Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 25


__ADS_3

Dengan posisi yang masih sama tangan William tidak tinggal diam, tangannya menaikan rok yang di gunakan Davina hingga ke pinggang dan tangannya langsung merobek pakaian dalam yang di gunakan Davina, dan langsung memasukan tangannya ke dalam area pribadi milik Davina yang masih terasa sedikit sempit karena baru pertama kali ia masuki. William memaju mundurkan tangannya di area pribadi milik Davina memberikan pemanasan sebelum ia memasukinya kembali.


Setalah di rasa cukup William membuka resleting celana miliknya dan mengeluarkan senjata pusakanya yang sudah sedari tadi mengeras.


"Tuan....J—jangan.....Ahhhhh" Erang Davina saat milik William memaksa kembali untuk masuk untuk yang kedua kalinya, Davina merasakan sakit seperti yang pertama kali saat William menyetubuhinya, membuatnya mau tidak mau meremas lengan William yang di selimuti kemeja hitam yang William gunakan.


William menatap tangan Davina yang meremas tangannya, ini pertama kali seoarang wanita yang berani meremas tangannya begitu kuat seperti yang di lakukan Davina saat ini, William beralih menatap Davina yang memejamkan matanya saat benda miliknya memaksa menerobos masuk untuk kedua kalinya, sampai air mata Davina lolos begitu saja, sama seperti malam pertamanya air mata yang tumpah dari sudut mata Davina menunjukan bahwa sebenarnya Davina sangat rapuh, bukan hanya menangis karena rasa sakit saat miliknya memaksa menerobos masuk tapi air mata itu juga mengartikan betapa rapuhnya Davina selama ini yang ia tutupi dengan wajah cerianya walau di balik itu semua ada banyak beban yang harus ia pikul sendirian.


Air mata itu membuat William menarik Davina masuk ke pelukannya, William yang sadar dengan sikapnya yang tiba tiba saja memeluk Davina membuat William ingin melepaskan pelukannya dari gadis itu, tapi semua itu ia urungkan saat isakan kecil dari bibir Davina yang di tangkap jelas telinga William membuatnya masih memeluk Davina.


"Tenaglah habis ini tidak akan sakit lagi" kata William mengusap punggung Davina, sungguh saat ini otak dan hati William tidak bisa di ajak kerja sama seperti biasanya, otaknya berkata lakukan seperti yang selalu kau lakukan setiap harinya tanpa menghiraukan tangisannya, tapi hatinya sendiri memiliki rasa iba begitu besar saat isakan kecil dari mulut Davina yang membuatnya tetap memeluknya bahkan bisa mengeluarkan kata kata seperti itu.


Meski William belum tau semua hall tentang istri kecilnya itu, tapi ia yakin ada kesengsaraan begitu besar selama ini di diri istrinya itu, tapi hebatnya istri kecilnya itu bisa menutup nya dengan rapi saat wajah cerianya menghiasi wajah yang masih belasan tahun. William yang tidak ingin berlama lamaan berdebat dengan otaknya melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Davina.


"Apa masih sakit?"


"T—tidak tuan hiks..." jawab Davina segukan yang juga menatap wajah William sebentar sebelum kembali memalingkan wajahnya.


William yang mendengar kalo milik Davina tidak sakit perlahan ia memaju mundurkan miliknya, membuat Davina mendesah saat milik William keluar masuk milikinya.


"Kamu harus ikhlas Vin... mungkin saat pertama kalinya kamu menyerahkan nya kepada suamimu itu dan menggantikannya dengan uang untuk menyelamatkan keluargamu, tapi sekarang tidak....kamu harus melakukannya karena itu hak suamimu, dan itu juga sudah kewajiban mu, jadi lakukanlah itu sebagai ibadah vina...." batin Davina dengan air mata yang kembali jatuh saat William sudah mencapai pelepasan.


William melepas miliknya saat ia sudah mencapai puncak kenikmatan dan membenarkan celana, setelah membenarkan celana William melihat Davina yang juga tengah membenarkan pakaiannya dengan wajah yang sangat terlihat kelelahan dengan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantiknya.


"Pulanglah dan istirahat" kata William.

__ADS_1


"Tidak tuan, saya masih harus bekerja" kata Davina saat hendak melangkah tapi sekitar area pribadi terasa begitu perih yang membuat Davina berhenti berjalan.


"Saya bilang kamu bisa pulang dan istirahat, jangan memaksakan diri seperti ini" kata William tegas.


"Makasih tuan, tapi masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan, kalo begitu saya permisi tuan" kata Davina yang kembali melangkah tapi baru beberapa langkah saja tubuh Davina hampir terjungkal ke depan dan langsung di tangkap dengan cepat oleh William.


"Kenapa kau keras kepala seperti ini!" kata William yang geram sendiri dengan tingkah Davina.


"Saya harus bekerja tuan, karena saya harus mencari uang untuk biaya ibu dan adik saya di kampung" kata Davina.


"Apa uang yang saya kasih hari itu masih kurang? apa perlu saya kasih uang lagi untuk mu?"


Davina menatap William seakan akan dirinya sama persis dengan wanita wanita yang sering William bawa keluar masuk rumahnya untuk memberikan William pelayanan yang bagus setelah itu mereka di kasih uang dari William dan langsung di campakkannya, tapi bedanya Davina adalah istri sah William bukan wanita murahan seperti wanita wanita William yang lain, tapi sifat William ini yang membuat dirinya selalu berfikir bahwa dirinya tidak ada bedanya dari wanita wanita itu.


Sedangkan William menatap punggung Davina yang hilang dari balik pintu. "Ada apa sebenarnya dengan gadis itu? mungkin saja umurnya tiga belas tahun lebih muda dariku, tapi kenapa cara berfikirnya sudah begitu dewasa? apa keadaan yang membuatnya tumbuh lebih cepat dari umurnya? tapi se berat apa beban yang ia pendam sendiri sampai ia seperti itu?"


"Kalo saja gadis seumurannya di luar sana mungkin akan bersikap manja, caper dengan banyak orang, dan mereka hanya tau adalah mendapatkan apa yang mereka inginkan saat itu juga, tapi kenapa Davina berbeda? gadis itu pantang menyerah bahkan ia harus berkerja paruh waktu seperti ini" dan masih banyak lagi pertanyaan yang melayang layang di otaknya yang membuatnya tidak bisa mendapatkan jawabannya.


"Max...." teriak William yang membuat sang punya nama langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Iyah tuan"


"Cari tahu semua hall tentang gadis itu, beritahu aku informasi sekecil apapun itu dan pastikan jangan ada yang sampai terlewatkan, atau kau akan menerima resikonya" kata William yang langsung keluar dari ruangan VIP tersebut saat William melangkah menuruni anak tangga langkahnya terhenti saat melihat Davina yang bolak balik mengantarkan makanan kemeja pelanggan dengan langkah kaki yang gontai.


"Vina...." panggil rekannya dari arah dapur yang membuat vina langsung melangkah ke arah dapur.

__ADS_1


"Iyah ada apa mbak?"


"Ini pesan untuk ruang VIP nomer lima" kata rekan Davina memberikan satu nampan di tangannya. "Bawanya hati hati ya"


"Iyah mbak" kata Davina yang langsung melangkah menuju anak tangga tapi saat ia melihat William yang berhenti di anak tangga tersebut membuat Davina juga menghentikan langkahnya dan menatap William yang juga tengah memandanginya. William menatap bola mata Davina dengan dalam mencari apa yang tengah di alami Istrinya itu, tapi alih alih mencari sebab apa yang membuat Davina merasa terbebani William malah terbuai dengan bola mata indah milik Davina, yang membuatnya menatap Davina dengan tatapan kagum akan wanita yang sedang ia pandangi sekarang.


"Vin..."


"Vina..." panggil seseorang dari bawah lantai saat melihat Davina yang melamun sambil menatap seorang pria.


"Davina...." kali ini seorang tersebut sudah berada di samping Davina dan menepuk pundak Davina pelan.


"Ah...Mbak Mia ada apa?" tanya Davina saat melihat Mia yang sudah ada di sampingnya.


"Harusnya aku yang nanya sama kamu, ngapain kamu di tengah tangga seperti ini sambil menendangi seorang pria?"


"Ahh...itu mbak..itu..."


"Udah gak ada itu itu an, cepat antarkan pesanannya karena restoran juga mulai ramai"


"I—iyah mbak" kata Davina yang menatap William sekilas sebelum ia mengantarkan pesanan pelanggan ke tempatnya.


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan beri hadiah biar author makin semangat nulisnya 🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2