar"


"Sejak kapan kamu berani memberikan ku gombalan seperti itu?"

__ADS_1


"Mungkin mulai detik ini"


"Dasar gadis nakal" ucap William mengacak-ngacak rambut Davina.


"Aku sudah tidak menjadi seorang gadis lagi" ralat Davina dengan mengusap perutnya.


William menepuk jidatnya melihat hall itu. "Sejak kapan perut mu sebesar itu?"


"Apa kau lupa? kamu yang membuatnya sendiri jadi seperti ini"


William benar-benar di buat tertawa dengan ucapan Davina. "Jangan kesal nanti yang kedua kita bikin bersama gimana?" William mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan seperti itu"


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa" elek Davina.


"Apa jangan-jangan kau menginginkannya sekarang?" tebak William.


"Tidak!"


"Kenapa kamu marah? aku hanya tanya saja apa kamu menginginkannya atau tidak"


"Kalo aku menginginkannya memang kenapa?"


"Aku akan...." pura-pura berfikir sejenak William tiba-tiba mengangkat tubuh Davina ke dalam pelukannya. "Membawa mu ke kamar sekarang juga"


"Tidak!, William turunkan!"


"Tidak mau"


"William!!"


"Hahahaha" tawa William menggema di seluruh penjuru rumah saat Davina yang terus meronta-ronta di dalam pelukannya.

__ADS_1


***


Jangan lupakan Like, Komen, Vote dan Beri Hadiahnya 🤗♥️.


__ADS_2