Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 55


__ADS_3

"Lihat ini ada berita yang mengabarkan tuan William sudah menikah" ucap salah satu karyawan membuat yang mendengar itu langsung mendekat ke arahnya.


"Dan lebih parahnya lagi tuan William menikah sama pelayanan rumahnya sendiri" lanjutnya menampilkan layar ponselnya saat berita mengenai CEO mereka masuk dalam internet.


Mendengar hall itu semua karyawan mengecek di ponsel mereka masing-masing dan benar di dalam sana terpampang dengan jelas kalo William tengah pergi dengan salah satu wanita yang bisa di perkirakan masih gadis berumur belasan tahun dan lebih membuat mereka kaget adalah perut Davina yang sudah terlihat membuncit karena gambar itu di ambil dari samping.


"Wanita ini beneran hamil?"


"Kelihatannya sih begitu lihat aja tu perutnya udah besar"


"Tapi wajahnya masih kaya gadis lo"


"Apa mungkin tuan William tertarik dengan gadis seperti ini?"


"Sebenarnya sih aku gak mau percaya gitu aja, tapi saat melihat berita ini sepertinya tuan William memang suka yang muda-muda"


"Padahal kalo sama gadis ini sih mendingan kita gak sih?"


Kasuk-kasuk masih terjadi membahas berita yang baru saja masuk me dalam ponsel mereka. tanpa mereka semua sadari Max yang keluar dari dalam lift menatap bingung karyawan itu yang malah bergosip di jam kerja.


"Ada apa ini?!" tanya Max membuat grombolan itu salah tingkah.


"Tu-tuan Max" semuanya langsung menundukan wajahnya tidak berani menatap wajah Max.


"Kenapa kalian bisa ada di sini? bukannya ruangan kalian tidak disini?" tanya Max menatap satu persatu karyawan itu.


"Ma-maaf tuan" ucap mereka secara bersamaan.


Max menatap aneh pada karyawannya itu seperti ada yang menjanggal pasalnya setiap karyawan memegang ponsel mereka masing-masing.


"Kamu!" tunjuk William pada karyawan yang berada di barisan paling depan.


"I-iyah tuan" jawabannya terbata-bata.


"Apa yang kalian bahas?" tanya Max membuat karyawan itu tidak berani menjawab pertanyaannya.


"Apa kamu sudah tuli!" nada suara Max sudah naik satu oktaf membuat karyawan yang di tunjuk Max tadi merasakan ketakutan yang sangat hebat. "Jawab!"


"I-ini tuan" karena tidak berani menjawab pertanyaan Max karyawan tersebut menyodorkan ponselnya kearah Max.


Max yang melihat itu mengerutkan keningnya dengan mengambil ponsel milik karyawan tersebut ia membaca apa yang ada di dalamnya, seketika matanya membulat sempurna saat tulisan terpampang jelas di layar ponsel tersebut.


VIRAL! CEO NASUTION COMPANY MENGHAMILI PELAYANANNYA SENDIRI YANG MASIH BERUMUR BELASAN TAHUN!.


Di ikuti beberapa foto yang ada dibawah tulisan itu salah satunya foto yang di tunjukan Bram saat berada di dalam Mall tadi. Max meremas ponsel yang ada di tangannya dengan sangat kuat sebelum akhirnya ia lempar ke lantai membuat benda pipih itu langsung berserakan dimana-mana dengan emosi yang memuncak Max langsung keluar dari dalam kantor dengan sedikit berlari.


"Ponsel ku" lirih karyawan itu memungut serpihan ponselnya yang berceceran dimana-mana karena Max yang melemparnya dengan sangat keras. "Ini cicilannya belum lunas" ucap karyawan tersebut di ikuti tangisannya.


Melihat itu teman satu perjuangannya menghampirinya. "Kamu sih pake ngasih hp segala jadi ginikan"


"Hiks...hiks...aku mana tau kalo bakal kaya gini"


"Udah jangan nangis tinggal beli yang baru"


Plak...


"Lo pikir segampang itu? cicilan hp ini aja masih tiga kali lagi dan lo suruh gue beli hp baru lagi?!" ucapnya kesal dengan memukul lengan temannya itu.


"Nyesel gue nenangin lo!"


***


Jam istirahat sudah berakhir membuat Davina, Mia dan yang lainnya kembali bekerja mengantarkan satu persatu makanan ke meja pelanggan yang mulai berdatangan.


"Silahkan tuan, nona" ucap itu Davina menyajikan makanan di meja pelanggan.

__ADS_1


"Selamat menikmati" setelah mengatakannya hall itu Davina kembali ke belakang untuk mengambil pesanan yang lainnya.


"Kamu Davina?" tanya salah satu pelangan yang seperti tengah menunggu pesanannya.


Davina menganggukan kepalanya saat wanita itu bertanya.


"Oh..."jawab wanita itu singkat dengan menatap sinis Davina terutama pada perut buncitnya.


Davina yang bingung akan tatapan itu memilih langsung pergi dari sana karena merasa tidak nyaman saat orang-orang itu menatapnya.


"Ada apa sih Vin kok orang-orang lihat kamu sinis kaya gitu?" tanya Mia yang baru saja kembali setelah mengantarkan pesanan di lantai atas.


"Vina juga gak tau mbak" jawab Davina dengan mengelengkan kepalanya.


"Vina tolong antar ini ke meja depan sana" tunjuk koki ke arah depan restoran.


"Iyah" Davina langsung meraih nampan berisi makanan itu membawanya ke tempat yang di tunjuk koki tadi.


"Silahkan nona" Davina mengeluarkan makanan dan minuman dari namapannya.


"Mirip ya sama kaya yang di foto"


"Iyah,kayaknya beneran dia deh yang viral itu"


"Lihat aja perutnya udah besar gitu"


Davina yang mendengar dua orang wanita itu tengah membisikan sesuatu apa lagi tatapan keduanya mengarah pada Davina. Davina yang bingung akan apa yang terjadi langsung kembali lagi ke belakang setelah mengantarkan pesanan itu di sepanjang orang yang ia lewati tidak ada satu mata pun yang tidak melihatnya dengan tatapan mencela.


"Tuhan ini sebenarnya ada apa?"


"Vina di panggil bos" kata temannya saat dirinya di minta memanggil Davina agar keruangannya.


"Ada apa?" tanya Davina saat perasannya mulai tidak enak.


"Aku juga gak tau, tapi kamu di suruh kesana sekarang" ucapnya.


"Permisi tuan" ucap Davina saat pintu ruangan atasannya itu terbuka.


"Davina?, silahkan masuk" ucap atasannya itu menunjuk kursi yang ada di hadapannya.


Davina langsung duduk saat dirinya dipersilahkan duduk, hawa ruangan seketika bertambah dingin entah kenapa perasaan Davina mulai tidak karuan dengan meremas ujung bajunya Davina berusaha menghilangkan rasa takut dari dirinya.


"A-ada apa tuan panggil saya?" tanya Davina membuka obrolan.


Atasannya itu membuka kaca mata yang ia gunakan dengan menghela nafas panjang. "Apa kamu istri dari tuan William?"


Deg...


Detak jantung Davina berdetak begitu sangat cepat saat mendapatkan pertanyaan itu dengan mengelengkan kepalanya Davina terpaksa berbohong untuk menjawab pertanyaan atasannya itu.


"Apa kamu berkata jujur?" tanyanya lagi.


"I-iyah tuan" jawab Davina terbata-bata, ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi sampai atasannya itu bisa bertanya seperti itu.


"Saya tau kamu tengah berbohong Vina, kamu tau? berita tentang kamu tengah Viral di dunia maya"


Davina mengerutkan keningnya bingung. "Maksud anda apa tuan? Sa-saya tidak paham"


Dengan menyodorkan ponselnya ke arah Davina ia menunjukan laman berita online dengan tulisan besar yang dapat Davina baca dengan sangat jelas.


Mata Davina membulat sempurna saat melihat berita di layar ponsel majikannya itu Davina mengelengkan kepalanya dengan cepat tidak terima akan berita itu di mana di isi dalam berita itu juga ada kata kata yang mencemoohnya sebagai perempuan murahan yang hanya mendekati William hanya karena kekayaannya saja.


"Ti-tidak ini tidak benar tuan saya bisa jelas in sama anda apa yang sebenarnya terjadi"


"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun Davina, kamu tau berita ini sudah menyebar luas dan banyak dari Pengalangan kita mengirimkan pesan melalui akun Instagram kita bahwa mereka pernah melihat kamu berkerja disini" potongnya membuat Davina tidak jadi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Dan berat hati saya harus mengatakan sama kamu kalo mulai hari ini kamu saya pecat" lanjutnya


Deg...


Bagaikan tersambar petir di siang hari Davina tidak akan pernah menyangka akan di pecat saat dirinya membutuhkan banyak uang untuk kehamilannya.


"Sa-saya mohon tuan jangan pecat saya, saya butuh pekerjaan ini" mohon Davina dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Saya butuh uang untuk persalinan anak saya tuan saya mohon"


"Saya minta maaf Vina, tapi keputusan saya sudah bulat dan hari ini juga kamu harus berhenti dari sini"


"Dan ini uang gaji kamu selama satu bulan ini" lanjutnya menyodorkan amplop berwarna coklat ke hadapan Davina.


Air mata Davina jatuh begitu saja saat menatap nanar amplop berwarna coklat di hadapannya itu. perlahan di raihnya amplop berwarna coklat itu dari atas meja ja tidak pernah menyangka kalo dia akan di pecat secepat. Davina mengusap air matanya yang tersisa menaikan pandangannya menatap atasannya itu dengan tersenyum.


"Terimakasih tuan" ucap Davina yang langsung bangun dari duduknya berjalan keluar dari ruang atasannya itu untuk mengambil tasnya yang berada di dalam loker.


Dengan langkah lesu Davina berjalan keluar dari dalam restoran dan itu tidak luput dari semua mata yang masih menatapnya, sekarang Davina sudah tidak memperdulikan tatapan mata itu ia terus melangkahkan kakinya keluar dari dalam restoran menuju jalan raya.


"Davina!" teriak Mia dari kejauhan berlari menghampiri Davina yang berdiri di pinggir jalan.


"Kamu mau kemana?" tanya Mia memegang lengan Davina.


Tidak ada jawaban dari Davina gadis itu hanya menundukkan wajahnya dengan air mata yang terus berjatuhan. Mia yang melihat itu dan sudah mendengar semuanya langsung membawa Davina kedalam pelukannya,ia tau Davina sekarang butuh sandaran untuk menumpahkan semua yang ia rasakan.


"Mbak hiks...hiks..." lirih Davina yang menagis semakin menjadi di dalam pelukan Mia.


Mia mengusap punggung Davina dengan lembut memberikan kekuatan pada gadis itu, Mia merasa dunia ini sungguh tidak adil untuk seorang yang sangat lemah, kenapa dunia begitu kejam dengan seorang gadis yang masih berumur belasan tahun seperti Davina?, mungkin kalo itu terjadi pada dirinya Mia akan memilih bunuh diri dari pada tidak ada sedikitpun keadilan yang berpihak padanya


"Kamu pasti kuat, kamu pasti bisa ngelewatin semua ini demi anak kamu" ucap Mia yang masih mengusap punggung Davina yang bergetar karena isakan tangisnya.


***


Brak...


Pintu dibuka dengan sangat kasar oleh Max yang baru saja sampai di perusahaan yang menyebarkan informasi itu, dengan nafas yang terengah-engah Max masuk lebih dalam lagi kerungan itu untuk berhadapan langsung dengan sang direktur.


"Tu-tuan Max?, apa kabar?, apa anda datang kesini sendiri?" tanya basa basi.


"Siapa yang berani menyebarkan informasi tidak benar itu?!" ucap Max yang langsung pada intinya


Wajah sang direktur berubah menjadi pucat pasi saat melihat raut wajah amarah dari Max.


"Jawab!" teriak Max.


"Ma-maaf tuan tadi ada seorang yang datang kesini dan meminta kita untuk menerbitkan info itu di media sosial" jawabnya jujur.


Max semakin di buat marah dengan hall itu berkas berkas yang tadinya tersusun rapi di atas meja ia lempar begitu saja tepat mengenai wajah pria itu.


"Apa kau mencari kemiskinan dengan cara menyebarkan informasi itu?!" tekan Max.


"Kau tau perusahaan ini bisa berdiri seperti saat ini karena bantuan Nasution Company! dan kau dengan otak bodoh mu itu menyebarkan informasi yang tidak tau benar atau tidaknya itu!" lanjut Max.


Direktur itu hanya menundukkan kepalanya saat mendapatkan amukan dari Max yang ia tau adalah asisten pribadi William.


"Tarik berita busuk itu sekarang juga!" perintah Max.


"Ta-tapi tuan berita itu baru akan bisa di hapus dua puluh empat jam" katanya.


"Kalo begitu pilihannya hanya dua! kamu memilih jatuh miskin sekarang juga atau menarik berita itu sekarang saat ini juga!"


Direktur itu langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat dan langsung menghubungi pihak yang mempublish berita tadi agar segera menghapusnya walau sedikit ada perdebatan di sambung telfon itu pada akhirnya berita itu akan di usahakan akan terhapus lima menit lagi.


"Pastikan kamu atau siapapun di perusahaan ini tidak menerima informasi apapun dari luar sana mengenai info yang tidak-tidak mengenai tuan William dan ini juga peringatan terakhir kalinya dan bersiap satu


keluargamu akan menjadi gelandangan di jalan sana!" tunjuk Max ke luar jendela.

__ADS_1


"Ba-baik tuan saja janji ini terakhir kalinya"


"Bagus!"


__ADS_2