
Bukan tanpa alasan pria tersebut menikahi Davina, ia menikahi Davina hanya untuk menjadi pelayan di istananya tanpa ia bayar dan bisa memanfaatkan gadis itu jika sewaktu-waktu di perlukan, beruntungnya pria tersebut menikahi Davina langsung secara sah.
"Sudah selesai Nona" kata tukang rias yang telah selesai memainkan kebaya putih.
"Anda sangat cantik" pujinya, sedangkan Davina hanya tersenyum kecut melihat dia akan menikah tanpa ada ke dua orang tuanya.
Davina melangkah ke luar dengan di iringi tukang rias dari samping.
"Lumayan" batin pria tersebut dengan senyum misteriusnya.
"Kalo boleh saya tau mahanrnya apa tuan?" kata penghulu.
pria tersebut membuka dompetnya dan mengeluarkan uang lima ratus ribu yang ada di dalam dompet nya. "apa ini bisa di jadikan maharnya?"
__ADS_1
"Bisa tuan" kata penghulu.
Mata Davina terbuka lebar saat berkas berkas yang di perlukan untuk akad nikah sudah siap dan tertata rapi di atas meja "Dari mana mereka bisa mendapat berkas berkas ku?".
Sang penghulu mengucapkan ijab Kabul dan pria yang di kenal dengan nama William itu mengulangi apa yang di ucapkan penghulu dengan di sak sikan se isi mansion itu dan terdengar kata kata sah dari saksi yang menyaksikan pernikahan mereka.
Sungguh Selama Davina hidup ia tidak pernah sedikitpun membayangkan akan menikah dengan cara seperti ini, tanpa ada ke dua orang tuanya yang menyaksikan acara pernikahannya.
Davina mencium pungung tangan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu, setelah semua nya pulang dan di pastikan di antara mereka tidak ada yang berani membuka mulut di depan umum, kini tinggal Davina dan William serta Max yang masih di sana.
"Iyah tuan" kata pria paruh baya itu yang bernama pak Mun kepala pelayan di rumah itu.
"Bawa wanita ini ke kamar pembantu!" titahnya dan melangkah naik ke lantai dua di ikuti Max dari belakang.
__ADS_1
"Mari Nona" kata pak Mun yang berjalan duluan dan di ikuti Davina dari belakang yang masih memakai kebaya putihnya.
"Silahkan Nona" kata pak Mun membuka kamar pembantu yang sudah tidak do tempat ii lagi.
"Makasih Pak Mun, Emmm... tapi saya mau tanya apa ada pakai an ganti yang bisa saya pakai?" kata Davina, tidak mungkin ia menggunakan kebaya terus menerus.
"Ada Nona, tapi itu bekas dari para pelayan yang sudah tidak kerja di Rumah ini, anda bisa melihatnya di dalam lemari" kata pak pun menunjuk lemari yang berada di sudut ruangan. "Kalo begitu saya permisi Nona" kata pak Mun menundukan badannya dan melangkah pergi.
Davina menutup pintu kamar yang ia tempati dan melangkah menuju kasur, Tumpah sudah air mata Davina, bagaimana tidak hari ini ia di kejar kejar renternir karena hutang sang Ayah yang tidak kunjung lunas, dan harus menikah sama seorang laki laki yang baru beberapa saat ia temui dan sama sekali tidak ia kenal.
"Tuhan... apa lagi rencanamu untuk jalan hidup ku ini hiks...hiks...Aku juga ingin hidup seperti anak anak yang lain ya tuhan yang di limpahkan dengan kebahagiaan hiks...hiks..." Davina terus menangis dengan memegang dadanya yang terasa sesak, hingga Davina tidak terasa ia tertidur dengan masih memakai kebaya yang melekat di tubuhnya.
***
__ADS_1
Like & Vote.