Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 66


__ADS_3

Davina yang duduk di pinggir kasur tengah memasukan beberapa baju ke dalam tas dengan perlengkapan yang lain juga, karena ia hanya akan menginap satu malam di rumah ibunya dengan William dan rencananya besok mereka akan berangkat jam tujuh pagi agar bisa sampai di sana lebih awal.


William yang haru saja keluar dari kamar mandi melihat Davina yang tengah duduk di pinggir kasur yang masih sibuk memasukan perlengkapan mereka ke dalam tas.


"Apa belum selesai?" suara berat itu menuntut bola Davina menatap wajah pemilik suara, William yang baru saja selesai mandi terlihat semakin tampan apa lagi dengan tetesan air dari rambutnya membuat wajah itu semakin sexy, dan jangan di lupakan roti sobek milik babang William yang beraneka rasa.


"Su-sudah semua" buru-buru Davina memalingkan wajahnya ke arah lain karena debaran jantungnya yang mulai tidak karuan.


"Kamu kenapa?"


"Ti-tidak, kamu buruan pakai baju setelan itu kita harus tidur lebih awal bukan agar bisa bangun pagi" berdiri dari duduknya Davina menarauh tas di sofa dan dirinya langsung ke berjalan ke atas kasur membalut tubuhnya denger selimut sampai batas dada.


William yang melihat tingkah aneh Davina hanya mengelengkan kepalanya, berjalan ke arah lemari William meraih piama dan langsung memakainya, menyusul Davina yang sudah lebih dahulu berada di atas kasur William menatap punggung Davina yang tengah membelakanginya.


"Kamu tidak mau tidur di peluk?" tanya William.


"Ti-tidak"


Meski bibir Davina mengatakan tidak William tetap memeluk tubuh gadis itu dari belakang, menaruh tangannya di perut buncit milik Davina mengusapnya lembut dengan menghirup aroma rambut Davina yang selalu membuatnya betah untuk mencium rambut panjang tersebut.


"Apa ibu mu akan menerima aku nantinya?" tanya William.


"Sebab apa yang membuat ibu ku tidak bisa menerima mu?" tanya Davina balik.


"Aku hanya takut"


"Apa kau memiliki rasa takut?" keceplosan mengatakan hall tersebut Davina mengigit bibir bawahnya merutuki kebodohannya. "Maksud ku apa yang membuat mu takut" ralat Davina.


"Aku juga manusia sama seperti dirimu dan setiap manusia pasti memiliki rasa takut mereka masing-masing. Kau pikir aku ini apa? iblis?"


Membalikan badannya Davina menatap wajah kesal William. "Bu-bukan itu maksud ku, hanya saja apa yang membuat mu takut?"


"Aku takut saat ibu mu tau kebusukan ku membuat beliau tiba-tiba tidak suka dengan ku" mengatakan kekhwatiran nya William membalas tatapan Davina.


"Kamu saja belum pernah bertemu dengan ibu ku bagaimana bisa kamu menilainya begitu cepat?"


"Aku hanya mengira-ngira saja" elak William.

__ADS_1


"Ibu ku bukan tipe orang yang tidak suka dengan seseorang hanya karena masa lalunya tapi yang beliau lihat adalah bagaimana orang itu sekarang dan seberapa kerasnya ia mau berubah" jelas Davina.


"Benarkah?"


Mengulurkan tangannya meraih jari tangan William Davina menautkan jarinya. "Iyah. Jadi jangan berfikiran yang macam-macam berpikirlah hall yang positif saja"


Menganggukan kepalanya William membawa Davina ke dalam pelukannya, mengusap rambut Davina lembut keduanya perlahan memejamkan mata untuk menyambut hari esok.


***


Ke esokkan harinya William dan Davina menyempatkan waktu untuk sarapan terlebih dahulu mengingat perjalanan panjang yang akan mereka tempuh kurang lebih sekitar sepuluh jam. William yang sudah menyarankan lebih baik menggunakan pesawat saja di tolak oleh Davina dengan alasan dirinya belum pernah naik pesawat dan itu membuat perutnya terasa mulas membayangkan bagaimana kalo ia nantinya mabuk perjalanan. Memilih mengalah akhirnya William menyuruh Max untuk mengantar mereka ke kampung halaman Davina mengingat pria itu sudah pernah pergi kesana sebelumnya.


"Nyonya saya pergi dulu" meraih tangan Tanti, Davina mendaratkan kecupan kecil di punggung tangan mama mertuanya.


"Kalo bisa mulai sekarang jangan panggil aku tante, aku akan lebih senang kalo kamu memanggilku dengan sebutan mama" ucap Tanti lembut dengan mengusap wajah Davina.


"A-apa boleh?"


"Kenapa tidak boleh?, kau ini istri dari anakku yang artinya kamu juga sudah menjadi anak ku bukan?"


Mengangguk kepala Davina mengiyakan ucapan Tanti yang memang benar adanya.


Senang mendengar itu Tanti memeluk tubuh Davina, "Hati-hati di jalan dan jaga anak mama ya"


Membalas pelukan yang Tanti berikan Davina menganggukkan kepalanya. "Pasti ma"


"Vin!" teguran yang sangat keras dari William membuat pelukan hangat tersebut harus terlepaskan menara William yang sudah ada di dalam mobil dengan Max. "Ayo!, jangan buang-buang waktu mu untuk hall yang tidak penting!, ingat perjalanan kita membutuhkan waktu yang lama!"


"Iyah" memilih mengiyakan ucapan William, Davina kembali menatap wajah Tanti.


"Maafkan William ya ma" Davina yang merasa tidak enak dengan ucapan William kepada Tanti meminta maaf atas nama suaminya. "Kalo begitu saya berangkat dulu"


"Iyah sayang hati-hati" menganggukan kepala Davina menyusul William yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam mobil. Mobil yang di kendarai Max pun mulai meninggalkan halaman mansion.


Semua orang kembali pada pekerjaan mereka masing-masing setelah mobil William meninggalkan halaman rumah meninggalkan Tanti yang masih memilih berdiri di tempatnya. Memastikan semua orang sudah kembali untuk melakukan pekerjaannya Tanti merogoh ponsel dari dalam saku celana memainkan benda pipih itu Tanti menempelkan ponselnya ke telinga.


"Halo, setengah jam lagi kita bertemu di tempat biasa" ucapnya saat sambungan telefon terhubung dengan orang yang berada di sebrang sana.

__ADS_1


"Tidak, dia sedang pergi bersama istrinya"


"Aku juga tidak tau, itu tidak penting yang terpenting sekarang kita bertemu setengah jam lagi" mematikan sambungan telefonnya Tanti masuk ke dalam rumah bersiap untuk menemui seseorang yang ada di dalam telfon.


***


Di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai Tanti menunggu seseorang dengan meneguk minuman di gelasnya yang tinggal setengah.


"Maaf aku terlambat" suara seseorang dari arah samping dan langsung duduk di tempatnya membuat Tanti mendengus kesal.


"Kau selalu saja terlambat"


"Maaf sayang tadi jalan sedikit macet" meraih tangan Tanti di atas meja pria itu mengusap punggung tangan tersebut sebelum menyadarkan ciuman.


"Sudahlah itu tidak penting" menarik tangannya Tanti menatap wajah pria itu. "Sekarang ini adalah saat yang tepat untuk membahas rencana kita!"


"Apa anak dan menantu mu selama ini tidak menaruh curiga dengan mu?"


"Maka dari itu sebelum mereka menaruh curiga pada ku, kita harus bergerak dengan cepat sebelum semuanya tercium"


"Ok baiklah, dan sekarang katakan apa yang rencana mu?"


Tanti menatap mengedarkan pandangannya ke segela arah memastikan tidak ada orang yang menaruh curiga dengannya, setalah memastikan aman wanita itu sedikit mencondongkan tubuhnya. "Aku ingin kau membantuku untuk membalikan semua aset milik William atas nama ku!" ucap Tanti pelan agar orang lain tidak mendengar pembicaraan yang sangat rahasia ini.


"Itu sangat mudah sayang aku akan melakukannya untuk dirimu" ucapnya pelan.


"Bagus. dan mumpung mereka lagi pergi lebih baik kau bergerak sekarang!"


"Tapi semua itu tidak ada yang gratis sayang" ucap pria itu membuat Tanti memutar bola matanya merogoh dompet miliknya Tanti menyodorkan sejumlah uang pada pria di hadapannya.


"Ambil dan cepat pergi dari sini!"


"Sesuai perintah mu sayang"


Bangun dari duduknya pria tersebut meninggalkan Tanti sendirian di cafe tersebut. "Waktunya bersenang-senang anak ku sayang" seringai licik muncul dari sudut bibir Tanti dengan menatap lurus kedepan.


***

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah ♥️🤗


__ADS_2