
Dua minggu berlalu begitu cepat dan hari ini baby Arsalan sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit membuat Davina dan William yang mendapatkan kabar baik tersebut tadi malam, pagi-pagi sekali keduanya sudah berangkat ke rumah sakit untuk menjemput putra mereka. Menunggu dokter yang sedang mengambil baby Arsalan Davina tiada hentinya memperhatikan sang putra dari luar ruangan.
Memberikan secara perlahan Arsalan pada sang mama, Davina bisa merasakan kulit putranya yang sudah lebih halus dari pada hari pertama ia memegangnya, apa lagi wajah Arsalan yang mirip dengan dirinya membuat Davina tiada henti menciumi wajah gemas itu.
"Apa boleh sebelum pulang kita datang menemui ayah dulu?" tanya Davina menghentikan langkahnya di samping mobil.
"Tentu saja boleh, aku yakin ayah juga senang saat kamu bawa Arsalan"
"Makasih"
Mengukir senyumannya William membukakan pintu mobil mempersilahkan Davina masuk terlebih dahulu, memastikan sang istri sudah masuk William langsung masuk ke dalam mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Jarak rumah sakit dan kantor polisi yang kebetulan tidak terlalu jauh membuat keduanya cepat sampai, di persilahkan untuk menunggu terlebih dahulu William terus memandangi wajah Arsalan yang tegah tertidur dengan nyenyak didalam pelukan sang mama.
"Kenapa lama sekali" tanya Davina tak sabar.
Melihat sang istrinya selalu merasa tak sabar saat menunggu sang ayah William mendaratkan satu kecupan di wajah cantiknya. "Sabar mungkin ayah lagi melakukan sesuatu di dalam sana"
"Lihat dia" ucap William menatap Arsalan membuat Davina juga mengikuti arah pandang sang suami. "Dia kalo sedang tidur sama seperti diri mu, bibirnya akan maju lima centi kedepan"
"Jangan sok tahu"
"Aku tidak sok tahu, dan lihat" keduanya kembali fokus menatap Arsalan saat bibir bayi itu bergerak. "Kamu juga seperti itu selalu menggerakan bibirmu seperti orang minta dicium saja"
Menatap lekat bola mata hitam milik Davina William mulai mendekatkan wajahnya secara perlahan. Melihat William yang mendekat ke arahnya membuat perasaan Davina mulai tidak enak. "Kamu mau ngapain!" cegah Davina menarauh satu tangannya pada dada bidang William.
"Mencium mu" ucapnya tanpa rasa malu.
"William di sini banyak polisi dan jangan bikin tindakan pelecehan disini!" apa? apa telinganya tidak salah dengar saat sang istri bilang kalo dirinya ingin melakukan pelecehan, terhadap istrinya sendiri?.
"Kamu istriku bukan gadis yang masih bersegel" cibir William.
Blus wajah Davina langsung memerah seperti udang rebus mendengar perkataan itu, memang benar ia bukan gadis bersegel lagi tapi kenapa pria ini tak tahu malu bisa bilang seperti itu terang-terangan di depan umum seperti ini.
"Kamu-"
"Davina" perkataan Davina terpotong saat Diki datang dan tengah tersenyum hangat kearah keduanya.
"Waktu besuk hanya sepuluh menit" ucap polisi wanita yang mengantar sang ayah.
Davina hanya menganggukkan kepalanya cepat dan memulai obrolan mengingat waktu yang diberikan sangat terbatas. "Ayah apa kabar"
"Ayah baik" Diki tersenyum senang saat Davina benar-benar sering mengunjunginya ke sell tahanan. "Apa itu cucu ayah?" tanya Diki menatap wajah bayi laki-laki dalam gendongan sang putri.
"Iyah ini cucu ayah, namanya Arsalan" jawan Davina memperlihatkan wajah Arsalan yang sedikit ketutupan kain.
"Apa ayah boleh mengendong nya?" tanya Diki penuh harap.
Mendengar keinginan ayah mertuanya dengan cepat tangan William langsung menyentuh paha Davina membuat gadis itu menatap wajah sang suami yang nampak ragu, tak ingin mengecewakan sang ayah Davina hanya mengulas senyum pada wajah cantiknya meyakinkan bahwa Arsalan akan baik-baik saja.
"Boleh" melihat istrinya mulai menyerahkan Arsalan pada pelukan Diki membuat pria itu selalu menatap gerak-geriknya dengan intens.
"Dia sangat tampan"
"Iyah, persis seperti ayahnya" ucap Davina menatap William yang masih menatap sang ayah.
__ADS_1
Menimbang-nimbang cucunya dengan penuh kasih sayang Diki menatap wajah Davina yang tengah duduk si sampingnya. "Apa ibu dan Alif ada di sini?"
"Iyah, dan mereka masih di rumah dan katanya akan kesini setelah kami pulang dari rumah sakit" Diki menganggukkan kepalanya merasa tak sabar ingin melihat seberapa besar Alif sekarang.
Inah dan Alif memang sudah berada di kota sejak dua hari yang lalu atas permintaan Davina mengingat bahwa Inah yang belum melihat wajah cucunya dan meminta William agar menyuruh Max untuk menjemput ibu dan adek iparnya ke kampung.
Sedangkan Diki, pria paruh baya tersebut harus mendekam di dalam penjara dalam waktu yang lumayan lama mengingat pasal berlapis yang harus ia terima atas perbuatannya. William yang hanya ingin menuntut ayah mertuanya dalam pemalsuan tanda tangan saja membuat Diki merasa itu masih kurang atas berbuatan nya selama ini dan meminta agar semua kejahatannya di bayar lunas dengan dirinya mendekam di dalam jeruji besi.
"Jam besuk sudah berakhir" suara tegas itu membuat obrolan hangat Davina dan Diki berakhir.
"Ayah, tadi sebelum kesini Davina masakin makanan kesukaan ayah, ayah harus makan yang banyak biar gak sakit" ucap Davina menyerahkan kotak berisi makanan.
"Pasti ayah makan sayang" mengusap surai hitam milik Davina lembut Diki mendaratkan kecupan ringan pada kening putrinya. Menyerahkan kembali Arsalan pada Davina Diki juga mendaratkan ciuman di pipi tembem milik Arsalan. "Jaga cucu ayah baik-baik, dan setelah ayah keluar dari sini ayah akan mengajaknya main"
"Boleh bukan?" tanya Diki menatap William yang sejak tadi hanya diam saja.
Mendapatkan pertanyaan tersebut William merubah tatapan matanya lembut, melihat tatapan mata William yang cepat sekali berubah dalam hitungan detik membuat Davina geleng-geleng sendiri. "Te-tentu, Arsalan pasti senang kalo kakeknya mengajak bermain"
"Ayah titip Davina, jaga dia baik-baik" ucap Diki yang tak pernah bosan mengingatkan William akan hal tersebut.
"Pasti"
Bangun dari duduknya Diki diarahkan kembali ke dalam sel, baru saja keduanya hendak keluar dari ruangan besuk Danu lebih dulu menghubunginya mengatakan bahwa ia sedang berada di rumah dan meminta William agar segera membawa Davina pulang.
Mengiyakan ucapan sang om keduanya langsung berjalan pulang tak ingin orang rumah menunggu mereka terlalu lama. Walau keduanya tahu orang rumah tak sabar untuk melihat baby Arsalan yang sudah di perbolehkan pulang.
Memarkirkan mobilnya di halaman rumah kali ini Davina tak melihat pak Mun dan dayang-dayang William yang tak menyambut kedatangan mereka di teras rumah. Merasa hall ini jauh lebih baik dari pada harus di sambut bak putri kerajaan Davina melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
"Selamat datang" suara begitu heboh nan meraih dari dalam rumah berasal dari ibu, Alif,Om Danu dan tiga orang teman Davina.
"Kita si sini buat nyambung keponakan kita" ucap Sekar mengambil alih baby Arsalan dari gendongan sang mama.
"Kamu jahat Vina!, masa dari kamu hamil sampai kamu lahiran aku gak di kasih tau" kata Arum kesal saat ia baru saja mendapatkan kabar bahwa Davina sudah melahirkan sejak dunia minggu yang lalu.
"Iyah tau-tau udah brojol tuh anaknya?" imbuh Mia.
Mengajak teman-temanya duduk terlebih dahulu Davina menata berganti wajah sahabatnya. "Terus kalian tau dari mana aku udah lahiran?, dan mbak Mia sama Sekar kok bisa tau rumah aku?"
"Kalo aku ibu kamu yang datang kerumah ku dan ngajak aku ke kota katanya kamu udah lahiran, antara percaya sama gak percaya sih ya udah aku ikut aja buat masti in"
"Kalo mbak Mia sendiri?" tanya Davina menatap Mia yang asik mengusap pipi sang anak.
"Tadi pagi ada dua orang bertubuh kekar kerumah mbak dan salah satu dari mereka bilang kalo kamu udah lahiran dan minta mbak untuk kesini awalnya mbak ragu-ragu tapi mau gimana lagi mbak udah terlanjur penasaran ya udah ikut aja"
"Kalo kamu Sekar?"
Menyerahkan baby Arsalan pada Inah Sekar menatap wajah Davina dengan sedikit kesal dan bergantian menatap wajah William yang tanpa ekspresi sama sekali. "Kenapa kamu tidak bilang kalo kamu menikah dengan pria seperti dia!" ucap sekar menunjuk wajah datar William.
"Kamu kenal sama William?" tanya Davina penasaran.
"Bagaimana aku tidak kenal kalo dia saja teman kecil aku!" ucap Sekar to the poin.
"Ja-jadi kalian berteman?" tanya Davina menatap wajah William yang malah menaikan kedua bahunya.
"Aku tidak kenal"
__ADS_1
Mendengar penuturan yang sangat mudah sekali di layangkan pria itu ingin rasanya Sekar melempar ranting kayu seperti dulu saat William dengan nakalnya membuang boneka kesayangannya ke dalam kolam ikan.
"Dasar dari dulu kenakalannya tidak pernah berubah!"
"Tapi tunggu dulu jarak umur kalian sangat jauh dan bagaimana kalian bisa berteman?" tanya Davina melayangkan kebingungannya.
Sekar menarik nafas dalam meredam emosi yang selalu muncul saat melihat wajah tanpa dosa milik William. "Dulu keluarga ku pindah dari luar kota ke sini dan kebetulan rumah ku dengan rumah William bersebalahan, karena di kompleks tempat aku tinggal tidak ada anak seumuran dengan ku mama selalu membawa ku kerumah William setiap harinya agar aku memiliki teman, iyah memang awalnya William baik tapi hanya saat mama ku ada saja setelah mama pergi suami mu itu membuat ku menjadi bahan penindasan"
"Aku tidak pernah menindas mu" ralat William.
"Terus siapa orang yang mengikatku di bawah pohon mangga depan kompleks dan meninggalkan ku begitu saja?, siapa orang yang membuat poniku panjang sebelah?, dan siapa orang yang selalu menghilangkan sebelah sendal ku kalo bukan kamu!"
"Beruntung hanya sendal yang aku hilangkan saat itu, kalo aku mau aku bisa menghilangkan berserta pemiliknya juga!"
"Kau-"
"Sudah-sudah kalian ini bukannya bersenang-senang malah berantem" lerai Danu saat kedua orang itu tak kunjung menghentikan perdebatannya.
"Lebih baik sekarang kita makan, tadi mama sama pak Mun sudah masak makanan banyak sekali"
"Itu lebih bagus kalo harus berdebat dengan pereman cemen yang beraninya sama perempuan!" sindir Sekar beranjak dari duduknya mengikuti langkah Inah yang menuju dapur.
Semua orang beranjak dari duduknya berjalan ke arah meja makan meninggalkan Davina dan William yang masih berada di tempatnya. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" ujar William saat sang istri menatapnya secara terus-menerus.
"Aku baru tau kamu se-nakal itu dengan anak kecil"
"Itu hanya masa lalu Vina, kamu tidak tau saja kalo sekar dulu selalu mengintili ku kemana saja aku pergi, bahkan dia dengan polosnya masuk ke dalam kamar mandi saat aku buang air besar"
"Benarkah?" tanya Davina menahan gelak tawanya.
"Iyah dan sebagai imbalannya aku mengikat dia di bawah pohon mangga depan kompleks"
"Apa orang tuanya tidak marah?*
"Tidak, entah kenapa saat aku selalu mengusilinya kedua orang tua anak itu tidak pernah memarahi ku"
"Aku tidak percaya"
"Kalo kamu tidak percaya ya sudah, dan salah satu alsan aku pindah rumah juga karena itu agar sekar tidak lagi menganggu kehidupan ku, bisa gila aku kalo aku terus tinggal di rumah ayah yang dulu"
Melihat wajah William yang kesal Davina menarik kedua sisi pipi pria itu gemas. "Jangan terlalu kesal, aku tidak ingin melihatmu semakin tua sebelum Arsalan besar"
"Kamu mengatai ku tua?"
"Sedikit"
"Aku akan buktikan kepada mu seberapa tuannya aku!" menarik Davina masuk kedalam pelukannya William sudah bersiap mendaratkan bibirnya pada bibir Davina kalo saya suara cempreng itu tidak menganggu aktivitasnya.
"Woi! makan dulu bos, main nyosor aja!" teriak Sekar dari arah meja makan dimana semua orang tengah menatap kearah keduanya akibat teriakan Sekar yang begitu kencang.
"Kamu lihat sendiri bukan seberapa resenya dia!" garam William.
"Sudah jangan marah-marah terus lebih baik kita makan sekarang" menarik tangan sang suami keduanya berjalan ke meja makan bergabung dengan yang lainnya.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️