
Sesuai dengan rencanya kemarin hari ini Davina akan melamar pekerjaan di tempat yang kak Ali kasih tau kepadanya kemarin, Davina menatap pantulan wajahnya di dalam cermin megang lehernya yang menimbulkan warna ungu karena perbuatan William semalam. Dengan mengoleskan foundation di lehernya Davina menutupi tanda kepemilikan yang ada di lehernya itu. Setalah memastikan bahwa tanda itu tidak terlihat lagi Davina meraih tasnya dan berjalan keluar dari dalam kamar.
Saat Davina baru saja menutup pintu kamarnya sayup-sayup Davina mendengar keributan yang terjadi di luar sana, Davina yang melihat salah satu pelayan berlari masuk membuat Davina memberhentikan langkanya.
"Tunggu saya mau tanya di depan ada apa ya kok ribut banget?" tanya Davina.
"Itu di depan ada wanita paruh baya yang mohon-mohon sama tuan William" ucap pelayanan itu kembali melanjutkan langkahnya.
"Wanita paruh baya? William? apa yang sebenarnya terjadi?" banyak pertanyaan di benak Davina membuat gadis itu penasaran dan akhirnya memutuskan berjalan keluar rumah.
Dan benar saja baru Davina sampai di ambang pintu utama ia bisa mendengar dengan jelas William membentak wanita yang sudah menundukan kepalanya dengan sangat kasar, Davina semakin bingung dengan kondisi ini saat seperti biasa tidak ada satu orangpun yang menolong dan hanya menjadi penonton setia mungkin mereka masih sayang dengan pekerjaan mereka sehingga mereka memilih diam saja dari pada ikut campur dengan urusan yang bukan urusan mereka.
"Lebih baik anda keluar dari rumah saya sekarang juga sebelum saya melakukan kekerasan!" bentak William dengan menunjuk gerbang rumahnya.
"Mama mohon William jangan usir Mama" mohon wanita paruh baya itu dengan menatap wajah William.
"Mama?" Seribu pertanyaan bermunculan di dalam benak Davina mengenai wanita yang menyebut dirinya itu mama dari William yang artinya wanita paruh baya itu mama mertuanya?. Tapi kenapa William bisa sampai sekasar itu dengan Mamanya sendiri? dan apa salahnya wanita paruh baya itu?.
"Anda bukan Mama saya!"
"Jangan pernah anda sekali lagi menyebutkan kata Mama!, karena anda saja tidak pantas menjadi seorang Mama!" tegas William langsung mendorong tubuh wanita itu kebalakang.
Davina yang melihat tubuh wanita paruh baya itu oleng kebelakang dan sebentar lagi akan menyentuh tanah membuat Davina berjalan sedikit berlari ke arah wanita paruh baya itu, menangkap tubuh Tanti agar tidak menganai tanah. "Anda tidak apa-apa nyonya?" tanya Davina membantu wanita itu kembali berdiri tegak.
William yang melihat Davina malah membantu wanita itu langsung menarik tangan gadis itu menjauh darinya. "Siapa yang menyuruhmu membawantu wanita murahan itu?!"
"Ta-tapi nyonya itu hampir jatuh tuan" ucap Davina membela diri.
"Apapun yang terjadi dengannya itu bukan urusan mu!. Lebih baik kamu pergi dari sini sebelum saya memperlakukan kamu seperti tadi malam!" perintah William yang tidak ingin Davina juga menjadi sasaran kemarahannya.
Davina hanya diam tidak menjawab perkataan William. Dirinya memang ingin pergi tapi saat melihat wanita paruh baya itu sangat rapuh ia tak tega meninggalkannya sendirian apa lagi terlihat sangat jelas dari raut wajah wanita paruh baya itu kalo dirinya sangat kelelahan.
"William Mama mohon Mama maafkan Mama" Tanti berusaha meraih tangan William tapi dengan cepat pria itu menepis tangan Tanti.
"Sudah berapa kali saya bilang kalo saya bukan anak dari wanita murahan seperti anda!" dada William naik turun bersamaan dengan luka hatinya yang kembali terbuka secara perlahan.
"Anda meninggalkan saya dan Ayah saya saat keadaan kita sangat memprihantin kan saat itu. Sekarang saya tanya sama anda!, dimana anda saat saya membutuhkan sosok Mama?, dimana anda saat saya tengah melewati masa-masa susah saya di usia yang masih sangat kecil?,dan dimana anda saat ayah meninggal? dimana?!!"
"Anda pergi begitu saja dengan para pria hidung belang itu? bahkan kenapa baru sekarang anda kembali saat semuanya sudah terlambat?!" Tanti hanya menundukkan kepalanya dan yang bisa ia lakukan sekarang hanya minta maaf pada William dan mencoba memperbaiki semuanya dari awal walau ia hadir di waktu yang sudah sangat lumayan lama.
__ADS_1
Davina yang berdiri di samping William hanya mendengarkan setiap amarah yang keluar dari pria itu ternyata masa kecil William jauh lebih buruk dari dirinya pantas saja dirinya bisa jadi seperti ini kalo saja laki-laki itu sudah merasakan kehilangan sosok ibu untuk waktu yang lumayan lama dan wanita itu baru kembali setelah William bisa berdiri di kakinya sendiri.
Tapi bagi Davina, William juga salah disini tidak seharusnya ia memperlakukan wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya seperti itu.Seburuk-buruk apapun Mama nya dia masa lalu ialah wanita yang sangat berjasa di hidup kita dan tidak seharusnya mendapatkan perlakuan seperti ini.
"Tuan sudah tuan" Davina mengusap lengan kekar William menegangkan pria itu agar tidak menjadi anak durhaka nantinya.
"Tuan maaf kalo saya lancang sebelumnya, tapi bagaimana pun dan apapun kesalahan nyonya ini di masa lalu, anda tidak seharusnya memperlakukannya seperti ini tuan, karena bagaimanapun juga nyonya ini sudah mengorbankan nyawanya saat melahirkan anda" Kata Davina dengan suara lembut.
William beralih menatap wajah Davina yang tengah mengusap lengannya itu, senyuman Davina yang di tujukan padanya berhasil membuat hati William menjadi hangat, amarahnya yang tadinya sangat memuncak perlahan mulai mereda.
"Kalo anda tidak bisa memaafkannya sekarang tidak apa, setidaknya maafkan nyonya ini secara perlahan dan lupakan secara perlahan masa lalu yang buruk karena itu hanya akan membuat kita menyimpan dendam untuk seumur hidup" lanjut Davina saat melihat sorot mata William yang mulai sedikit tenang dan tidak memberontak seperti tadi.
William menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, yang di ucapkan Davina memang ada benarnya kejadian itu sudah sangat lama sekali walau rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang ia tidak ingin hidup dengan dendam yang menghantui hidupnya setiap hari.
Menatap sebentar wanita paruh baya yang masih menangis itu William kembali menatap wajah Davina karena kalo dirinya terus menatap wajah Tanti yang ada emosinya kembali terpancing. "Anda boleh tinggal di sini tapi ada syaratnya"
Mendengar itu Tanti tersenyum senang, akhirnya anaknya bisa menerima dirinya secara perlahan. "A-apa nak? mama bakal lakuin apapun yang kamu mau" kata Tanti.
"Pertama anda tidak boleh mencampuri urusan saya sedikitpun!, yang kedua walau saya mengizinkan anda tinggal di anda tidak boleh se enak anda sendiri dan tetap melakukan pekerjaan seperti pelayan yang lainnya!"
"Tuan..." Davina tidak suka dengan syarat yang kedua yang itu artinya Tanti juga harus menjadi pelayan di rumah anaknya sendiri.
"Biarkan nyonya ini tinggal di sini tuan" pinta Davina.
"Kalo begitu dia juga harus mengikuti apapun syarat yang saya berikan mau ia suka atau tidak tentang syarat itu!"
"I-iyah nak, sa-saya gak papa saya rela melakukan apa saja asalkan bisa dekat dengan putra semata wayang saya" ucap Tanti membuat Davina menatap wajah Tanti yang sudah bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Diam mu aku artikan kamu setuju!" Kata William saat Davina hanya diam saja. "Dan syarat yang terakhir adalah anda tidak boleh menyuruh atau menyakiti wanita yang ada di hadapanku ini!x
Tanti menganggukan kepalanya menyetujui semua syarat yang di ajukan William padanya, sedangkan Davina gadis itu dibuat bingung dengan syarat yang William ucapkan kenapa pria itu mengikut sertakan dirinya?. sudahlah Davina tidak tau apa yang sedang pria itu rencanakan dan yang tau apa yang pikirkan pria itu hanya tuhan.
William masuk ke dalam mobilnya setelah menyuruh pak Mun mengantarkan Tanti ke kamar tamu di lantai satu. Davina juga pergi dari rumah William setelah matikan Tanti merasa tidak memerlukan sesuatu lagi dan merasa nyaman untuk kamar barunya.
"Kamar ini sempit sekali" cibir Tanti menundukan tubuhnya di pinggir ranjang menatap segala penjuru ruangan kamar itu.
Tanti melangkah kakinya ke arah kamar mandi membuka pelan pintu Tanti melihat isinya. "Ini lagi kenapa kamar mandinya sangat kecil seperti kamar pembantu!"
Tak ingin berlama-lama melihat kamar mandi itu Tanti kembali ke sisi ranjang mendudukkan tubuhnya kembali Tanti membuka dompet miliknya. "Tinggal satu juta, mana cukup uang segini buat ke salon!" tanti memasukan kembali uang itu ke dalam dompet saat suara pintu kamarnya di ketuk.
__ADS_1
Pak Mun melangkah mendekat ke arah Tanti membawakan nyonya barunya itu makanan dan minuman sesuai perintah Davina sebelum dirinya berangkat bekerja.
"Ini makannya nyonya" pak Mun menaruh nampan tersebut ke atas nakas.
"Terimakasih..." kalimat Tanti tergantung saat bingung harus memanggil apa pria paruh baya ini.
"Anda bisa memanggil saya pak Mun, nyonya" ucap pak Mun yang tau kebingungan Tanti.
"Ah, iyah terimakasih pak Mun" ucap Tanti mendapatkan balasan senyum dari pak Mun.
"Kalo begitu saya permisi dulu nyonya" pak Mun melangkah ke arah pintu tapi suara Tanti membuat langkahnya terhenti.
"Sebentar, apa saya boleh menanyakan sesuatu sama anda?" tanya Tanti tentang rasa penasarannya yang sudah ia pendam dari tadi.
"Silahkan"
"Siapa gadis tadi?"
"Maksud anda nona Davina?"
"Nona? kenapa pria ini memanggil gadis kampung itu dengan sebutan nona?"
Dengan tersenyum canggung Tanti menganggukan kepalanya. "Iyah Davina"
"Nona Davina adalah istri tuan William" ucap pak Mun, karena ia rasa Mama dari tuan William ini juga berhak tahu kalo anaknya sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah.
"Istri?" Tanti mamastikan.
"Iyah nyonya"
"Jadi berita kemarin itu benar?, jadi gadis kampung itu istri William?, dan anak yang ada di kandungannya itu anak William?. kenapa bisa William menikah dengan gadis kampung seperti itu?"
"Memang kenapa nona?" tanya Pak Mun saat Tanti langsung diam saat mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Tidak hanya saja gadis tadi manis dan sangat cantik" puji Tanti dengan tersenyum.
Pak Mun melihat itu merasa senang kalo Mama dari tuannya itu juga senang dengan Davina. "Bukan hanya cantik nyonya, nona Davina juga sangat baik"
"Iyah anda benar sekali, terbukti saat gadis itu menolong saya" imbuh Tanti.
__ADS_1