Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 82


__ADS_3

Davina yang baru saja mendapatkan kabar duka dari sang suami bahwa mama mertuanya meninggal dunia beberapa saat lalu membuat gadis itu ingin melihat keadaan Tanti sebelum di bersihkan. Tapi sayangnya di waktu yang bersamaan dokter yang menangani sang anak memberitahu bahwa Arsalan tiba-tiba saja menangis.


William menghapus jejak air mata Davina yang masih tersisa. "Sudah tidak apa, Arsalan lebih membutuhkan mu sekarang"


"Tapi mama-"


"Mama ada aku, aku yang akan mengurus jenazah mama" ucap William lembut berharap Davina tidak keras kepala dalam situasi seperti ini. "Kalo kamu ingin ke makam mama aku akan membawamu setelah kamu keluar dari sini"


Menimbang-nimbang ucapan sang suami akhirnya Davina mengiyakan ucapan William yang ada benarnya. Arsalan yang baru saja lahir secara prematur pasti lebih membutuhkan dirinya untuk mendapatkan asupan makanan.


Mengecup kening Davina lama William berpamitan untuk pergi mengurus jenazah sang mama dan akan segara kembali setelah memastikan semuanya selesai.


Di bantu dokter dan suster Davina kembali ke ruangan inkubator untuk menyusui Arsalan yang nampak sangat kehausan saat menghisap ****** sang mama. Setelah di Pastika sang anak sudah kenyang Davina kembali ke kamarnya menunggu sang suami di atas brankar.


***


Di tempat pemakaman umum William, Danu dan Max di bantu beberapa orang lainnya baru saja menyelesaikan acara pemakaman. Tanah yang dulunya kosong di samping sang Ayah kini sudah di isi oleh sang mama. William dulu sengaja membeli tanah itu karena ia pikir dirinya akan menyusul sang ayah tapi tuhan menggariskan takdir yang berbeda lagi untuk dirinya.


"Kenapa di saat kita mulai di pertemukan tuhan kembali mengambil mama setelah papah dari ku" isak William. Mengusap batu nisan Tanti dengan lembut pria itu menghapus air matanya yang tidak bisa ia hentikan untuk terus keluar.


Danu yang duduk di samping William mengusap pundaknya."Rencana tuhan memang tidak ada yang tahu kapan kita akan di panggil oleh sang pencipta. Tapi satu yang harus kamu ambil dari pelajaran ini bahwa tuhan masih memberikan mu hidup karena dia ingin melihat kamu berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi"


William hanya tersenyum membalas ucapan Danu dengan menatap batu nisan sang mama. "Om benar sekarang aku sudah menjadi seorang ayah dan aku akan mengajari putraku dengan baik agar ia tidak menjadi seperti diriku dimasa lalu"


"Sekarang kita pulang om yakin istrimu sudah menunggu mu di rumah sakit" William menganggukan kepalanya. Berdiri dari duduknya ia menatap makam Eko dan Tanti secara bergantian berat rasanya meninggalkan tempat ini tapi ia harus kembali lagi ke rumah sakit mengingat Davina pasti khawatir dengannya.


Seperti biasa Max duduk di jok depan sedangkan William dan Danu duduk di belakang kedua orang itu masing-masing membuang pandangan mereka ke arah jalan.


"Apa kamu akan menyiksa ayah mertua mu sendiri?" ucap Danu memecah kesunyian.


William beralih menatap Danu yang masih membuang pandangannya ke arah luar. "Dia sudah terlalu jahat selama ini"


Danu menatap sang keponakan. "Mungkin bagimu dia sangat jahat tapi bagi istrimu dia tetap kandungnya"


"Davina memang seperti itu selalu menatap seseorang dari sisi baiknya tanpa mau melihat dari sisi buruknya"

__ADS_1


"Itulah kelebihan yang dimiliki istrimu yang sangat jarang dimiliki wanita lain" puji Danu.


"Om harap kamu tidak menyiksanya, sekalipun dia harus mendapatkan hukuman biar pihak yang berwajib saja yang melakukan hal tersebut"


"Tapi-"


"Apa kamu ingin membuat hati istrimu tersakiti lagi dengan menyiksa ayahnya?" potong Danu, William mengelengkan kepalanya ia juga tidak mau menyakiti hati sang istri tapi bukankah Diki juga harus mendapatkan hukuman. "Om cuma menasihati saja, kamu baru memulai kehidupan yang lebih baik dengan istrimu dan jangan cuma karena perbuatan kamu itu Davina akan meninggalkan mu dan akan membawa serta putra kalian"


"Kenapa om bicara seperti itu!" kesal William, bukannya mendukung Danu malah menakut-nakutinya dirinya seperti tadi.


"Karena om tidak ingin kamu menyesal setelah bertindak"


Akhirnya William memilih diam tak menjawab ucapan Danu yang semakin mengarah ke hal-hal yang membuatnya berfikiran negatif. Mengantarkan Danu kembali kerumahnya terlebih dahulu baru Max menuju melakukan mobilnya ke rumah sakit.


Sampai di depan lobi William memerintahkan Max untuk kembali ke tempat penyekapan. Melangkahkan kakinya William menuju ruang rawat sang istri, baru saja pintu terbuka ia melihat Davina yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi bersama seorang suster.


Mengambil alih sang istri dari susuter yang membantunya William memerintahkan suster itu agar pergi.


"Apa semuanya lancar?" tanya Davina yang sudah merebahkan tubuhnya di atas brankar.


Melihat raut sedih yang masih terpancar di raut wajah sang suami tangan Davina terulur mengusap rahang keras milik William. "Jangan sedih kalo kamu sedih mama juga akan ikut sedih"


William mengenggam tangan Davina yang mengusap wajahnya. "Apa kamu ingin bertemu dengan ayah mu?"


Tubuh Davina seketika membeku mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut suaminya. "Apa kamu bertemu dengan ayah ku?" tanya Davina dengan suara penuh harap.


Mendengar nada bicara Davina yang berbeda saat membahas sang ayah membuat William takut kalo benar apa yang di ucapkan Danu itu nyata.


"William jawab, apa kamu bertemu dengan ayah ku?" tanya Davina sekali lagi saat pria di hadapannya hanya diam saja.


William menganggukkan kepalanya lemah. "Iyah"


Davina tersenyum senang mendengar hall itu ia semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan William. "Dimana dia sekarang? apa dia ada di luar?, atau apa dia ada di ruangan inkubator untuk melihat cucunya?" cecer Davina.


"Aku mau menemuinya" berusahalah bangun dari tidurnya William mencegah tubuh itu untuk bangun dan membaringkannya lagi.

__ADS_1


"William aku ingin bertemu dengan ayah ku" ucap Davina kesal tapi nada bahagia dari gadis itu tidak luput dari pendengaran William.


"Dia tidak di sini Vina"


Davina menatap wajah itu dengan tatapan bingung. "Tadi kamu bilang kalo kamu bertemu dengan ayah ku, tapi kenapa dia tidak ada di sini?"


"Dia ada di suatu tempat" ucap William yang tak berani mengatakan tempat itu.


"Aku ingin bertemu dengannya William, tolong antar aku kesana" pinta Davina sedangkan pria yang di ajak bicara tidak menanggapi ucapannya.


"William tolong antar aku ke sana aku sangat rindu dengan ayah ku" lanjut Davina, sudah sangat lama ia tidak melihat wajah sang ayah dan saat ia mendapatkan kabar tentang keberadaan sang ayah Davina tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat wajah itu.


"Apa kamu sangat merindukannya?"


"Pertanyaan macam apa itu?, sudah pasti aku sangat merindukannya karena dia ayah ku! ayah kandung ku!"


"Apa kalo dia tidak ingin menginginkan mu kamu masih bisa menerimanya?"


"Apa yang kamu bicarakan!, mana ada ayah di dunia ini yang tidak menginginkan anaknya sendiri!" marah Davina.


Melihat sang istri yang mulai marah William tak jadi meneruskan ucapannya. Mengusap surai hitam milik Davina William tersenyum hangat ke arah gadis itu. "Iyah aku akan mengajak mu kesana tapi tidak sekarang"


"Kenapa tidak sekarang saja?, aku ingin bertemu dengannya aku takut dia pergi lagi William"


Hati William terasa sakit mendengar hall itu bagaimana bisa saat ayahnya tidak ingin keberadaannya tapi Davina yang malah ketakutan kehilangan sang ayah.


"Dia tidak akan pergi lagi Davina, tapi sekarang yang terpenting kamu harus sembuh terlebih dahulu dan saat kamu sudah diperbolehkan pulang nanti aku akan membawamu ke ayah mu"


"Janji?"


"Iyah aku janji"


****


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️.

__ADS_1


__ADS_2