Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 52


__ADS_3

Davina memegangi satu bersatu jeruk yang ada di keranjang memilih yang bagus dan ia masukkan ke dalam plastik, Pak Mun yang hari ini belanja bulanan mengajak Davina untuk pergi ke pasar membantunya memilih bahan makanan yang sudah menipis.


"Berapa neng?" tanya ibuk penjual buah saat Davina sudah menyerahkan satu kantong berisi jeruk


"Satu kilo aja buk, sama anggur, apel dan pir nya juga satu kilo ya" ucap Davina yang di angguki oleh ibu penjual buah tersebut.


Saat semua barang belanjaannya sudah siap Davina tinggal menunggu pak Mun yang tengah membeli daging di tengah pasar, sebenarnya Davina ingin ikut tapi pak Mun melarangnya karena tempatnya yang jauh dan juga pasti akan banyak orang yang saling dorong satu sama lain.


"Sudah non?" tanya supir William yang melihat Davina diam saja.


"Sudah" jawab Davina.


"Kalo gitu saya bawa ke mobil dulu, non mau ikut apa nunggu pak Mun disini?" tanya sopir itu lagi.


"Vina di aja mang nunggu pak Mun" jawab Davina di sertai senyumannya.


Setalah supir rumah William membawa semua buah buah itu pergi meninggalkan Davina yang masih menunggu pak Mun di dalam pasar, tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu pak Mun pria paruh baya itu langsung terlihat keluar dari dalam pasar dengan membawa kantung plastik di masing masing tangannya.


"Biar Davina bantu pak Mun" tawar Davina dan ingin mengambil kantong belanjaan itu tapi tidak diperbolehkan oleh pak Mun.


"Berat nona, dan ibu hamil gak boleh angkat yang berat berat, biar saya saja lagian saya juga masih kuat" kata pak Mun.


"Bener gak mau Davina bantu? itu banyak banget lo pak Mun" tanya Davina lagi.


"Iyah nona gak papa, sekarang kita pulang" kata Pak Mun yang di angguki oleh Davina mengikuti langkah kaki pak Mun dari samping.


Saat pak Mun dan sopir rumah William yang sibuk memasukan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil, Davina memilih menunggu di samping badan mobil dengan melihat lalu lalang orang yang ada di luar pasar, sampai mata Davina menangkap penjual es cincau yang sepertinya sangat enak, ingin beli pun dirinya lupa membawa uang dan akhirnya Davina hanya bisa menatap penjual es cincau itu.


Pak Mun yang sudah selesai dengan memasukan barang bawaannya ke dalam bagasi beralih menatap nyonya mudanya itu yang tengah berdiri di samping mobil dengan pandangan seperti tertuju pada sesuatu, pak Mun mengikuti arah pandang Davina sampai dirinya juga melihat penjual es cincau dan pasti sekarang Davina menginginkan es itu.


"Nona mau es cincau?" tanya Pak Mun.


Davina langsung tersadar dari lamunannya saat melihat pak Mun yang sudah selesai menata belanjaannya, "En-enggak, sudah semua kan? pulang yuk pak Mun sebelum tuan William cari in" ajak Davina mengalihkan topik pembicaraan dan ingin meraih pintu mobil tapi di cegah oleh pak Mun.

__ADS_1


"Tunggu sebentar Nona, nona di sini sebentar saja pak Mun mau kesana dulu" kata pak Mun yang langsung berjalan sedikit berlari ke arah penjualan es cincau itu.


Sesaat kemudian pak Mun sudah datang dengan satu cup es cincau dan memberikannya kepada Davina, tangan Davina bergetar menerima es itu dari tangan pak Mun, padahal dirinya sama pak Mun baru saja kenal tapi pak Mun sudah melakukan banyak hall untuk dirinya.


"Makasih pak Mun" ucap Davina tersenyum sangat tulus ke arah pak Mun


"Sama sama Nona" jawab pak Mun, dan keduanya langsung masuk ke dalam mobil.


***


Pak Mun menata barang barang kering yang baru saja dari pasar ke dalam lemari penyimpanan, dan Davina memasukan daging, buah, sayur yang sudah di cuci ke dalam kulkas, setelah semua barang tertata dengan rapi keduanya di buat kaget dengan suara William yang kembali muntah muntah dari arah kamar mandi bawah, pak Mun dan Davina saling tatap sebelum keduanya berjalan dengan perasaan khawatir ke arah kamar mandi.


"Tuan?" panggil pak Mun dan Davina secara bersamaan di ambang pintu kamar mandi.


"Anda kenapa tuan?" tanya Davina dengan memijat pelan tengkuk William.


Huek....


"Kalian semua habis dari mana! kenapa baunya bisa busuk seperti ini!" ucap William dengan kesal.


"Keluar!"


"Ta-tapi tuan..."


"Keluar!, ganti baju kalian kalo kalian ingin di sini! jika perlu mandi sekalian!" perintah William.


Pak Mun langsung pergi dari sana beda halnya dengan Davina yang masih tak tega meninggalkan William sendirian di sana.


"kenapa diam saja di situ! ayo keluar!" tegur William, Davina mengangguk kepalanya dan langsung membersihkan dirinya sesuai yang William inginkan.


Sesaat kemudian Davina sudah mandi untuk kedua kalinya di pagi hari dan langsung menyusul William yang ada di kamar mandi tapi William sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan pak Mun yang berjaga di belakangnya karena William yang tidak ingin di papah.


Davina langsung ke dapur untuk menyiapkan air jahe seperti hari hari sebelumnya, selama Davina membikin air jahe di dapur Davina merasa heran dengan mual William itu, saat William tidak mual dan sehat sehat saja justru dirinya yang akan merasakan mual itu begitu pun sebaliknya, tapi belakangan William yang sering mengalami mual dari pada dirinya.

__ADS_1


"Apa ini bagian dari rencana mu tuhan?" guman Davina di dapur, tapi sesaat Davina tersenyum.


"Tuan ini air jahenya" ucap Davina dengan menyerahkan secangkir air jahe ke arah William.


William langsung menerima air jahe tersebut, perutnya yang dari tadi selalu bergejolak perlahan mulai lebih baik saat meneguk air jahe buatan Davina dan entah bagaimana juga William merasa lebih sangat baik saat Davina ada di dekatnya walau hanya duduk bersebelahan.


Davina meraih kaki William tapi dengan cepat William menggeser kakinya, "Mau apa kamu!"


"Saya cuma mau memijat kaki tuan William" kata Davina yang kembali meraih kaki William menaruh di atas pahanya dan kali ini William tidak menolak.


Pijatan lembut dan penuh perasaan itu membuat pagi William sangat bahagia, dan pak Mun untuk pertama kalinya juga melihat senyuman di wajah William beberapa kali dirinya mengucek kedua matanya memastikan apa yang ia lihat bukan bayangannya tapi itu kenyataannya, perlahan pak Mun mengikuti arah pandang majikannya itu yang ternyata tengah menatap Davina.


Davina yang baru saja selesai mandi dengan rambut yang di gulung jadi satu membuat leher jenjangnya terlihat dan itu membuat kesan cantik Davina bertambah.


"Pantas saja anda sampai senyam senyum seperti itu tuan" guman William di dalam hati dengan menahan tawanya.


"Anda ingin saya buatkan bubur tuan?" tanya Davina beralih menatap William.


William dengan cepat menetralkan ekspresi wajah seperti sedia kala dan itu membuat pak Mun semakin tidak bisa menahan tawanya beruntung pak Mun tidak menimbulkan suara.


"Tidak!"


"Apa anda ingin saya buatkan sesuatu untuk anda?" tanya Davina lagi dengan tangan yang masih memijat kaki William.


Sejenak William berfikir ingin makan apa sampai satu jenis makanan terlintas di otaknya makanan yang sudah lama sekali tidak ia makan. "Puding Jagung" jawab William.


Davina menganggukkan kepalanya. "Kalo begitu biar saya buatkan sebentar untuk anda" kata Davina yang ingin beranjak dari duduknya.


"Siapa yang menyuruhmu untuk memasak?" ucap William membuat Davina tidak jadi bangkit dari duduknya.


"Ta-tapi anda ingin makan puding jagung bukan?"


"Iyah, dan itu akan di buat oleh pak Mun bukan dirimu! tugasmu sekarang pijat kaki ku"

__ADS_1


"Ba-baik tuan" Jawab Davina yang kembali memijat kaki William dan Pak Mun yang langsung melesat me dapur untuk membikin pesanan William.


__ADS_2