
Davina merawat William dengan teletalen meski kadang William selalu berkata kata kasar kepadanya tapi Davina tidak ambil pusing hall itu yang ada semakin William menolaknya dirinya semakin memaksakan dirinya, seperti malam ini William kembali merasa mual walau mual yang ia alami tidak separah tadi siang membuat Davina dengan setia berada di samping William.
Malam ini Davina memasakan William satu mangkuk bubur ayam, aroma bubur ayam tersebut yang begitu gurih menusuk rongga rongga hidung William Davina yang duduk di samping William berulang kali menyodorkan satu sendok bubur ayam tersebut ke mulut William tapi dengan keras kepala William menjauhkan tangan Davina tersebut walau perutnya ingin sekali memakannya tapi gengsi lebih besar dari rasa lapar.
Kruk....
Davina tersenyum tipis saat perut William berbunyi menandakan sang pemilik tengah merasa lapar, William yang tau akan hall itu bersikap biasa saja seolah olah itu bukan bunyi perutnya, Davina kembali meletakan mangkuk bubur yang ada di tangannya di atas nakas.
Davina membenarkan selimut yang menutupi kaki William setelah dirinya berdiri dari duduknya, "Tuan karena air jahenya habis saya bikinkan dulu karena anda juga masih mual mual" ujar Davina meraih gelas kosong tapi tidak di hiraukan William dan langsung melangkah keluar.
William yang melihat pintu kamarnya sudah tertutup meraih semangkuk bubur ayam tersebut dan memakannya karena memang baunya yang enak membuat cacing cacing perutnya meronta ronta, baru satu suapan yang masuk ke dalam mulutnya membuat dirinya menatap semangkuk bubur yang berada di tangannya.
"Kenapa rasanya mirip dengan masakan Mama?" ucap William dalam hati saat merasakan bubur itu sangat mirip dengan masakan Tanti sang Mama yang selalu memasakan nya bubur saat dirinya tengah sakit dulu.
"William kangen mah" Kalimat itu terucap begitu sempurna di dalam hati William saat rasa rindu tidak bisa ia bohongi, walau mulutnya selalu menghina, mencaci, dan memandang sebelah mata sang Mama tapi di dalam lubuk hati William yang terdalam ia juga merindukan sosok Tanti yang dulu yang selalu memanjakannya dan merawatnya dengan sepenuh hati.
William menyendokkan satu demi satu bubur tersebut ke dalam mulutnya, tanpa William sadari sepasang bola mata melihat nya dari balik pintu siapa lagi kalo bukan Davina, ia tau William sebenarnya lapar tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengungkapkan hall itu setidaknya Davina senang William mau makan karena ia juga kasian melihat William yang selalu bolak balik kamar mandi, Davina menutup pintu kamar William dengan perlahan setalah memastikan William benar benar menamakan makanannya.
__ADS_1
"Kalo sedang sakit seperti ini anda seperti anak yang ingin di manja ibunya tuan, karena di wajah anda tidak ada lagi gambaran wajah galak seperti saat anda sehat" ucap Davina pada dirinya sendiri.
"Ngomong ngomong,ibu tuan William masih hidup apa sudah mati?" pertanyaan itu terlintas di otak Davina.
"Sudahlah jangan mikir yang tidak tidak" Davina melanjutkan langkahnya ke arah dapur untuk membuat air jahe untuk William.
Saat Davina kembali ke kamar William dengan satu gelas air jahe hangat di tangannya Davina mendapati William sudah tertidur dengan posisi menyamping memunggunginya, di letakan air jahe tersebut di atas nakas dan beralih membenarkan posisi selimut yang sedikit turun dari tubuh William.
Setalah di rasa sudah pas dan William juga sudah tertidur Davina melangkahkan kakinya kembali ke arah pintu tapi baru dua ayunan ia kembali menghentikan langkahnya dan menatap punggung William.
Mata Davina menangkap sofa yang ada di kamar William sebelum kembali menatap punggung suaminya, "Setidaknya satu malam ini saja saya berada di sini untuk memastikan keadaan anda sudah baik baik saja"
Davina mendudukan tubuhnya di atas sofa empuk di kamar William dengan mata yang tidak lepas dari wajah William yang dapat ia lihat dengan jelas dari arah sofa, mungkin orang orang di luar sana tidak akan percaya kalo William mempunyai wajah setenang itu saat tidur wajah yang sangat damai membuat orang yang melihatnya betah berlama lama memandanginya hall itu yang terjadi pada Davina.
Entah kenapa matanya tidak ingin berpaling dari wajah itu wajah yang bisa berubah dengan drastis hanya dengan William memejamkan matanya, desiran aneh muncul begitu saja dari dalam hatinya membuat Davina memegang dadanya.
"Ada apa ini?" ucap Davina dengan wajah bodohnya.
__ADS_1
"Rasanya kenapa bisa seaneh ini?" lanjutnya tapi buru buru Davina mengelengkan kepalanya dan langsung menatap arah lain.
"Sebaiknya aku tidur" hati Davina yang semakin tidak bisa terkontrol membuatnya memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah, perlahan Davina memejamkan matanya dengan posisi tubuh yang sedikit ia miringkan ke kiri dan dalam sekejap alam mimpi yang begitu indah menyambut kedatangannya tanpa Davina sadari kalo posisi itu akan membuat tubuhnya terasa pegal di pagi hari.
Sedangkan sepasang bola mata dari atas kasur menatap aneh wanita yang tengah tidur di sofa kamarnya siapa lagi kalo bukan William, William sengaja pura pura tidur tapi dari tadi ia juga merasa sedari tadi Davina memperhatikannya dari sofa sebrang kasurnya, William mendudukkan tubuhnya di atas kasur memutar bola matanya malas saat melihat posisi tidur Davina.
Dengan sedikit berdecak kesal William menyibak selimut yang membungkus tubuhnya dan berjalan ke arah Davina. "Kenapa kamu bisa sebodoh ini?" dengan malas William membenarkan posisi tidur Davina dengan meraih satu bantal miliknya untuk Davina gunakan agar leher wanita itu tidak sakit.
"Kalo sampai badan kamu sakit yang ada kamu bikin susah" ucap William, tapi tunggu apa yang bikin susah William di sini? ada yang tau?.
"Emmm" erang Davina dengan mata tertutup dan memiringkan tubuhnya menghadap ke arah William dengan bibir yang sedikit manyun.
William mengerutkan keningnya saat melihat bibir merah milik Davina. "Apa kamu tengah menggodaku? tidak akan mempan!"
William langsung beranjak dari tempatnya kembali ke atas kasur empuk miliknya tapi entah kenapa saat William memunggungi Davina yang tengah tidur di sofa membuatnya tidak bisa memejamkan matanya, dengan terpaksa William mengunakan posisi seperti tadi dengan bola matanya bisa menatap dengan jelas wajah Davina yang terlihat sangat lucu saat tidur apa lagi dengan bibirnya yang masih manyun membuat William ingin melahap habis bibir mungil itu.
"Sial!" umpat William yang langsung memejamkan matanya saat dirinya tiba tiba ingin mencium bibir merah milik Davina.
__ADS_1