
"Kamu mau makan siang bareng?" tanya Ayu menghampiri Davina yang masih duduk di depan meja kasir.
"Enggak mbak, saya makan siang sama suami saya" jawab Davina karena tadi pagi William berucap akan menjemputnya.
"Ya sudah aku keluar dulu" ucapan Ayu di angguki Davina, berjalan menuju loker Davina mengambil tas selempang nya berniat menunggu William di luar agar saat mobil pria itu datang dirinya tinggal masuk.
Berdiri di bawah pohon Davina menatap ujung jalan mencari mobil William yang belum muncul juga.
"Vina" Davina menoleh ke sumber suara melihat Ali yang baru saja turun dari dalam mobil.
"Kak Ali? kakak ngapain di sini?" tanya Davina saat Ali sudah berdiri di sampingnya.
"Bukannya kamu minta kita ketemuan di sini?"
Davina mengerutkan keningnya tak paham dengan ucapan laki-laki dihadapannya sejak kapan dirinya meminta pria ini bertemuan di tempat kerja?.
"Vina gak pernah minta kakak untuk ketemuan di sini"
"Tapi kamu kan yang tadi pagi ngirim pesan?"
"Enggak, bagaimana bisa Vina mengirimkan pesan sama kakak kalo Vina saja tidak tau nomor ponsel kak Ali"
Mengeluarkan ponselnya Ali mencari nomor yang tadi pagi mengirimkannya pesan. "Ini kamu kan?" tanya Ali menunjukan layar ponselnya.
Davina mengelengkan kepalanya cepat. "Bukan ini bukan Davina, dan Vina juga gak mungkin ngajak kakak bertemu. Kakak tau sendiri Vina sudah punya suami"
Pria itu menghela nafas panjang ia melupakan hall itu kalo wanita yang ia sukai sudah memiliki suami dan Davina bukan merupakan tipe wanita yang suka mengajak pria sembarangan. "Mungkin orang iseng"
"Kamu sendiri ngapain dipinggir jalan seperti ini?"
"Oh itu, Vina lagi nunggu suami Vina" jawab Davina tersenyum membuat pria di hadapannya ikut tersenyum kecut. "Kakak kenapa masih di sini?"
"Aku mau ke sana" tunjuk Ali pada supermarket tempat kerja Davina.
"Kakak mau belanja?"
"Bukan, aku mau ngecek keuangan"
"Apa?, keuangan?" tanya Davina memastikan.
Ali yang tengah terbawa perasaan sakit hati langsung sadar dengan ucapannya.
"Kakak pemilik supermarket ini?"
"Bu-bukan-"
__ADS_1
"Jangan bohong kak!, Vina gak suka di bohongi!" potong Davina.
"Kakak bisa jelas in"
"Jadi benar ini supermarket milik kakak?!" Ali mengangguk lemah menjawab pertanyaan Davina.
"Kakak kenapa gak bilang dari awal!" ucap Davina meluapkan kekesalannya.
"Kakak kasian sama kamu yang saat itu tengah mencari perkejaan" jelas Ali.
Davina mengguyur rambutnya kebelakang mendengar laki-laki itu mengucapkan kata kasihan. "Vina gak butuh di kasihani sama kakak, karena Vina bisa cari pekerjaan tanpa bantuan kakak!"
"Bu-bukan gitu maksud kakak Vina, kakak bukan mengasihani kamu"
"Kalo bukan itu terus apa kak!"
"Kakak cuma pengen kamu gak sedih lagi setelah di pecat hari itu dan apa lagi kamu sedang butuh uang bukan dan kalo kakak bilang dari awal supermarket ini milik kakak aku yakin kamu gak bakal mau"
"Iyah, Davina gak bakal mau kak karena itu bisa jadi boomerang di rumah tangga Vina nantinya"
Ali mengusap wajahnya kasar saat gadis ini sangat keras kepala. "Ok kakak tau ini semua salah kakak dan kakak minta maaf. Tapi di sini juga salah suami kamu!, mana ada seorang suami yang membiarkan Istrinya kerja dalam keadaan hamil besar seperti ini!"
"Atau kamu tidak di berikan nafkah lahir dari suami kaya mu itu!"
Plak...
"Davina!" suara berat dan sedikit berteriak itu terdengar dari sebrang jalan. Kedua orang yang tadi terlihat cek-cok menatap seseorang yang ada di sebrang jalan sana.
"William?" lirih Davina saat sang suami berada di pinggir jalan itu.
Berjalan menghampiri kedua orang itu William menatap Ali dari atas sampai bawah dengan teliti, ini pertama kalinya William bisa dengan jelas menatap wajah laki-laki yang mencinta Istrinya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini!" tanya William penuh selidik.
"A-aku-"
"Kita janjian di sini!" ucap Ali memotong ucapan Davina.
"Kak!"
"Apa yang dia ucapkan benar?!" beralih menatap William Davina mengelengkan kepalanya menatap lekat bola mata sang suami.
"Ti-tidak"
"Kenapa kamu bohong Davina? bukankah itu kenyataannya?"
__ADS_1
"Kak Ali stop!, jangan semakin memperkeruh suasana!"Ucap Davina memerintahkan agar pria itu diam, tapi sepertinya Ali yang masih ingin mengeluarkan suaranya membuat William semakin salah paham.
"Kenapa? apa kamu takut suami mu ini akan marah jika tau kita memiliki hubungan?!"
"Hubungan?" menatap sang istri dan pria itu secara bergantian sorot mata William membutuhkan penjelasan akan hall ini. "Kamu punya hubungan sama pria ini!"
Davina mengeleng cepat. "En-enggak aku gak mempunyai hubungan apapun dengan dia"
"Jangan bohong!"
"Aku tidak bohong William, aku berkata jujur"
"Aku pikir kau benar-benar akan belajar mencintai ku seperti diriku yang sudah jatuh cinta dengan mu, tapi ternyata...." tak sanggup meneruskan ucapannya William hanya mengepalkan tangannya di samping tubuh.
Mendengar ucapan cinta yang di ucapakan sang suami membuat hati Davina merasa sangat senang tapi semua itu sirna saat William melanjutkan ucapannya.
"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat dan menganggu sepasang kekasih yang sangat romantis ini" menatap wajah Davina dan Ali, William melangkah beberapa langkah kebelakang. "Teruskan saja aku akan pergi" membalikan badannya William berniat menghampiri mobilnya yang ia parkir di pinggir jalan.
Melihat sang suami yang mulai berjalan meninggalkannya Davina berniat mengejarnya tapi matanya terlebih dahulu tertuju pada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dan sepertinya mobil itu sengaja ingin menabrak William yang tidak menyadari akan hall itu.
"William awas!" teriak Davina dengan berlari kerah suaminya yang tengah berjalan di tengah jalan. Mendorong tubuh kekar William dengan sangat kuat membuat tubuh pria itu terjatuh di trotoar akibat dorongan Davina.
BRAK...
"Aaaaa" suara yang sangat melengking dari Davina membuat kedua pria itu membulatkan matanya.
"DAVINA!!!" teriak William histeris saat melihat tubuh sang istri yang terpental beberapa meter dari tempat semula. Bangkit dari duduknya William berlari kerah Davina yang sudah tidak sadarkan diri.
Wajah Davina yang berlinang darah dari sudut kepala membawa kepala gadis itu pelan ke dalam pelukannya.
"Vin, Vina bangun, buka mata kamu!" William menepuk pelan pipi Davina dengan nafas memburu.
"Vina buka mata kamu"
"Jangan seperti ini Vina, ini gak lucu ayo buka mata kamu!" air mata William jatuh begitu saja saat tubuh sang istri tak merespon ucapannya.
Mengangkat tubuh Istrinya William berjalan ke arah mobil, mendudukan tubuh sang istri di jok belakang dan langsung masuk ke dalam mobil membawa istrinya ke rumah sakit.
Sedangkan seorang wanita yang tengah sembunyi di balik pohon tersenyum sangat puas melihat Davina tertabrak sampai tak sadarkan diri.
"Walau bukan William yang tertabrak tapi setidaknya istri dan anaknya sudah lebih dari cukup dan saat keduanya tidak bisa tertolong aku yakin itu akan membuat dunia William hancur lagi"
"Dan apa aku harus mengucapkan terimakasih dengan peria itu? yang memperlancar semua urusan ku?" ucap Tanti pada dirinya sendiri menatap Ali yang masih mematung di tempatnya. Memakai kaca mata hitamnya Tanti meninggalkan tempat kejadian dengan langkah bahagia.
***
__ADS_1
Maaf kalo ada typo, untuk bab ini author bakal perbaiki lagi nanti.
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️