Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 80


__ADS_3

William menghentikan langkahnya di sebuah ruangan yang memiliki kaca transparan yang begitu besar yang bisa melihat tiga inkubator bayi prematur tersusun rapi di dalam sana, William dan Davina terus menatap satu demi satu inkubator tersebut mencari anak mereka tapi karena wajah bayi yang hampir sama membuat mereka bingung.


"Salah satu di antara mereka mana anak ku?" tanya William pada seorang dokter spesialis anak.


"Itu tuan yang berada di bagian pinggir" tunjuknya pada sebuah inkubator yang terletak di bagian sebelah kiri.


Mata Davina mengikuti arah jari dokter tersebut, menangkap bagi yang ukurannya bisa di bilang tidak sama seperti bayi yang lainnya dan kulitnya yang keriput membuatnya sangat rentan untuk di sentuh.


"Boleh saya masuk?" tanya Davina tanpa melepaskan pandangannya dari sang anak yang nampak kelaparan.


"Tentu nona, karena sepertinya anak anda butuh asupan makanan" membuka pintu ruangan tersebut ia mempersilahkan William dan Davina masuk untuk melakukan metode skin to skin.


Mengambil bayi berjenis kelamin laki-laki tersebut dari dalam inkubator dengan sangat hati-hati ia membawanya kepada sang mama yang sudah lebih dahulu melepaskan pakaian atasnya. Menerima secara perlahan sang anak dari dokter, Davina dapat dengan jelas melihat wajah sang anak yang begitu sangat lucu. Membiarkan sang anak mencari sumber makanannya pada sang mama William mendudukan tubuhnya di samping kursi roda Davina dengan lutut sebagai penopang tubuhnya, mata William tidak henti-hentinya merasa takjub akan maha karya tuhan yang satu ini.


"Lihat dia sangat mirip dengan mu dari mata,hidung,bahkan warna kulitnya sama dengan mu" ucap William dengan bahagia.


"Dia boleh mirip dengan ku sekarang, tapi saat dia besar nanti aku ingin dia memiliki roti sobek seperti dirimu" goda Davina.


"Aku akan langsung membawanya ke gym saat ia besar nanti dan membuat enam kotak di tubuhnya" imbuh William.


Kedua orang tua itu terus berceloteh mengajak sang putra yang tengah asik menyusu berbicara. "Ayah harap kelak saat kamu sudah besar nanti kamu akan menjadi laki-laki yang lebih baik dari ayah mu ini"


"Kamu tidak boleh bilang seperti itu, kamu juga ayah yang baik untuknya selama ini" ucap Davina tak suka.


William hanya tertawa renyah mendengar hall itu. "Bukan aku tapi kamu" ralat William.


"Will-"


"Kamu mama yang sabar, kuat, mandiri dan pemaaf. Aku ingin kelak dia mewarisi sifat mu itu" potong William.


Meraih satu tangan Davina William menggenggam tangan itu dengan lembut. "Terimakasih sudah mau menjadi istri dari pria brengsek seperti diriku" Davina mengelengkan kepalanya dengan cepat mendengar suaminya berbicara seperti itu.


"Dan terimakasih telah mempertahankan dia" ucap William menatap putranya.


"William cukup jangan berbicara lagi di saat bahagia seperti ini" ucap Davina.

__ADS_1


William menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan sang istri, mengarahkan jari telunjuknya pada tangan mungil putranya."Apa boleh aku mengatakan sesuatu?"


"Aku tidak ingin mendengar mu mengatakan hal buruk tentang dirimu sendiri!"


Ujung bibir William membentuk sebuah senyuman menghiasi wajahnya. "Aku mencintaimu Davina" aku William dengan anaknya menjadi saksi cintanya.


Kini gantian ujung bibir Davina yang membentuk sebuah senyuman mendengar pengakuan itu. "Aku juga mencintaimu"


"Sejak kapan?"


"Apa cinta datang harus bilang terlebih dahulu?"


William menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Cinta itu datang begitu saja di hati ku dan sebenarnya aku ingin mengatakan pada mu jauh-jauh hari kalo aku mencintaimu"


"Tapi kenapa baru sekarang kamu mengatakannya?" kesal William saat sang istri ternya juga sudah mencintainya tapi wanita itu tidak mengutarakannya.


"Aku tidak ingin membuat mu tidak nyaman setelah aku mengatakan hal itu" aku Davina karena ia tidak ingin membuat pria itu jauh lagi darinya setelah mengatakan yang sebentar.


"Jangan kesal seperti itu, apa kau mau gantian mengendong nya?" ucap Davina saat sang anak sudah kenyang.


Mendengar itu William menganggukkan kepalanya dengan cepat, dengan bantuan dokter kini gantian sang suami yang melakukan metode skin to skin itu. Pria yang baru resmi menjadi Ayah beberapa saat lalu itu nampak antusias saat sang anak di pindahkan pada tubuhnya.


William diam sejenak memikirkan nama yang pas untuk putra pertama mereka. Menaikan pandangannya William tersenyum hangat pada Davina yang tengah menunggu jawabannya. "Arsalan, bagaimana apa kamu setuju?"


Membelai wajah tampan suaminya menggunakan satu tangan Davina tersenyum membalas senyuman William. "Aku setuju, tapi kurang lengkap"


William mengerutkan keningnya bingung. "Arsalan Nasution, bukankah pengusaha kaya raya seperti mu selalu membawa marga mereka pada anak-anaknya?" goda Davina.


"Kamu sakit saja pintar sekali menggoda apa lagi kalo sudah sembuh"


"Aku akan tambah pintar lagi menggoda mu" bangga Davina membuat William terkekeh kecil.


Setengah jam berlalu dan dokter meminta kembali baby Arsalan agar kembali ke inkubator mengingat tubuh bayi itu masih sangat rentang. Dengan berat hati Davina keluar dari ruangan tersebut dan ia akan kembali tiga jam lagi untuk memberikan asi pada baby Arsalan.


William mengentikan langkahnya membiarkan sang istri melihat sang anak dari luar ruangan. Bayi yang tadinya nampak kelaparan sekarang sudah tertidur pulas setelah meminum asi sang mama.

__ADS_1


"Jangan sedih nanti kalo Arsalan sudah kuat kamu akan mengendong nya dengan puas" hibur William mengusap pundak sang istri lembut.


Davina hanya menganggukkan kepalanya menjawab ucapan William. Melanjutkan langkahnya William membawa sang istri kembali ke ruang rawatnya untuk istirahat. Baru saja pintu ruangannya terbuka mata William menangkap Danu yang tengah menunggunya di sofa.


"Kalian dari mana saja?" tanya om Danu melihat William dan Davina baru kembali.


"William tadi menemani Davina untuk memberikan asi"


"Oh ya, bagaimana keadaan kamu Davina?" tanya om Danu menatap Davina yang sudah ada di atas brankar.


"Vina baik-baik saja om"


"Syukurlah kalo begitu" om Danu merasa senang mendengar kabar istri dari ponakannya. "Ngomong-ngomong dia laki-laki atau perempuan?"


"Dia laki-laki" Jawab William dengan bangga.


"Wah-wah selamat sekarang sudah ada William junior, apa dia mirip dengan mu?"


"Aku harap tidak" ucap William membuat pria paruh baya itu tertawa.


"Apa kita bisa bicara di luar sebentar?" tanya Danu setalah mengentikan tawanya.


William menatap Davina sejenak yang nampak lelah. "Aku keluar sebentar, kalo kamu butuh apa-apa kamu tinggal panggil aku saja" Davina hanya menganggukkan kepalanya karena matanya yang memang sudah terasa berat meminta agar segera di pejamkan.


Mengajak Danu untuk keluar dari ruang rawat Davina keduanya duduk di kursi rumah sakit. William merasa omnya itu akan mengatakan sesuatu yang sangat serius pada dirinya sehingga memintanya aga berbicara empat mata di luar.


"Om punya kabar buruk buat kamu" ucap Danu membuka obrolan.


"Kabar buruk?" Danu menganggukan kepalanya. "Apa kabar buruk itu?" tanya William menatap serius wajah Danu.


"Mama mu mengalami kecelakaan"


Deg...


***

__ADS_1


Siapkan kado kalian untuk baby Arsalan yang baru brojol, besok kita gas rumah sakit. Setuju gak nih?, nanti kita janjian di pertelon depan🤣.


Jangan lupa Like, Komen Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️.


__ADS_2