Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 41


__ADS_3

Davina saat ini berada di dapur untuk meminum susu hamil yang baru saja ia beli menggunakan sisa uangnya saat perjalanan pulang, di aduknya susu putih dalam gelas itu sebelum ia meminumnya.


Davina meraih gelas kaca tersebut dan ingin mengarahkannya ke bibirnya, belum sempat ujung gelas itu mendarat di bibirnya tangan kekar sudah melingkar dengan kuat di pergelangan tangannya membuat Davina meringis kesakitan saat pergelangan tangan itu semakin mencengkram tangannya dengan kuat.


Davina yang sudah hafal siapa tanya itu menatap wajah pemiliknya yang menunjukkan sorot kemarahan yang terpancar jelas dari dua bola matanya.


"Tuan anda sudah pulang?" tanya Davina kembali menaruh segelas susu itu ke tempatnya saat mendapati William yang berdiri di depannya.


"Anda ingin saya siapkan air hangat untuk berendam?" tanya Davina berusaha tenang.


"Siapa yang kamu temui tadi di taman?!" suara berat itu membuat Davina bingung.


"Sa-saya tidak bertemu siapa siapa tuan"


"Jangan bohong!!" raung William membuat tubuh Davina menegang.

__ADS_1


"Siapa yang kamu temui tadi!" tanya William sekali lagi.


"Itu-itu hanya kakak kelas saya dulu tuan, kami tadi tidak sengaja bertemu" Davina memilih mengatakan yang sebenarnya walau dirinya di buat bingung bagaimana William tau kalo dirinya menemui kak Ali di taman.


"Apa kau berusaha untuk selingkuh dengannya?!" pertanyaan tapi terasa seperti tuduhan melayang dengan tajam di hati Davina.


Davina mengelengkan kepalanya dengan cepat. "Ti-tidak tuan"


Tangan William beralih mencengkram dagu davina dengan kuat membuat Davina meringis kesakitan. "Dasar wanita murahan! apa kau tidak bisa berkaca? kau sudah punya suami tapi kau masih bisa bertemu dengan laki laki lain!" suara penuh penekanan itu membuat Davina berusaha melepaskan tangan William yang mencengkram kuat dagunya.


"Hah...kau pikir aku percaya dengan wanita rendahan seperti dirimu?, karena yang ada di otak mu ini hanya uang uang dan uang!" William menunjuk nunjuk otak Davina dengan jari telunjuknya dengan lumayan kuat.


"Kau seharusnya berterima kasih kepada ku karena aku sudah dengan ber baik hati membuat keluarga mu bebas dari hutang hutang kalian itu!, tapi ternyata wanita seperti dirimu tidak tau caranya berterima kasih" William melepaskan cengkraman tangannya dengan begitu kuat membuat wajah Davina menoleh ke arah samping.


Prang....

__ADS_1


William melempar gelas yang berisi susu hamil yang baru saja ia buat membuat serpihan kaca itu berada di mana mana dengan air susu yang sudah membasahi lantai.


Davina yang tidak berani menatap William hanya menundukkan kepalanya dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya dengan melihat serpihan kaca gelasnya yang sudah berserakan di mana mana.


William menaikan dagu Davina untuk menatap wajahnya, "Jangan pernah bertemu dengannya lagi apa lagi berusaha untuk mendapatkan harta ku sepeserpun, karena itu tidak akan pernah terjadi!!"


William mendekatkan bibirnya ke telinga Davina untuk membisikan sesuatu. "Kalo tidak....siap siap anak yang ada dalam kandungan mu itu yang akan menjadi taruhannya!"


Davina membulatkan matanya dengan lebar saat kata kata penuh ancaman itu terdengar sangat jelas di telinga Davina membuat nya tanpa sadar mengelengkan kepalanya dengan tangan yang langsung memegang perutnya tidak ingin anaknya sampai kenapa kenapa.


"Ti-tidak tuan" jawab Davina terbata bata.


"Bagus" sringai William.


"Jangan menangis di depan ku karena air mata busuk mu itu tidak akan pernah mempan!" hardik William yang membuat Davina langsung menghapus air matanya.

__ADS_1


__ADS_2