
"Anda sebaiknya tunggu di luar saja tuan" ucap dokter Hermawan memberhentikan langkah William di depan pintu UGD.
"Tapi istriku sendirian didalam" ucap William menatap pintu UGD yang tertutup.
"Saya dan tim dokter yang lainnya akan mengecek keadaan nona Davina, anda sebaiknya berdoa saja tuan semoga semuanya baik-baik saja" ucap dokter Hermawan menepuk pundak William memberikan pria itu kekuatan walau dirinya sendiri tak yakin setelah melihat keadaan Davina tadi.
Menatap datar pintu UGD yang kembali tertutup William menjatuhkan tubuhnya di atas lantai tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang tengah menatapnya. Bulir bening jatuh begitu saja dari kedua pelupuk matanya.
"William awas!!"
BRAK....
Teriakan itu suara tabrakan yang sangat kencang itu terus berputar di dalam otak William membuat pria itu meremas rambutnya sendiri dengan sangat kuat.Bagaimana bisa gadis itu menyelamatkan dirinya saat dirinya sendiri kalo ia tengah mengandung buah hati mereka. "Bodoh!, bodoh!, bodoh!"
"Kamu lihat perbuatan kamu William istri dan anak kamu masuk UGD dan kamu bahkan tidak tau keadaan mereka sekarang!, kenapa kau selalu mendahulukan emosi mu dari akal sehat mu!!"
"Bodoh!,bodoh!,bodoh!"
"Tuan cukup" Max menahan kedua tangan William yang terus memukuli kepalanya. Max yang mendapatkan kabar bahwa istri atasannya mengalami kecelakaan dan langsung di larikan ke rumah sakit membuatnya pergi begitu saja dari ruangan penyekapan Diki tapi sebelum ia pergi Max sudah memerintahkan agar anak buahnya menjaga Diki sangat ketat sampai dirinya kembali nanti.
"Istri dan anak ku di dalam Max" ucap pria itu lirih bangun dari tempatnya di bantu oleh Max.
Membawa tubuh atasannya ke kursi rumah sakit Max mencoba menenangkannya. "Saya yakin tim dokter akan melakukan yang terbaik untuk nona Davina tuan"
"Kalo mereka tidak baik-baik saja bagaimana?" tanya William dengan tatapan tanpa arah.
Ceklek...
Mendengar suara pintu terbuka William langsung berjalan menuju dokter Hermawan yang keluar dari dalam UGD.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya?, mereka baik-baik saja bukan?" tanya pria itu penuh harap.
Dokter Hermawan menarik nafas panjang sebelum ia menyampaikan keadaan Davina. "Nona Davina mengeluarkan darah yang sangat banyak akibat kecelakaan itu dan..."
"Dan apa!, kenapa kau suka sekali mengantung ucapan mu!"
"Tuan tahan emosi anda" ucap Max mencoba menenangkan William yang di buat penasaran oleh dokter Hermawan.
"Dan akibat benturan yang sangat keras pada perut nona Davina detak jantung anak anda melemah tuan dan anda sebagai suami dari nona Davina harus memberikan kami tim dokter izin untuk melakukan operasi sekarang juga atau tidak janin nona Davina tidak bisa diselamatkan lagi"
Deg...
"I-itu artinya anak saya lahir prematur?" tanya William dengan suara parau.
"Iyah tuan, karena kita tidak memiliki jalan lain lagi selain operasi"
William mengusap wajahnya dengan kasar saat anaknya harus lahir secara prematur, bukannya ia tidak senang anaknya lahir tapi kalo anaknya saja lahir secara prematur bagaimana dengan keadaan sang istri di dalam sana yang tengah terbaring lemas di atas brangkar?.
"Kami akan berusaha sekuat tenaga tuan tapi sebelumnya anda harus tanda tangan dulu data-data ini" dokter Hermawan menyodorkan data-data operasi yang harus di tanda tangani William.
Tanpa pikir panjang William langsung menandatangani surat itu mengembalikannya kepada dokter Hermawan menerima data-data tersebut Dokter Hermawan kembali masuk kedalam ruangan. Tidak berselang lama pintu UGD terbuka dengan lebar beberapa orang perawat dan juga dokter mendorong brankar Davina menuju ruang operasi.
Melihat Davina keluar masih dengan keadaan tidak sadarkan diri William meraih jari-jari mungil Davina di genggamnya tangan itu dengan berjalan mengikuti langkah kaki tim dokter yang lainnya.
"Anak kita sebentar lagi akan lahir dan kita sebentar lagi akan menjadi orang tua dan aku mohon sama kamu sayang setelah ini buka mata kamu untuk melihat wajah anak kita" ucap William menatap wajah pucat Davina.
"Jangan takut karena aku selalu berada di sini menunggu mu dan anak kita" mendaratkan ciuman di kening Davina William menciumnya untuk waktu yang lama dengan air mata yang berjatuhan.
Max menarik kedua pundak atasannya membiarkan tim dokter mendorong brankar sang istri masuk kedalam ruang operasi yang sangat dingin.
__ADS_1
"Apa mereka akan baik-baik saja Max?" tanya William untuk pertama kalinya menunjukan sisi rapuhnya pada orang lain.
Mendengar atasannya bertanya seperti itu bulu kudu Max meremang seketika saat suara parau itu menelusup ke hatinya. "Mereka pasti baik-baik saja tuan"
"Sebaiknya kita duduk saja dan berdoa yang terbaik untuk keselamatan nona Davina tuan" ajak Max.
"Tidak aku ingin di sini, aku ingin mendengar suara anak ku" tolak William berjalan semakin mendekat ke pintu ruang operasi.
Membiarkan atasannya melakukan apapun yang ia inginkan Max memilih mendudukan tubuhnya di kursi yang tidak jauh dari keduanya menatap William yang terus menatap pintu ruang operasi dengan lampu yang
berwarna merah menandakan operasi baru saja akan di mulai.
Suasana hening menyelimuti lorong ruang operasi tersebut yang hanya ada William dan Max kedua orang itu terus menatap lurus kedepan dengan tangan yang mulai mendingin karena hawa William yang bisa Max rasakan Max begitu kuat.
Empat puluh menit berlalu, lampu ruang operasi masih berwarna merah membuat William yang sejak tadi berdiri di depan pintu tersebut di buat gusar karena tidak ada satupun tanda-tanda anaknya telah lahir.
"Kenapa lama sekali" ucap William frustasi, pikirannya tidak bisa di ajak kerja sama saat bayang-bayang nya berkeliaran tentang hall yang aneh-aneh.
Tidak berselang lama suara bayi yang begitu merdu terdengar dari dalam ruang operasi, William yang tadinya mondar-mandir tidak jelas mengentikan langkahnya menatap pintu ruang operasi dengan perasaan haru akhirnya anaknya telah lahir dan menambah warna kehidupannya. Tiada henti William mengucapkan syukur kepada tuhan yang telah memperlancar persalinan Istrinya.
Mendengar suara bayi Max bangun dari duduknya mendekat kearah William yang tengah menatap tak percaya. "Selamat tuan anda sudah menjadi seorang Ayah sekarang"
Tanpa aba-aba William langsung memeluk Max yang berdiri di sampingnya dengan kuat, perasaan bahagia kini tak dapat luput dari diri William sehingga ia memeluk asistennya itu."Dia sudah lahir Max"
Max yang tadinya mematung di tempat karena William memeluknya secara tiba-tiba menepuk punggung
atasannya pelan. "Iyah tuan, selamat sekali lagi"
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️