
"Ini bang uangnya makasih" ucap Davina yang menyerahkan uang kepada supir angkot yang telah mengantarnya sampai di kampus.
Davina melangkahkan kaki menuju gerbang kampus,Davina sengaja datang lebih awal karena ia ingin ke perpustakaan terlebih dahulu, untuk mencari buku yang sedang ia butuhkan.
Baru saja Davina masuk ke halaman kampus namanya sudah di panggil seseorang dari arah parkiran di mana terlihat Sekar yang baru saja turun dari dalam mobil dan melangkah menghampiri dirinya.
"Baru datang?" ucap sekar saat sudah berdiri di samping Davina.
"Iyah, kamu sendiri sudah lama?"
"Tidak aku juga baru saja datang, dan kebetulan lihat kamu jadi bareng aja ke kelasnya"
"Oh, tapi kamu bisa ke kelas dulu, karena aku mau ke perpustakaan" ucap Davina yang melanjutkan langkahnya di ikuti Sekar juga.
"Kalo begitu sekalian saja aku ikut"
"Kamu mau cari buku juga?"
"Tidak, hanya saja aku ingin ikut kamu" kata Sekar menampilkan deretan giginya membuat Davina mengelengkan kepalanya.
Davina melangkahkan kakinya menuju ruangan perpustakaan sesuai rencana awal untuk mencari buku yang sedang ia butuhkan, sampainya di dalam perpustakaan Sekar memutuskan untuk menunggu Davina di kursi yang sudah di sediakan pihak perpus karena Sekar ke perpustakaan bukan untuk mencari buku melainkan hanya menemani Davina.
Suasana perpustakaan yang terbilang masih sepi membuat Davina leluasa menyusuri lorong satu dan satunya lagi, membaca satu judul demi judul buku yang lainnya mencari buku untuk mata kuliah yang sedang ia butuhkan, sampai buku yang ia cari di dapatkan, tapi saat Davina beranjak dari tempatnya matanya tidak sengaja menatap buku yang tergeletak di bawah membuatnya membaca judul buku itu.
"Seputar kehamilan di usia muda" ucap Davina saat membaca judul buku yang berada di tangannya, Davina membuka halaman pertama dari buku itu membaca tulisan yang ada di dalamnya yang memberitahu apa saja hall hall yang terjadi di trimester pertama kehamilan.
"Sepertinya aku butuh buku ini" akhirnya Davina memutuskan untuk meminjam sekalian buku tersebut untuk membantunya menghadapai kehamilan di usia mudanya ini.
"Udah?" tanya sekar saat Davina sudah menghampiri dirinya.
"Udah" jawab Davina membawa buku pinjamannya di tangannya.
"Buku apa itu?" tanya sekar saat melihat cover buku yang paling depan memperlihatkan perut wanita yang lagi hamil.
"Kamu hamil?" tanya sekar saat ia membaca judul buku itu.
"Bicara apa sih kamu, aku pinjam buku ini cuma iseng aja" Davina terpaksa berbohong karena kalo sampai orang lain tau ia hamil berati orang lain juga akan tau kalo ia sudah menikah dan pasti lambat laun semuanya akan tau kalo dirinya istri dari William, sedangkan William saja sudah menegaskannya agar tidak ada satupun orang yang tau kalo dirinya istri sah William kalo tidak keluarganya yang akan menjadi taruhannya.
"Jangan sampai ada satu orang pun yang tau kalo kamu istriku, kalo sampai satu orang saja yang tau akan hall ini aku Pastika salah satu dari keluarga mu akan dalam masalah besar"
perkataan William hari itu kembali berputar di otaknya dengan sangat jelas dan suara tegas milik William masih bisa ia rasakan sampai sekarang, membuat Davina merasa khawatir dengan keluarganya kalo sampai hall itu terjadi.
__ADS_1
"Maaf kan mama sayang, mama bukannya tidak menganggap kamu ada tapi mama takut kalo sampai nenek dan juga Alif sampai kenapa kenapa, mama tidak mau cuma mama yang salah tapi mereka yang menerima ganjarannya" batin Davina saat bayangan Inah yang menangis di hadapannya berputar di otaknya dan isakan Alif adeknya yang masih kecil itu berputar sangat jelas di kepalanya.
"Vina gak mau sampai Ibu dan Alif kenapa kenapa, cukup penderitaan selama ini yang kalian rasakan dan jangan cuma karena masalah Davina kalian harus kembali merasakan penderitaan yang baru lagi" Tubuh Davina seketika menegang dengan mata yang menahan agar ia tidak menangis saat membayangkan tidak ada satupun kebahagiaan yang menghampiri keluarganya.
"Vina?" panggil Sekar menepuk pundak Davina.
"I-iyah kenapa?" ucap Davina yang langsung sadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa melamun?"
"Tidak aku tidak melamun"
"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, kamu hamil?" tanya sekar sekali lagi.
"Ka-kamu bicara apa, jangan ngawur gitu deh aku belum nikah dan mana mungkin aku hamil?" jawab Davina.
"Tuhan maafkan aku"
"Aku serius, umur aku baru delapan belas tahun mana mungkin aku hamil, dan lagian aku bahkan tidak mempunyai kekasih apa lagi suami jadi bagaimana ceritanya aku bisa hamil?" lanjut Davina saat Sekar menatapnya dengan penuh curiga.
"Terus buku itu?" tanya sekar menujuk buku yang ada di tangan Davina.
"Serius? kamu lagi gak bohong kan?" tanya sekar memastikan, bersamaan dengan itu suara bell panjang terdengar membuat Davina bisa bernafas lega, setidaknya Tuhan kali ini tengah membantunya.
"Udah lah gak usah di pikirin, masuk yuk nanti keburu dosen datang kita bisa di hukum lagi" ucap Davina dan tidak henti hentinya ia mengucapkan terimakasih kepada Tuhan yang telah membantunya agar tidak terus di interogasi dengan sahabatnya itu.
"Iyah juga sih, ya udah yuk" keduanya berjalan beriringan keluar dari dalam perpustakaan menuju kelas mereka, beruntung saat sampai di pintu kelas dosen pun baru berjalan ke arah kelas keduanya.
***
Sesuai rencananya tadi pagi, setelah kuliah Davina memutuskan untuk mengecek kondisinya di dokter kandungan karena mual yang membuatnya merasakan tubuh yang sangat lemas di pagi hari dan tidak bisa beraktivitas seperti biasa.
Dan lagi lagi Davina harus menolak ajakan Sekar yang ingin mengantarkannya pulang karena memang ia tidak ingin sampai sekar tau dimana ia tinggal, Sekar pun hanya mengiayakan saja perkataan Davina walau sebenarnya ia sedikit curiga kepada sahabatnya itu tapi dengan cepat Sekar berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang di sembunyikan Davina dari dirinya.
"Usia kandungan anda masuk lima minggu nona, janinnya sehat"
"Alhamdulillah" ucap Davina saat dokter kandungan tersebut mengatakan janinnya sehat.
"Pelan pelan nona" ujar dokter kandungan membantu Davina bangun setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh di tubuh Davina.
"Makasih dok" ucap Davina yang dengan perlahan bangun dari atas brangkar dan mendudukkan tubuhnya di kursi depan dokter.
__ADS_1
"Nama Davina, usia delapan belas tahun dan berseratus pelajar" ucap dokter tersebut membaca data diri Davina.
"Apa belakangan ini anda merasakan mual di pagi, sore dan malam hari nona?" tanya dokter tersebut beralih menatap Davina yang duduk di hadapannya.
"Saya cuma merasakan mual di pagi hari saja dok, dan tubuh saya langsung terasa begitu lemas dan kepala yang langsung terasa pusing" Jawan Davina.
"Hall ini biasa terjadi nona di trimester awal kehamilan bagi rata rata ibu hamil apa lagi pasangan yang menikah muda, karena hormon yang belum stabil dan badan yang belum terbiasa" kata dokter tersebut sambil tersenyum.
"Tapi apa ada obat pencegah mual dok?"
"Anda bisa mengonsumsi air jahe atau air perasan lemon untuk mengurangi mualnya, dan di minum saat mual itu datang" ujar dokter kandungan membuat Davina menganggukkan kepalanya tanda paham.
"Apa suami anda menunggu di luar?" tanya dokter kandungan tersebut saat melihat Davina hanya masuk sendirian tidak seperti pasangan yang lainnya yang masuk dengan suami mereka masing masing.
"Suami saya lagi kerja dok, dan rencananya saya mau bikin kejutan untuk dia" bohong Davina agar ia tidak di tanya lebih jauh lagi yang akan membuatnya tidak visa menjawab pertanyaan itu.
"Saya yakin suami anda pasti akan sangat senang dengan kehamilan anda ini seperti pasangan muda yang lainnya"
"Saya juga berharap seperti itu awalnya walau akhirnya itu tidak terjadi"
"Ini resep vitaminnya dan harus di minum secara rutin agar kandungannya kuat" dokter tersebut menyerahkan secarik lembar kertas yang berisi resep vitamin kepada Davina.
"Makasih dok" ujar Davina menerima secarik kertas tersebut dan langsung berdiri dari duduknya melangkah keluar dari dalam ruang dokter kandungan.
"Masih muda udah hamil ya dia"
"Paling juga hamil di luar nikah"
"hus... jangan bicara seperti itu"
"Ya kamu lihat sendiri dari masuk sampai keluar dia sendiri, anak muda jaman sekarang gampang banget nyerah in diri hanya karena rayuan sesaat"
"Mungkin dia udah nikah tapi suaminya gak bisa nganterin"
"Yakin dia udah punya suami? kalo aku sih enggak yakin ya, karena sekarang ini zamannya wanita hamil di luar nikah, ih....amit amit deh..."
"Udah ah, jangan bicara in orang, kita itu di sini buat kerja"
Davina yang baru saja keluar dari dalam ruangan dokter kandungan harus mendengarkan dua pembicaraan suster yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri yang tengah menatapnya dengan tatapan sinis, membuat Davina hanya bisa menghela nafas pelan dan saat Davina menatap ke depan tidak sedikit juga para ibu hamil yang tengah duduk bersama suami mereka menunggu nomor antrian menatapnya dengan sinis dan saling berbisik satu sama lain.
Davina yang tidak ingin mendengar lagi ucapan yang akan membuat batinnya tertekan segara melangkah pergi dari sana menuju apotik rumah sakit untuk menebus resep vitaminnya.
__ADS_1