
Waktu terlalu cepat berlalu kini sudah dua bulan Davina tinggal di rumah William dan menjadi Istri sah dari William, selama dua bulan ini juga tidak ada yang berubah semuanya masih sama, Davina yang masih tidur di kamar pembantu, pekerjaan paruh waktu yang masih di lakukan Davina sampai saat ini, dan sikap William yang kadang masih kasar dengannya membuat Davina sudah kenyang akan hinaan yang keluar dari mulut tajam milik William tersebut.
Huek....huek....huek....
Davina memuntahkan isi perutnya di wastafel dapur saat dirinya tidak tahan akan bau amis yang timbul akibat ayam yang baru saja ia keluar dari dalam kulkas, dan sudah dua minggu ini Davina merasakan mual setiap paginya, awalnya ia pikir itu hanya karena masuk angin biasa tapi lama kelamaan mualnya itu tidak wajar.
"Anda baik baik saja Nona?" tanya pak Mun saat melihat Davina dengan wajahnya yang kelihatan pucat.
"Saya baik baik saja pak mun, mungkin ini cuma masuk angin biasa" kata Davina dengan tangan yang memijat keningnya yang terasa sedikit pusing.
"Sebaiknya Anda istirahat saja Nona,saya takut anda Kenapa kenapa" kata pak Mun saat melihat Davina berjalan ke arah meja dapur lagi.
"Saya gak apa apa pak Mun, kalo masuk angin kaya gini aja saya masih biasa kok untuk memasak" kata Davina dan tangannya meraih wortel di keranjang dan hendak memotongnya tapi pisau yang di gunakan Davina jatuh ke lantai.
"Nona... sebaiknya anda istirahat saja di kamar, biar saya antar" kata pak Mun memapah tubuh Davina, walau Davina sudah menolak pak Mun tetap memapah nona mudanya itu masuk ke dalam kamarnya.
"Makasih pak Mun" kata Davina saat dirinya sudah duduk di atas ranjang.
__ADS_1
"Anda istirahat saja nona, jangan kebanyakan gerak" kata pak Mun yang mendapatkan anggukan dari Davina.
Saat pak Mun sudah keluar dari dalam kamarnya Davina meraih tas kerjanya yang ada di atas nakas dekat tempat tidurnya dan merogoh tas kerjanya mencari benda yang beberapa hari lalu sempat ia beli di apotik setelah ia pulang bekerja. "Apa aku harus melakukannya?" tanyanya pada dirinya sendiri saat benda itu sudah berada di tangannya.
"Kalo sampai aku hamil bagaimana? apa tuan William akan menerima anak ini atau malah sebaliknya?" guman Davina dengan mata yang menatap bungkus tespek di tangannya.
"Tidak, tidak, tidak, tidak mungkin aku hamil" kata Davina yang langsung memasukan kembali tespek tersebut ke dalam tasnya.
"Tapi kalo aku sampai hamil bagaimana?"
"Tapi seharusnya aku susah datang bulan, bulan ini" kata Davina yang mulai gelisah. "Ah... mungkin aku stres jadi belum datang bulan juga" setelah meyakinkan dirinya Davina bersandar di sandaran tempat tidur sambil meremas pelan tangannya.
"Tapi gk biasanya kaya gini" hati Davina semakin bimbang saat otak dan dirinya menimbulkan pendapat yang berbeda. "Aku takut kalo sampai aku hamil dan tuan William tidak bisa menerima keberadaan anak ini"
"Tapi bagaimana kalo tuan William malah senang dengan kehadiran anak ini? itu pun peluangnya juga sangat kecil kalo sampai aku hamil" kata Davina mengingat perbedaan derajatnya dengan William, sesaat Davina terdiam menatap lurus kedepan dengan pikiran yang sedang bekerja dengan keras.
"Tidak ada salahnya mencoba" kata Davina sesaat setelah otaknya berhenti bekerja yang langsung mengambil kembali tespek tersebut dari dalam tasnya dan melangkah menuju kamar mandi.
__ADS_1
Didalam kamar mandi Davina sudah mengambil urin miliknya yang ia taruh di wadah kecil, sesaat tangannya bimbang antara memasukkan tespek tersebut ke dalam urinnya atau tidak. "Kamu harus menerima apapun hasilnya nanti" kata Davina meyakinkan dirinya, tespek tersebut sudah masuk ke dalam urin miliknya dan Davina tinggal menunggu sampai sepuluh menit kedepan untuk melihat hasilnya.
Davina menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi dengan pandangan yang menatap langit langit kamar mandi dan sesekali Davina memejamkan matanya menarik nafas panjang untuk menenangkan pikiran dan hatinya yang mulai tidak karuan. "Huf....." satu hembusan nafas kasar lolos dari mulut Davina bersamaan dengan keringat dingin yang mulai bercucuran di dahinya.
Sepuluh menit berlalu dan Davina masih setia di dalam kamar mandi untuk mengetahui hasilnya, "Apapun hasilnya yang aku lihat nanti aku harus bisa menerima, sekalipun aku hamil nantinya itu berarti tuhan sudah mempercayakan anugrah sebesar itu pada mu" kata Davina pada dirinya sendiri dengan mata yang masih tertutup.
"Huf... Bismillahirrahmanirrahim" kata Davina dan perlahan membuka kelopak matanya dan menatap benda kecil di tangan kanannya.
Perkataan yang menguatkan dirinya tadi seakan akan tidak bisa membuat dirinya benar benar kuat, tubuhnya seketika merosot di atas lantai saat matanya menatap dua garis merah terpampang jelas di tespek tersebut.
"A—aku hamil?" kata Davina terbata bata dengan mata yang mulai berlinang dengan air mata, entah saat ini Davina harus merasa senang saat mengetahui dirinya tengah hamil atau harus sedih karena ia hamil di usianya yang masih sangat muda dengan suami yang tidak mencintai dirinya. "Aku beneran hamil?" kata Davina mengulang perkataannya tadi dengan tatapan yang tidak lepas dari tespek di tangannya.
"Kenapa aku harus hamil?" kata Davina lirih bersamaan dengan air mata yang jatuh dari kedua pelupuk matanya. "Kenapa aku hamil dengan keadaan yang tidak tepat seperti ini? hiks...hiks..."
Otak Davina mengingat kalo ia sudah pernah berhubungan dengan William dan bukan hanya sekali, sekarang Davina merutuki dirinya di dalam kamar mandi, kenapa ia tidak minum obat pencegah kehamilan dari awal, kalo ia meminum obat tersebut pasti sekarang dirinya tidak akan hamil anak William. "Aku tau ini anugrah yang sangat indah yang di tunggu tunggu setiap istri di luar sana dari mu tuhan, dan kau dengan yakinnya memberikan anugrah sebesar ini kepadaku, tapi aku tidak yakin bisa menjaganya dengan baik mengingat kondisi rumah tangga ku seperti ini"
Tangan Davina yang tadinya memegang tespek perlahan mengusap perutnya yang masih datar. "Selamat datang sayang, maaf kalo Mama gak menyambut kedatangan kamu dengan bahagia,tapi Mama harap dengan kehadiran mu di rahim mama kamu bisa membahawaka kebahagiaan di hidup mama yang tidak pernah habisnya" kata Davina pada janinnya dan memaksakan senyum di wajah cantiknya meski matanya masih mengeluarkan air mata.
__ADS_1