
Malam harinya Davina berdiri di depan teras menunggu kepulangan William, benar yang di katakan Mia gak ada jalan lain selain meminjam uang dari sang suami, atau keluarganya yang akan menjadi taruhannya.
Satu jam, dua jam hingga lima jam Davina menunggu William di luar, udara malam yang semakin dingin membuatnya kedinginan tapi sebisa mungkin ia tahan kedinginan itu, Dia ingin berbicara kepada suaminya itu malam ini juga dan berencana akan pulang kampung besok.
Dari kejauhan gerbang pintu rumah William terbuka, mobil sedan berwarna hitam memasuki halaman rumah William, Davina yang mengenali mobil tersebut buru buru berdiri dan berjalan mendekat ke pintu mobil yang sedang di Bukakan oleh pengawal.
Davina meremas tangannya saat melihat William pulang dengan seorang wanita sexy dengan pakaian yang kekurangan bahan bahkan wanita yang di bawa William pulang kali ini berbeda dengan wanita yang ia lihat kemarin malam.
"Tuan..." Davina terlihat sangat takut saat ingin berbicara pada William tapi tidak ada jalan lain, sedangkan William hanya menatap Davina sekilas dan kembali menatap wanita yang sedang bergelayut manja di lengannya sambil mengerakan bagian atas tubuhnya.
"Tuan saya ingin bicara"
"Apa?"
"Tuan...saya butuh uang untuk melunasi hutang hutang keluarga saya...dan saya ingin meminjam uang kepada anda" Kali ini William menatap Davina dengan tatapan yang sudah di artikan.
"Kau mengganggu ku cuma ingin berbicara itu...? sangat tidak penting....!" kata William yang melangkah masuk ke dalam rumah bersama wanitanya, sedangkan Davina tidak diam saja gadis itu juga mengikuti William masuk ke dalam rumah.
"Tuan saya mohon...saya sangat membutuhkan uang tuan"
"Pasti saya akan mengembalikannya dengan mencicil" kata Davina yang memegang lengan William supaya pria yang sudah sah menjadi suaminya itu berhenti.
"Lepaskan tangan kotor mu itu" William menepis kasar tangan Davina hingga gadis itu tersungkur di atas lantai.
"Tuan saya mohon hiks..." kali ini Davina memegang kaki William yang ingin naik ke kamarnya.
"Lepas....!"
"Tidak tuan, saya mohon tuan tolong pinjamkan saya uang, saya pastikan akan melunasinya tuan hiks...."
"AKU BILANG LEPAS...!"
"Saya mohon tuan"
Dug....!
Badan Davina membentur besi tangga yang sangat kuat mengakibatkan tubuh belakanganya terasa sangat sakit, beberapa asisten rumah tangga William melihat kejadian itu, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani menampakkan diri apa lagi membantu Davina lebih tepatnya malas sekali membantu gadis yang sudah menjadi istri tuan mereka itu.
Hiks....hiks....hiks...
"Saya sudah bilang jangan menganggu ku dengan urusan tidak pentingmu itu....!"
"Tapi saya butuh uang tuan kalo tidak keluarga saya dalam bahaya hiks... hiks..."
"Apa kau pikir aku peduli...? TIDAK....." Teriak William di depan wajah Davina sedangkan Davina menutup matanya karena teriakan William yang pas di depan wajahnya.
"Saya mohon tuan.... Sss-saya janji akan melakukan apapun yang anda suruh....Sss-saya juga tidak akan berani kabur dari anda hiks....hiks..."
"Apapun...?" kata William mengulangi kata kata Davina.
__ADS_1
"Iiii-iyah tuan....apapun" kata Davina terbata bata.
"Max......!" teriak William.
"Iyah tuan...."
"Bawa wanita ini pulang ke tempat asalnya" kata William menunjuk wanita yang ia bawa pulang tadi.
"Lho....sayang kenapa aku....? bukankah kita akan bersenang-senang malam ini?" kata wanita dengan mudahnya dan tidak menghiraukan siapa yang mendengarkan ucapannya.
"Bawa dia keluar....!"
"Baik tuan" Max menyeret wanita yang di bawa tuannya tadi untuk keluar dari istana William.
"Kalian semua yang melihat kejadian ini masuk ke kamar kalian masing masing sebelum bola mata Kalian keluar saat ini juga....!" Teriak William yang tertuju pada para asisten rumah tangganya.
"Dan kau.....! ikut aku!" kata William yang langsung menaiki anak tangga.
"Tuhan...tolong lindungi aku apapun yang akan terjadi nantinya" batin Davina yang degan susah payah berdiri dari duduknya karna bagian belakang tubuhnya yang masih terasa sangat sakit.
William masuk ke kamarnya dengan di ikuti Davina dari belakangnya, ini pertama kalinya Davina melihat kamar suaminya yang sangat mewah bahkan ukurannya bisa lima kali lipat dari kamar pembantu yang ia gunakan saat ini.
"Aku tanya sama kamu sekali lagi apa kamu yakin ingin melakukan apapun untuk bisa mendapatkan uang?, untuk melunasi hutang hutang keluargamu?"
"Iyah tuan, saya sangat yakin" jawab Davina dengan mantap.
"Pakai ini...!" kata William melempar ligerie tepat di depan wajah Davina.
"Apa kau tidak dengar...? aku bilang pakai...!"
"Iiii-iyah tuan...." kata Davina yang langsung masuk kamar mandi yang ada di dalam kamar William.
Davina menatap pantulan tubuhnya dari cermin kamar mandi, ia sangat jijik melihat tubuhnya yang memakai baju yang sangat tipis seperti ini, pikiran Davina mulai melayang layang kemana mana, pikiran negatif mulai muncul di otaknya.
Tapi semua itu hilang saat wajah ibu, dan adik laki lakinya melintas di pikirannya, Davina tidak mau hall buruk terjadi sama ibu dan adiknya kalo terlambat sedikit saja, Davina menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya dengan pelan.
"Vina...kalo malam ini suamimu meminta haknya kamu harus ikhlas, toh yang mengambil suamimu sendiri bukan orang lain"
"Dan ingat Vina.... keselamatan keluargamu lebih penting dari egomu sekarang ini"
Davina keluar dari kamar mandi setelah perasaan mulai tenang, tapi saat melihat William yang duduk di pinggir tempat tidur rasa takutnya kembali menghampiri, ingin sekali Davina pergi dari sini tapi otak dan perasaan tidak bisa di ajak kerja sama.
"T-tuan..." kata Davina yang berdiri tidak jauh dari William.
William yang tadinya Fokus pada hpnya menoleh pada sumber suara yang memanggil, William menatap tubuh Davina yang hanya berbalur ligerie tipis mengekspos kaki jejang putih milik davina, mata William menatap dari atas sampai bawah tubuh Davina. dan mengisyaratkan tangannya supaya gadis itu mendekat ke arahnya, Davina yang tau maksud arti dari tangan sang suaminya mulai melangkah mendekat ke arahnya.
"Berapa uang yang kamu minta...?" tanyanya saat Davina sudah berdiri di depannya.
"Dua puluh juta tuan"
__ADS_1
William tersenyum sinis saat davina menyebutkan nominal uang yang sedang gadis itu butugkan "Ternyata murah sekali harga dirimu"
"Kau tau wanita yang selalu tidur dengan ku setiap malamnya meminta bayar an dua kali lipat seperti yang kamu minta"
Davina hanya diam sambil menundukan kepalanya, dan menerima hinaan yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Sekarang aku ingin kau melakukan tugasmu"
"Tugas saya apa tuan?"
"Memuaskan aku malam ini...." kata William dengan sudut bibir yang membentuk sebuah senyuman sinis saat melihat kebimbangan dari wajah Davina.
"Kenapa diam?" tanya William saat melihat Davina yang hanya diam saja di tempatnya.
"Kalo kau tidak bisa melakukan apa yang aku minta, keluar dari kamar ku sekarang juga....! karna aku tidak ingin memberikan uang ku begitu saja dengan wanita murahan seperti dirimu....!"
"KELUAR....!" Bentak William
"Tidak tuan saya mohon....saya sangat butuh uang itu tuan" kata Davina yang kali ini langsung berlutut di depan William.
Wiliam memegang kedua pipi Davina dan mencengkram nya dengan sangat kuat sampai sampai Davina merasakan sakit di pipinya itu. "Kau itu hanya wanita murahan...dan kau seharusnya bersyukur bisa menikah dengan ku....karna apa? karena aku yakin tidak ada yang mau dengan wanita murahan seperti dirimu ini...!" Wiliam melepaskan cengkraman tangannya dengan sedikit keras membuat badan Davina terhiyung ke samping.
"Kalo kamu masih ingin uang dua puluh juta itu lakukan tugasmu dengan baik malam ini...!"
"Tapi tuan ini pertama kalinya untuk saya"
"Cih....drama apa lagi yang kau bikin hah...! pertama kali...? wanita seperti mu ini pasti sudah melayani puluhan pria hidung belang di luar sana dan kau masih bisa bilang ini pertama kalinya untuk mu...? PEMBOHONG...!"
"Tapi tuan saya tidak bohong, saya brani sumpah kalo saya ini masih suci hiks...hiks...."
"Kalo memang kamu masih suci....aku akan memberikan mu uang tiga kali lipat dari apa yang kamu minta dan memberikan dua hall yang bebas kamu menginginkan apapun itu nantinya"
"Tapi.... kalo ternyata kamu berbohong siap siap kamu akan aku jadikan santapan harimauku yang sudah tiga hari ini tidak merasakan daging manusia yang ada di ruang bawah tanah....!" kata William yang langsung menarik tangan Aleta dan menjatuhkannya di atas kasur miliknya.
Tubuh kecil Davina berhasil ditindih oleh tubuh kekar suaminya itu bahkan ligerie yang tadi melekat di tubuhnya sudah berserakan di atas lantai. William mencumbu tubuh Davina dan mencium titik titik sensitif di tubuh Davina, Davina mendesah saat William menghisap kedua gundukannya secata bergantian.
Davina pasrah saat sesuatu yang keras memaksa masuk ke dalam celah sempitnya. Davina menangis, merintih saat milik William sudah masuk ke dalam miliknya yang selama ini ia jaga, bahkan ia harus kehilangan mahkota miliknya saat masih berumur delapan belas tahun.
William yang dari tadi merasakan kesusahan saat maksakan milikinya masuk ke dalam goa Davina dapat menyimpulkan bahwa omongan gadis itu tidak bohong yang bilang kalo dia masih suci, William tidak menyangka bahwa ini merupakan pengalaman pertama kali gadis tersebut dan ini juga pengalaman pertama William yang memperkosa Seorang wanita yang masih suci.
Entah kenapa perasaan bersalah menyelimuti hatinya, tapi William juga bahagia bisa merasakan hall baru yang selama ini tidak pernah ia rasakan di dunia malam. William berhenti sejenak saat miliknya sudah masuk sepenuhnya, ia melihat Davina yang tengah menangis dengan isakan tangisan yang sangat memilukan, William bisa mengartikan tangisan itu adalah tangisan yang mengeluarkan masalah yang ada di dalam diri gadis tersebut yang selama ini ia tahan bersamaan dengan rasa sakit di area pribadinya.
William mendiamkan miliknya sebentar dan kembali mencumbu tubuh mungil Davina yang masih menangis di bawah Kungkungan William, perlahan William menggoyangkan pinggulnya, awalnya yang gerakannya pelan berubah menjadi irama yang cepat
Tiga jam berlalu, William memacu tubuh Davina yang sudah mencapai pelepasan untuk kesekian kalinya perlahan melepaskan dirinya dari tubuh Davina. Beberapa kali William melepaskan benih benihnya di rahim Davina, Davina tampak sangat kelelahan matanya yang dari tadi terus mengeluarkan air mata perlahan matanya terpejam dengan nafas yang tersengal sengal.
Sedangkan William merasakan sangat senang malam itu bisa mendapatkan hall yang berharga dalam diri gadis yang sudah menjadi istri seutuhnya itu. ia tarik selimut dan menutupi tubuh istrinya itu yang selama ini tidak pernah William lakukan kepada wanita yang memuaskannya, biasanya wanita itu langsung di usir William dari rumahnya saat William sudah benar benar merasakan puas.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like & Vote yang banyak🤗♥️