Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 84


__ADS_3

Sesuai janji William empat hari yang lalu pagi ini ia akan membawa Davina bertemu dengan sang ayah karena istrinya itu yang sudah memaksa dirinya agar segara mengajaknya bertemu sang ayah. Menatap Davina yang tengah sibuk memilih baju yang paling bagus untuk ia gunakan bertemu Diki membuat William tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah sang istri nanti.


"William aku bingung harus pakai yang mana, menurutmu bagus yang ini apa ini?" tanya Davina menunjukan dua buah dres di masing-masing tangannya.


Merasa pertanyaan tak di respon Davina menatap William yang ternyata tengah melamun. Duduk di samping suaminya Davina dapat melihat raut wajah khawatir William. "Sayang" panggil Davina.


"Ah, kamu sudah siap?" tanya William gelagapan, melihat Davina yang belum bersiap-siap ia mengusap wajahnya kasar pasti Davina memanggilnya karena melihatnya melamun.


"Ada yang kamu pikirkan?"


"Tidak" William mengelengkan kepalanya mengusap rambut Davina lembut. "Kenapa belum siap-siap? katanya udah gak sabar mau ketemu ayah"


Davina menepuk jidatnya saat ia lupa kalo dirinya harus meminta pendapat mengenai kedua dress di tangannya. Memilih yang paling cocok untuk sang istri William memilih dres selutut berwarna hijau Daun yang terlihat elegan, menyetujui pilihan suaminya Davina langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya.


Memoles wajahnya dengan tipis Davina menatap pantulan tubuhnya sekali lagi di cermin. Membalikan badannya ia menghampiri William yang duduk di pinggir ranjang.


"Sayang aku sudah siap"


Mengangkat pandannya William melihat Davina yang begitu cantik, dres yang tadi ia pilih melekat sempurna di tubuh ramping sang istri. "Kamu yakin berdandan secantik ini?"


Menatap tubuhnya Davina merasa penampilannya biasa-biasa saja lagi pula ia bukan mau bertemu dengan orang asing. "Apa ada yang salah dengan penampilan ku?"


"Ti-tidak hanya saja kamu yakin pergi secantik ini?"


Meraih lengan William Davina bergelayut manja. "Kenapa? apa kamu takut ayah akan terpaku dengan kecantikan ku? dan kamu cemburu akan hal itu?"


Merasa sang istri tak paham akan maksudnya William menarik pinggang ramping Davina agar lebih mendekat ke tubuhnya. "Mana mungkin aku akan cemburu dengan ayah mertua ku sendiri. Kalo begitu sebaiknya kita pergi sekarang saja, karena nanti juga kita harus mampir ke rumah sakit"


Merengkuh pinggang Davina dengan mesra keduanya berjalan keluar rumah, membukakan pintu mobil William memperlihatkan Davina masuk terlebih dahulu baru dirinya duduk di belakang kemudi karena hari ini William tidak mengizinkan Max untuk menjemputnya.


Berhenti di salah satu butik William membiarkan sang istri untuk membeli pakaian untuk sang ayah dan di bungkus rapi dengan sebuah kotak berwarna coklat dengan pita emas di atasnya. Kembali melanjutkan perjalanan Davina tiada henti mengusap kotak di tangannya rasanya ia tidak sabar memberikan kado ini pada sang ayah.


"Apa kecepatannya bisa di tambah sedikit?, aku ingin segera bertemu ayah" pinta Davina saat ia merasa William mengendarai mobilnya begitu lama.


William yang memang sengaja mengendarai mobilnya dengan pelan kini menambahkan kecepatannya saat Davina sudah tidak sabar bertemu dengan sang ayah. Tak membutuhkan waktu yang lama keduanya berhenti di salah satu tempat yang sangat sepi hanya ada satu rumah yang tak terlalu besar tapi terlihat sangat terjaga kebersihannya.


Tak merasa ada yang aneh sedikitpun dengan rumah itu Davina mengenggam tangan William menariknya masuk ke dalam rumah tersebut.


Tok... tok... tok...

__ADS_1


"Ayah ini Davina" Teriak Davina dari luar rumah. Beberapa saat menunggu ia tak kunjung mendapatkan sahutan dari dalam.


"Kita masuk saja" ucap William langsung membuka pintu rumah tersebut.


Melihat apa yang di lakukan William Davina juga langsung masuk begitu saja ke dalam rumah merasa tak sabar untuk memeluk sang ayah yang sangat ia rindukan selama ini. Senyuman yang tergambar di raut wajahnya sejak tadi perlahan sirna melihat isi rumah yang tak serapi halaman rumah tersebut, dedaunan debu bahkan sampah yang lainnya tergelak begitu saja di atas lantai.


Berjalan semakin masuk ia mendengar suara seseorang dari arah belakang mengarahkan pandangannya pada sumber suara Davina dapat melihat sang ayah dengan tangan di borgol di bawa oleh dua orang polisi.


Brak...


Kotak yang sejak tadi ia pegang di tangannya jatuh begitu saja ke atas lantai, berjalan mendekat ke arah Diki yang sudah babak belur Davina menata wajah pria itu dengan tatapan yang sudah di artikan.


"Davina"


"Ayah" ucap keduanya secara bersamaan.


Davina tidak tau apa yang sebenarnya terjadi tapi yang jelasa tak suka ayahnya berada dalam keadaan seperti ini, mengulurkan tangannya ia menyentuh tubuh pria paruh baya sebelum memeluknya.


Tangis Davina pecah begitu saja ini bukan pertemuan yang ia bayangkan sejak kemarin, ia pikir saat ia bisa bertemu dengan Diki ia bisa berbicara layaknya seorang ayah dan anak dan menghabiskan waktu berdua bukan seperti ini sungguh ini berada di luar rencananya.


"Ayah, kenapa ayah bisa seperti ini, hiks...hiks..."


Melepaskan pelukannya Davina menatap tubuh Diki dari atas sampai bawah yang sangat memprihatinkan. "Apa yang sebenarnya terjadi sama ayah?" tanya Davina.


"Ayah tidak apa-apa Vina, ayah baik-baik saja"


Davina mengelengkan kepalanya cepat. "Ayah gak baik-baik saja. Bilang sama Vina siapa yang ngelakuin semua ini sama ayah dan kenapa ada dua polisi ini di sini!" tunjuk Davina pada kedua polisi yang memegang lengan sang ayah.


"Ayah jawab pertanyaan Vina siapa yang melakukan ini sama Ayah!" Suara Davina naik satu oktaf saat Diki tak menjawab ucapannya.


Beralih menatap wajah suaminya Davina melangkah mendekat kearah William. "William bilang sama aku siapa yang melakukan ini sama ayah!"


"Apa kamu yang gelakuin ini sama ayah!"


"Aku bisa jelas in Vina" meraih tangan sang istri tapi segara di tepis kasar oleh Davina.


"Jadi benar ini semua kamu yang lakuin?!"


"A-aku-"

__ADS_1


"William dia itu ayah aku yang artinya ayah mertua kamu juga tapi kenapa kamu tega ngelakuin ini sama dia!" potong Davina melupakan amarahnya.


"Plis dengarkan dulu penjelasan aku Vina"


William mulai menjelaskan semua hal yang selama ini tidak di ketahui sang istri termasuk rencana almarhum sang mama dan ayah mertuanya itu menganai yang kecelakaan yang membuatnya lahir secara prematur. Diki yang awalnya tidak ingin menceritakan rencana terakhirnya dengan Tanti akhirnya mengaku juga saat dirinya terus menerus di siksa oleh anak buah William.


Tubuh Davina semakin di buat lemas saat mendengar cerita William saat sang ayah yang mencoba merebut harta yang bukan miliknya bahkan dengan tega ayahnya merencanakan hal sekejam itu. Kini Davina merasa malu saat ia sudah melupakan amarahnya pada William yang sama sekali tidak bersalah.


"Aku minta maaf kalo aku melakukan ini semua tanpa sepengetahuan mu"


"Aku hanya tidak ingin kamu kepikiran karena keadaan kamu yang tengah hamil besar saat itu" lanjut William.


"Hiks...hiks..." tangis Davina semakin pecah mendengar semua kenyataan itu.


"Vina jangan nangis nak, ayah baik-baik saja dan ayah akan mempertanggung jawabkan perbuatan ayah" Diki berjalan mendekat kerah Davina yang masih terus menangis.


Menaikan kedua tangannya Diki menghapus air mata sang putri untuk pertama kalinya. "Ayah minta maaf sama kamu atas perbuatan ayah selama ini yang tidak pernah memberikan kamu kebagian dari kecil sampai sekarang"


"Gak ayah gak boleh bicara seperti itu" Davina langsung memeluk tubuh Diki dengan kuat mencurahkan semua isi hatinya dalam pelukan tersebut. "Davina sayang sama ayah, seburuk apapun ayah, ayah tetap ayah kandung Davina"


Diki mencium rambut Davina dengan lama mencurahkan kasih sayang selama ini yang tidak pernah ia kasih sebelum polisi melepaskan pelukannya itu.


"Ayah pergi dulu"


Davina memaksakan senyumannya membalas senyuman Diki. "Ayah baik-baik di sana Vina janji akan sering jengukin ayah"


Setelah itu polisi membawa Diki ke kantor polisi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Membawa Davina kedalam pelukannya William berusaha menangkan sang istri yang masih syok dengan kejadian ini.


"Aku minta maaf" kata Davina lirih.


"Kamu tidak salah sayang jadi jangan minta maaf"


"Kita kerumah sakit sekarang ya, Arsalan pasti sudah menunggu kita" mengingat sang putra yang membutuhkan asi nya William dan Davina pergi dari rumah tersebut menuju rumah sakit.


***


Selamat malam mingguan buat kalian semua😘. Maaf kalo banyak typo di setiap kalimatnya karena tubuh aku yang lagi gak terlalu bersemangat malam ini tapi di paksa untuk terus mikir, kalian pasti tau lah bagaimana rasanya kalo di paksain ngelakuin sesuatu tapi tubuh yang gak sejalan.


Jadi jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2