
"Pak Mun Vina berangkat dulu dan kelihatannya Vina bakal pulang agak malam sedikit" ujar Davina yang sudah siap dengan tas selempang nya.
"Memang anda mau kemana nona?"
"Pulang kerja nanti Vina mau beli perlengkapan bayi pak Mun, mumpung Vina punya uang lebih" ucap Davina tersenyum senang di mana saat ini sudah ia tunggu-tunggu sejak satu bulan yang lalu dan mumpung dirinya juga sudah mendapatkan gaji pertamanya bekerja di supermarket selama satu bulan ini.
Pak Mun mengangguk merogoh saku celana miliknya, pak Mun menyodorkan uang ke arah Davina membuat gadis itu menatap bingung pria paruh baya di hadapannya.
"Saya punya sedikit uang nona ya walau gak seberapa tapi semoga bisa nambah-nambah uang nona'"
Vina tersenyum memundurkan tangan pak Mun yang menyodorkan uang kepadanya Davina menolak secara halus. "Pak Mun, Vina gak butuh uang ini, uang tabungan Vina udah cukup, pak Mun simpan saja uang ini buat biaya pernikahan pak Mun suatu saat nanti" goda Davina sambil cekikilan sendiri.
"Saya tidak mau menikah lagi nona" balas pak Mun.
"Vina hanya bercanda pak Mun, lagian Davina benar-benar sudah punya uang sendiri"
"Ya sudah kalo begitu, tapi kalo anda ingin sesuatu jangan sungkan bilang sama saya nona"
"Iyah pak Mun makasih, kalo begitu Vina berangkat dulu" setelah mendapatkan anggukan dari pak Mun Davina berjalan keluar dari dalam rumah.
Di depan rumah langkahnya terhenti saat Tanti yang tengah menyiram bunga memanggilanya membuat Davina menghampiri mertuanya.
"Iyah nyonya ada apa?" tanya Davina.
Mematikan kran air Tanti celingak-celinguk membuat Davina juga menatap kanan dan kiri. "Saya boleh bicara sebentar?" suara Tanti mendadak lirih, Davina hanya mengangguk kepalanya menjawab pertanyaan Tanti.
__ADS_1
"Jadi gini saya lagi butuh uang, dan saya tidak berani minta sama William" ucap Tanti kembali menatap pintu utama berharap pak Mun tidak datang secara tiba-tiba. "Jadi saya memutuskan untuk pinjaman uang sama kamu, apa kamu bisa bantu saja?" tanya Tanti.
Davina menatap wajah mama mertuanya yang terlihat sangat memohon. Bukannya Davina tidak ingin meminjamkan uang kepada Tanti hanya saja wanita itu sudah sangat sering sekali meminjam uangnya dan berjanji akan mengembalikannya tapi sampai sekarang uang itu juga belum di kembalikan, dan bukannya gak ikhlas Davina memberikan uang itu tapi ia juga bingung apa yang di lakukan mama mertuanya itu sampai harus terus menerus meminjam uang padanya?.
"Memang mau buat apa nyonya?" memberanikan diri Davina melayangkan pertanyaan itu cuma sekedar memastikan kalo Mama mertuanya tidak menyalah gunakan uang yang ia berikan selama ini.
"Kenapa dia harus bertanya segala sih? biasanya juga langsung di kasih"
"Eee itu, uang nya di pakai buat...." mengantungkan kalimatnya Tanti mencoba mencari alasan yang tepat.
"Buat?" tanya Davina yang ingin tau kelanjutan ucapan mertuanya.
"Buat beli makan anak pinggir jalan. Sebenarnya saya meminta uang kepada mu selama ini buat mereka, saya kasihan sama mereka yang harus menunggu orang kasih makan terlebih dahulu baru mereka bisa makan tapi kalo tidak ada mereka tidak makan, mama tidak tega melihat mereka kelaparan" kata Tanti panjang lebar.
Mendengar itu Davina merasa tidak enak hati sudah curiga dengan mertuanya sendiri apa lagi mertuanya memiliki niat yang baik. "Maaf nyonya" ucap Davina merasa bersalah.
Davina semakin tidak enak hati mendengar ucapan itu merogoh tasnya Davina mengeluarkan dompet hitam miliknya mengambil beberapa lembar uang yang ada di dalamnya. "Maaf nyonya saya cuma punya uang tiga ratus ribu" ucap Davina menyodorkan uang itu ke arah Tanti.
Tanti tersenyum menerima sodoran uang itu. "Tidak masalah segini juga sudah cukup"
"Kalo begitu saya berangkat dulu nyonya takut telat kerjanya"
"Iyah, iyah, silahkan hati-hati di jalan"
"Iyah nyonya" membalas ucapan Tanti Davina melangkah ke arah gerbang rumah berjalan ke gang depan untuk mencari ojek.
__ADS_1
***
Di kursi kebesarannya William tengah memainkan pulpen di tangannya dengan pandangan mata yang lurus kedepan entah apa yang sedang di pikirkan laki-laki itu sekarang.
Berulang kali pintu ruangan William di ketuk tapi tidak mendapatkan jawaban dari dalam membuat Max masuk begitu saja dan terlihat dari kejauhan kalo William tengah melamun membuatnya di kursi kebesarannya.
"Tuan?" lamunan William seketika lenyap saat suara Max yang membuatnya tersadar.
"Siapa yang memerintahkan kau masuk!"
"Maaf tuan, tapi tadi saya sudah mengetuk pintu ruangan anda beberapa kali"
"Omong kosong!, ada apa kau ke sini?" mengalihkan pembicaraan William kembali membuka dokumen yang ada di atas mejanya.
"Mata-mata di mansion memberikan kabar yang sama lagi tuan" ucap Max.
"Apa wanita itu masih suka meminta uang pada gadis itu?"
"Iyah tuan"
"Apa yang wanita itu gunakan dengan uang gadis itu?"
"Dari info yang saya dapat kalo nyonya memberikan uang itu pada seorang pria,dan belum di ketahui apa motifnya"
"Kau boleh pergi sekarang" usir William, Max membungkukkan badan sedikit sebelum keluar dari ruangan William.
__ADS_1
"Wanita itu tidak pernah berubah ternyata" William mendengus kesal pasalnya ini bukan laporan pertama atau kedua yang ia terima dari mata-mata yang ia pasang di rumahnya memergoki Tanti tengah memeras Davina dan bodohnya gadis itu mempercayai saja ucapan wanita iblis itu tanpa menaruh curiga sedikitpun.