
Pagi harinya Davina mengerjapkan matanya melihat sekeliling dan pikirannya membayangkan hall baru saja terjadi padanya saat William menyetubuhinya, Davina menatap jam di kamar William yang menunjukkan jam lima subuh, Davina berusaha duduk dan melihat William yang masih tidur di sampingnya dengan memunggunginya, Davina merasa tubuhnya sangat berat untuk di gerakan dan juga area pribadinya yang masih sangat sakit, tapi mau tidak mau Davina harus keluar dari kamar tersebut sebelum William bangun dan akan memarahinya.
"Auu...." ringis Davina yang terjatuh saat hendak ingin melangkah dan tangannya yang memegang area pribadinya yang terasa sangat perih.
Tangan Davina meraih tembok yang ada di dekatnya, dengan sisa tenaga yang Davina miliki, ia berusaha untuk berdiri dan melangkah perlahan lahan sesekali Davina berheti melangkah dan karena area pribadinya yang sangat perih saat untuk berjalan.
*
Selesai mandi Davina langsung ke dapur untuk membantu pak Mun menyiapkan sarapan buat suaminya itu dengan berjalan yang sedikit pincang. Pak Mun yang melihat ke janggalan dari tubuh istri tuannya itu sudah bisa menebak apa yang telah terjadi semalam, karna ia semalam juga sempat memergoki beberapa asisten rumah tangga yang tengah melihat perdebatan William dan Davina tadi malam.
"Selamat pagi tuan" sapa pak Mun saat melihat William yang duduk di kursi meja makan. Seperti biasa Davina menaruh nasi dan lauk di atas piring suaminya itu, William melihat Davina berjalan dengan sedikit pincang membuatnya teringat akan hall tadi malam yang ia lalui dengan istrinya itu.
"Tuan...saya minta izin untuk pulang ke kampung sebentar dan saya janji nanti malam saya sudah berada di rumah" kata Davina saat William sudah selesai dengan aktifitas sarapannya.
"Kau ingin mencoba kabur dari ku?!"
"Tidak tuan...saya hanya ingin mengantarkan uang untuk melunasi hutang hutang keluarga saya itu saja" kata Davina menundukan kepalanya.
"Selalu saja keluarga yang kau jadikan alasan!!"
"Tapi saya benar benar mau mengantarkan uang itu untuk keluarga saya tuan" jawab Davina dengan suara gemetar karna takut.
"Max....!"
"Iyah tuan" kata Max yang muncul dari belakang William.
"Antar wanita ini ke desanya dan pastikan dia pulang sebelum saya sampai rumah!"
"Baik tuan"
"Satu lagi....siapkan wanita setalah aku pulang dari kantor, dan pastikan wanita itu menandatangani kontrak..!"
"Baik tuan" kata Max yang hanya bisa mengiyakan permintaan William.
"Kapan anda akan berubah tuan...bahkan anda sudah memiliki istri yang sangat cantik walau umurnya masih belasan" batin Max di dalam hati.
"Aku tidak akan pernah berubah....! dan tugasmu hanya mencari wanita yang aku inginkan...! dan jangan pernah mengurusi urusanku...!" kata Wllian yang seakan akan tau isi hati Max saat ini, William menatap tajam Max yang membuat Max langsung menundukan kepalanya.
***
Sampainya di kantor William langsung naik ke lantai teratas gedung pencakar langit tersebut, saat pintu lift terbuka William melangkah menuju ruangan.
"Pagi Tuan" sapa Wulan sekertaris William yang mengkor di belakang william untuk membacakan jadwal William hari ini.
"Apa anda ingin di pesankan sebuah restoran untuk rapat nanti apa anda ingin rapat di kantor tuan?" Tanya Mia setelah selesai membaca jadwal William hari ini.
"Urus saja mana baiknya" kata William menyalakan Laptop di depannya.
__ADS_1
"Dan ini ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani tuan" kata Wulan berjalan ke samping Kursi kebesaran William .
William yang melihat sekertarisnya menggunakan baju yang tidak se sexy seperti biasanya, menatap dari atas sampai bawah.
"Apa ada yang salah dengan pakaian saya tuan...?" tanya Wulan saat William terus memandanginya.
"Berapa gaji mu satu bulan di Nasution Group?" tanya William.
"Sepuluh juta tuan itu belum termasuk bonus setiap minggunya" jawab Wulan.
"Apa uang segitu kurang untuk membeli kan mu baju baju sexy seperti kemarin kemarin....? kau tau mataku ini sakit melihat mu pakai pakaian seperti ini....!!"
"Maaf tuan...."
"Sekarang pergilah ke butik dan beli baju yang paling sexy agar aku bisa melihat tubuh mulus mu itu...!!" kata Wiliam menyerahkan kartu blackcard nya pada Wulan.
"Baik tuan..."Kata Wulan yang langsung keluar dari ruangan William.
"Dasar wanita semuanya sama saja"
***
Sedangkan Davina yang baru saja tiba di rumahnya langsung membuka pintu mobil tanpa harus menunggu Supir atau Max yang membukanya,Davina langsung berlari masuk ke dalam rumahnya, ia sangat khawatir sekali dengan ke adaan ibu dan adiknya saat ini.
"Ibu...."
"Alif....Davina pulang...." Teriak Davina saat sudah masuk ke dalam rumah.
"Kak Vina...." kata Alif yang langsung berlari menuju kakaknya dan memeluknya begitu kuat.
"Kak Vina... Alif kangen"
"Kak Vina juga kangen sama kamu dan ibu" kata Davina membalas pelukan adik laki lakinya itu. "Kamu baik baik saja kan, saat kakak tinggal?" tanya Davina melepaskan pelukan Alif dan melihat wajahnya yang berlinang air mana dan di hapus oleh jari jemari tangan Davina.
"Alif baik baik saja kak...tapi ibu kakak...ibu sedang sakit hiks....hiks..."
"Heiii... kakak kan sudah bilang kalo laki laki itu tidak boleh nangis...laki laki itu harus kuat jangan gampang nangis" kata Davina dan Alif buru buru menghapus air matanya dan menatap Davina tapi mata Alif menangakap beberapa orang di belakang kakaknya itu.
"Mereka siapa kak...?" tanya Alif membuat Arum juga menatap beberapa orang fi belakang Davina tapi yang paling mencolok adalah Max yang lengkap dengan setelan jas rapinya.
"Iyah Vin, mereka siapa...?kenapa mereka bisa sama kamu...?" tanya Arum.
"Nanti aku jelaskan sekarang aku mau melihat keadaan ibu dulu" kata Davina yang di angguki oleh Arum.
"Tuan Max anda bisa menunggu di kursi ruang tamu, saya mau menemui ibu saya dulu nanti saya akan kembali lagi" kata Davina kepada Max sebelum masuk ke kamar ibunya dan di angguki oleh Max.
"Ibu...." Vina berjalan mendekat ke arah ranjang di mana ibunya tengah berbaring di atas kasur.
__ADS_1
"Vina..." kata Inah lirih.
"Ibu kenapa bisa sampai sakit seperti ini...?" kata Davina memegang tangan Inah yang sangat terasa sangat lemas.
"Ibu gak papa nak... kamu baik baik saja kan di kota...?"
"Iyah buk Davina baik baik saja di kota, dan Davina pulang bawa uang untuk melunasi hutang hutang kita sama juragan Bandot" kata Davina mengeluarkan amplop berwarna coklat dari dalam tas Selempangnya.
"Kamu dapat uang segitu banyak dari mana Vin...?" kata Inah saat melihat yang yang di bawa anaknya dan berusaha untuk duduk yang di bantu oleh Davina dan Arum tentunya.
"Ibu gak perlu tau, yang penting keluarga kita bisa bebas dari lintah darat itu" kata Davina yang menyerahkan uang itu pada tangan Inah tapi cepat cepat Inah menolaknya.
"Jawab ibu Vin...kamu dapat uang sebanyak itu dari mana...? gak mungkin kamu di kota baru satu bulan bisa mengumpulkan uang sebanyak itu" kata Inah menatap curiga pada anak perempuannya itu, Davina yang tau arti tatapan Ibunya itu buru buru menundukan kepalanya.
"Jawab ibu vina....! kamu dapat uang sebanyak itu dari mana...??"
"Bu..."
"Jawab Ibu Vina...Uhuk....Uhuk.... Uhuk...." Inah batuk bertubi-tubi setelah Teriak meminta anaknya itu menjelaskan padanya tentang uang yang ank perempuannya itu bawa.
"Uang ini...."
"Uang ini dari..."Kata Davina yang terbata bata saat ingin menceritakan sejujurnya,Davina tidak masalah jika Ibunya itu akan marah besar kepadanya tapi yang ia takutkan sekarang penyakit ibunya yang tambah parah setelah menceritakan semuanya pada sang ibu.
"Dari siapa Vina....? cepat kasih tau ibu...." kata Inah yang sudah tidak sabar.
"Uang ini dari Sua....."
"Davina.....!! keluar kamu....!! jangan coba coba untuk melarikan diri lagi....!!" Teriak seseorang dari luar yang membuat Davina tidak jadi melanjutkan perkataannya.
"Siapa itu...?" Tanya Davina sambil menatap Arum yang sedang berdiri di belakangnya.
"Dari suaranya sih siapa lagi kalo bukan si tua bangka itu" kata Arum yang bisa di pahami Davina bahwa yang di maksud sahabatnya itu adalah juragan Bandot.
"Keluar kamu Davina.....!!" teriaknya lagi.
"Bu, Davina keluar dulu ya" kata Davina yang ingin melangkah tapi tangannya di cegah oleh sang ibu.
"Kamu belum jawab pertanyaan ibu Vina..."
"Bu, nanti Davina pasti cerita in semuanya sama ibu, tapi sekarang Davina harus keluar dulu sebelum juragan Bandot itu bikin keributan di sini" kata Davina.
"Janji?" kata Inah yang membuat Davina diam sesaat di tempatnya.
"Davina keluar kamu.... kalo tidak saya hancurkan rumah ini....!!"
"Iya Davina janji" akhirnya Davina tidak punya jalan lain dan berjanji kepada sang ibu untuk menceritakan semuanya supaya ia bisa keluar dari kamar ibunya untuk menemui juragan Bandot itu.
__ADS_1
***
Jangan lupa Like & Vote 🤗♥️