
Memastikan istri kecilnya sudah tidur dengan nyenyak William turun dari atas ranjang dengan sangat pelan agar tidak membuat Davina terbangun dari tidurnya meraih jaket kulit dan kunci mobil William berjalan keluar rumah, mengendarai mobilnya memecah jalan ibu kota yang terlihat sangat longgar karena memang jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Memberhentikan mobil di depan pintu lobi kantor William langsung berjalan masuk menuju lift khusus yang akan membawanya ke tingkat teratas dari gedung ini, saat pintu lift terbuka William langsung mengayunkan kakinya melangkah menuju ruang kerjanya nampak Max yang sudah menunggu di depan mejanya.
"Apa info yang kau dapatkan dari hacker itu?" tanya William to the poin dengan mendudukan tubuhnya di kursi kebesarannya.
Max yang tadi memainkan benda pipih di tangannya langsung memasukannya ke dalam saku celana dan mulai menjawab pertanyaan atasannya. "Dia mengaku di bayar seseorang tanpa mengetahui siapa namanya untuk membocorkan data-data di laptop anda dan juga dia bilang kalo orang yang membayarnya mengambil sesuatu dari sebuah brankas"
"Brankas?" tanya William memastikan.
Max menganggukan kepalanya tanda apa yang di ucapkan memang benar, dengan gerakan cepat William bangkir dari duduknya melangkah menuju rak buku satu-satunya yang terdapat didalam ruangannya menggeser rak buku tersebut William menekan sandi brankas miliknya. Mata William membulat sempurna saat melihat aset-aset perusahaan dan mas batangan miliknya hilang begitu saja menyisakan secarik kertas di dalam sana, meraih kertas tersebut William membaca setiap kata yang ada di dalamnya.
"Nikmati saja detik-detik kehancuran mu"
Kata-kata itu membuat bola mata William menatap setiap tulisan dengan sangat tajam pikiran dan hatinya sudah terselimuti emosi, tangannya terasa sangat gatal ingin menghajar habis-habisan manusia sialan itu.
"Sial!"
"Ada apa tuan?" tanya Max menghampiri William yang masih berjongkok di depan brankas miliknya.
"Dia mencuri semua aset perusahaan" ucap William denger rahang yang mulai mengeras.
"Kerahkan seluruh anak buah kita untuk mencari keberadaan sampah itu mulai malam ini secara maksimal!"
"Satu lagi periksa sidik jari di kertas ini!" William menyerahkan kertas di tangannya kepada Max.
"Dan pastikan semua aset itu belum di balik nama kan!, dan aku kasih kamu waktu malam ini sampai besok pagi ambil semua aset perusahaan ku tanpa ada yang kurang suatu pun!"
__ADS_1
"Baik tuan" Max membungkukkan badan langsung berjalan keluar dari ruangan William menghubungi semua anak buahnya untuk kumpul di markas malam ini juga.
"Sial! aku pikir orang itu hanya membocorkan data-data penting perusahaan ku saja! tapi ternyata dia juga mengincar seluruh hartaku!" William mengepalkan tangannya di atas meja dengan kuat.
Baru saja tadi siang dirinya dan Max menyelesaikan semua masalah tentang data-data yang hilang dan menyetabilkan harga saham perusahaannya yang sempat anjlok, dan harus kembali di buat emosi saat dirinya baru sadar kalo semua aset perusahaannya juga ikut hilang begitu saja.
"Bukankah laptop anda memiliki sandi?, dan sandi ini yang tahu hanya anda saja tapi kenapa orang lain bisa membukanya?. Saya rasa orang yang melakukan hall ini bukan orang luar tuan melainkan orang terdekat anda"
"Orang terdekat?" guman William saat ucapan Max berputar di otaknya, William memang memasang semua sandi yang berhubungan dengan kantor dengan sandi yang sama termasuk brankas itu.
"Bodoh!" umpat William merutuki kebodohannya.
Sesaat kemudian kedua tangan William semakin terkepal kuat jika benar orang itu juga terlibat dalam masalah ini. "Setelah ini akan aku pastikan tidak ada kata ampun!"
BRAK....
***
"Jadi tadi anak dan menantumu bertengkar hebat?"
"Bisa di bilang seperti itu" jawab Tanti santai. "Tapi aku juga masih ingin bermain-main dengannya besok" lanjut Tanti melirik pria di sampingnya.
"Apa kamu masih punya rencana lagi?"
"Tentu aku akan menganggu mereka sampai semua aset itu menjadi atas nama ku!"
"Dan soal semua aset itu apa masih lama untuk mengatas namakan nama ku?"
__ADS_1
"Kita tinggal butuh tanda tangan anak mu saja setelah itu semuanya selesai" jawab Diki. "Tapi aku rasa itu sangat sulit untuk kamu"
Tanti berdecak kesal mendengar cibiran itu mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya Tanti menyodorkan pada Diki. "Ini tanya tangan William kamu tinggal pintar-pintar saja bagaimana memalsukannya dan membuat seolah-olah itu adalah tanda tangan asli, jika perlu kamu bayar seseorang yang ahli soal memalsukan barang sehingga dengan begitu tidak akan ada yang curiga kalo itu tanda tangan palsu"
Menerima secarik kertas tersebut Diki tersenyum puas. "Ternyata kamu sangat pintar sayang sampai hall ini sudah kau siapkan"
"Aku ini memang pintar bukan seperti dirimu yang hanya memikirkan uang,uang dan uang" cibir Tanti.
Diki meraih bahu Tanti masuk ke dalam pelukannya mengusap rambut wanita itu lembut. "Bukan hanya aku yang mencari harta di sini tapi kau juga sayang"
"Dan kapan kita bisa menikah?" tanya Diki.
Tanti menatap wajah pria yang tengah memeluknya. "Setelah semua aset William menjadi milik kita dan setelah itu juga kita akan menikah"
Diki menganggukkan kepalanya karena waktu itu tidak akan lama lagi. "Jadi apa rencanamu sekarang untuk hari esok?"
Tanti tersenyum licik saat pria itu menanyakan soal rencana yang akan ia gunakan besok. "Rencananya..." mulai menceritakan apa saja trik rencananya Tanti meminta Diki untuk menyiapkan mulai malam ini dan Diki tentu dengan senang hati melakukan hall itu.
"Ok malam ini juga akan aku siapkan semua seperti yang kamu mau dan kita tinggal tunggu hari esok" jawab Diki.
"Kalo begitu bagaimana kalo kita bersenang-senang malam ini di sebuah club VIP menghabiskan uang anak mu?"
"Siapa takut?" Keduanya masuk kedalam mobil yang baru saja Diki beli dengan uang yang ia dapatkan dari penghasilan penjualan mas kemarin menuju sebuah club ternama di kota ini.
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️
__ADS_1