
"Selamat siang" semua pandangan mata beralih menatap seorang pria yang tengah berjalan kearah meja makan.
"Siapa yang suruh kau menginjakan kaki dirumah ku!" raung William saat orang tersebut adalah Ali yang masuk kedalam rumahnya tanpa izin.
Melihat William yang terbakar api amarah Davina mengusap lengan suaminya lembut. "Sayang jangan marah-marah"
Berjalan semakin mendekat Ali menatap Davina sebentar sebelum menatap wajah amarah William. "Aku kesini mau minta maaf kepada mu dan juga Davina. Maaf hari itu aku memancing amarahnya mu sehingga Davina yang menjadi korbannya"
"Kau tau kata maaf mu itu tidak sebanding dengan apa yang telah kau lakukan!, ingin rasanya aku menyeret mu ke kantor polisi sekarang juga!"
Melihat suaminya bangkit dari duduknya Davina langsung berdiri di sisi pria itu. "William tenangkan dirimu, jangan bawa-bawa kantor polisi lagi kali ini, anggap saja hari itu musibah kecil yang menimpaku"
"Tak apa Vina kalo suami mu ingin menuntut ku sekarang juga, mengingat aku yang hampir menghilangkan nyawamu dan bayi mu hari itu"
"Dan sangat wajar juga jika kau membunuh mu detik ini juga!" ucap William menekan setiap kalimatnya.
"William bisakah kau tidak usah mengancam segala seperti itu?, kak Ali datang kemari buat meminta maaf kepada mu bukan mau mencari gara-gara dengan mu"
"Tapi dia sudah membuat mu celaka-"
"Kalo kamu tidak bisa memaafkannya biar aku saja yang memberikan maaf itu" potong Davina beralih menatap Ali yang berdiri di hadapan suaminya. "Vina sudah maafkan kakak jauh sebelum kakak meminta maaf sama Vina"
"Pesan Vina hanya satu sama kakak jangan sekali-kali lagi melakukan hal seperti itu kepada siapapun"
Ali mengangguk paham akan ucapan tersebut ia juga merasa sangat bersalah telah ikut campur rumah tangga orang lain yang bukan urusannya sama sekali. "Iyah kakak janji tidak akan melakukan hal gila itu lagi, dan ini kado buat kamu dan anak mu" menyodorkan paper bag ditangannya kearah Davina.
Baru saja Davina ingin meraih paper bag tersebut sudah lebih dahulu di ambil oleh William. "Anak ku sudah terlahir kaya jadi tidak membutuhkan barang-barang seperti ini"
__ADS_1
"William" tegur Davina memukul lengan suaminya pelan. "Jangan terlalu dimasukan ke hati ucapannya kak, William hanya bercanda"
"Siapa yang au..." ucapan William terpotong lebih dahulu saat tangan Davina mencubit pinggangnya.
Melihat pasangan dihadapannya begitu lucu Ali mengeleng kepalanya kecil. "Aku juga tahu suami mu itu hanya bercanda bukan begitu bung?"
Melayangkan tatapan tajam kepada pria dihadapannya Ali mengangkat kedua jarinya membentuk angka dua.
"Kak Ali silahkan duduk sekalian kita makan siang bersama" ajak Davina.
"Mejanya penuh" Jawab William kembali duduk di kursinya.
"Siapa bilang ibu sudah selesai makan dan mau pergi sebentar keluar" ucap Inah membuat William menghela nafas panjang. "Nak Ali duduk sini" bangkit dari duduknya Inah mempersilahkan pemuda itu untuk duduk.
"Ibu sama Alif mau ke penjara sebentar" semuanya mengangguk mengiyakan ucapan Inah.
Sampainya di kantor polisi Inah dan Alif disuruh untuk menunggu sebentar. Dari kejauhan Diki menatap wajah kedua orang yang ia harap mengunjunginya kini benar-benar berada di sini.
"Inah, Alif" panggilannya.
Menaikan pandannya Alif berjalan mendekat kearah Diki, memeluk tubuh tersebut dengan erat. "Ayah kemana saja selama ini? kenapa ayah tidak pernah pulang kerumah?"
"Maafkan ayah nak" melepaskan pelukannya Diki menatap wajah putranya yang sudah sangat besar sekarang. "Anak ayah sudah besar sekarang"
"Mas" panggil Inah pelan.
Beralih menatap Inah yang berdiri ditempatnya Diki berjalan menghampiri istrinya. "Kamu apa kabar?" tanya Diki basis-basis. Dari penampilan Inah sekarang dirinya bisa memastikan istrinya itu hidup dengan tenang sekarang.
__ADS_1
"Baik" jawabannya singkat.
Ketiganya duduk membicarakan hal-hal ringan, lebih tepatnya Alif yang selalu bercerita tentang hari-hari yang sudah sangat berubah seperti dulu. Kalo dulu dirinya dan sang Ibu harus berkeliling menjajakan gorengan ke desa satu ke satunya lagi dan harus menerima rugi akibat dagangannya yang tak laku, kali ini kehidupannya benar-benar berubah menjadi lebih baik akibat kebaikan William, bahkan dengan bantuan kakak iparnya tersebut juga Alif dapat bersekolah di sekolah impiannya tanpa memikirkan biaya yang harus mereka tanggung.
Puas Alif bercerita kepada sang Ayah Inah memintanya agar kembali ke dalam mobil terlebih dahulu karena ia harus membicarakan hal penting empat mata dengan suaminya, mengangguk patuh Alif kembali kedalam mobil sesuai ucapan sang ibu.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Diki setelah Alif pergi.
Merogoh isi tasnya Inah mengeluarkan amplop berwarna putih dan menyodorkannya ke arah Diki. "Aku mau kita bercerai mas" ucapnya satu kali tarikan nafas.
Menerima amplop putih dari tangan istrinya Diki melihat isi dalamnya, membaca setiap tulisan hitam tersebut Diki mengulas senyuman terpaksa di wajahnya ia harus menerima keputusan yang dipilih Inah sekarang dan tidak boleh bersikap egois seperti dulu.
"Aku setuju" jawabnya dengan menundukkan wajahnya.
Keduanya saling diam sibuk dengan pikiran mereka masing-masing suasana cangung begitu terasa diantara keduanya sekarang sampai polisi mengatakan waktu besuk telah habis.
"Aku punya sesuatu buat Mas" menyodorkan paper bag di tangannya. "Aku harap mas bisa datang ke pengadilan agama dua minggu lagi" ucap Inah saat Diki telah menerima paper bag ditangannya.
"Iyah" jawabnya singkat.
Kembali kesel tahanan Diki membuka apa isi dari paper bag yang lumayan besar tersebut, mendapati sebuah sajadah dengan Al-Qur'an di dalamnya tangan Diki bergetar memegang kedua benda tersebut.
"Maafkan aku tuhan yang telah jauh dari dirimu" ucapnya lirih memeluk kedua benda ditangannya.
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️
__ADS_1