
Lima tahun berlalu setelah melahirkan anak keduanya, kini hidup Davina semakin berwarna tanpa merasakan kurang sedikit pun, bahkan di setiap detiknya Davina menikmati saat-saat sibuknya menjadi ini dan istri untuk keluarga kecilnya.
Arka Nasution merupakan anak kedua William dan Davina. Jika Arsalan putra pertama mereka mirip dengan sang ayah, kini gantian Arka yang mirip dengan sang mama.
"Arsalan,Arka jangan lari-lari" teriak Davina saat kedua putranya langsung berlarian di taman.
"Biarkan saja" William meraih pinggang ramping Davina mengajak istrinya duduk di bangku taman yang kosong. "Mereka sudah besar bukan bayi berumur dua tahun lagi yang harus kamu jaga dua puluh empat jam" sambung William.
"Bilang saja kalo mama nya hanya boleh mengurus ayah nya" cibir Davina tak melepas pandangan dari kedua putranya yang masih asik berlari an di tengah taman.
"Karena aku ingin menikmati setiap menit nya bersama mu" William menyelipkan anak rambut di belakang telinga Davina agar tak menutupi wajah cantik sang istri. "Kita tidak tau takdir seperti apa yang akan kita lalui kedepannya nya dan siapa yang akan pergi terlebih dahulu meninggalkan salah satu di antara kita"
Mendengar William mulai membicarakan hal yang tidak enak untuk di dengar Davina melayangkan tatapan tajam, menghentikan tangan berotot William yang masih memainkan rambut panjang nya. "Aku tidak suka kamu berbicara seperti itu!"
Bukan nya takut William malah terkekeh melihat wajah galak Davina yang sangat lucu. "Apa kamu sangat menyayangi ku?"
"Tentu saja, kalo aku tidak menyayangi mu aku tidak akan mau bersama mu sampai detik ini menghabiskan setiap menit nya dengan mu, melihat wajah mu itu selama dua puluh empat jam setiap hari nya!"
"Kamu tau waktu sepuluh tahun itu masih sangat sedikit, aku ingin memiliki waktu puluhan tahun lagi untuk bisa bersama mu melihat pertumbuhan Arsalan dan Arka,melihat mereka beranjak dewasa dengan enam roti sobek di dadanya, melihat mereka mendapatkan pasangan yang tepat, melihat mereka menikah dan memberikan kita cucu!" ucap Davina panjang lebar bahkan mata wanita itu mulai berkaca-kaca bisa di pastikan sebentar lagi bulir bening akan jatuh dari pipi putihnya.
"Heyy aku hanya bertanya,kenapa kamu malah menangis seperti ini?" William ingin mengusap bulir bening di sudut mata sang istri tapi malah mendapatkan pukulan yang di layangkan Davina.
"Pertanyaan mu itu tidak lucu sama sekali!"
"Iyah sayang, aku minta maaf" William membawa tubuh Davina ke dalam pelukannya, mengusap punggung Davina, mengecup ubun-ubun kepalanya lama.
"Aku tidak ingi berpisah dari mu" rengek Davina seperti anak kecil.
"Akan aku usahakan" jawab William cepat. "Kenapa tiba-tiba sifat mu menjadi sensitif sekali?, apa kamu sedang datang bulan?" tanya William melonggarkan pelukannya agar bisa menatap wajah cantik Davina.
"Aku sedang tidak datang bulan"
__ADS_1
"Apa jangan-jangan kamu hamil?" William menaik turunkan alisnya membuat Davina berdecak kesal.
"Bagaimana bisa aku hamil kalo minggu kemarin saja aku baru datang bulan, lagian bukankah kamu sudah tidak ingin memiliki anak?"
William tersenyum kuda Mendengar ucapan sang istri, memang dirinya sudah tak mengizinkan Davina hamil setalah melahirkan Arka hari itu. "Aku hanya bercanda"
Kembali berbincang seperti sepasang kekasih yang baru saja jadian Davina dan William sampai lupa kalo ada dua buah hati yang juga harus mereka perhatikan.
"Hiks...hiks...ayah sakit"
Keduanya menoleh ke arah sumber suara di mana Arka jatuh di atas tanah setalah menabrak seorang laki-laki bertubuh kekar tengah mendorong stroller bayi.
"Arka?" ucap William dan Davina kompak, keduanya langsung berjalan sedikit berlari ke arah putra kedua mereka memastikan tak ada luka yang serius pada tubuh putranya.
"Mana yang sakit sayang?" tanya Davina menatap khawatir wajah Arka.
"Sakit ma" Arka mengusap lutut nya yang terbungkus celana jeans panjang.
"Maaf saya tidak sengaja menabrak nya, tadi saya ingin ke parkiran tapi tiba-tiba anak anda berlari dan menabrak saja" ucap seorang pria yang baru saja Arka tabrak meminta maaf.
"Kak Ali?" Davina bangkit dari tempatnya menatap wajah Ali yang ternyata baru saja Arka tabrak, William mengendong tubuh Arkan yang masih segukan karena rasa sakit di lutut nya. "Kak Ali ngapain di sini?" tanya Davina matanya beralih menatap stroller bayi yang ternyata ada seorang bayi perempuan yang sangat cantik.
"Kak Ali sudah punya anak?" tanya Davina menatap tak percaya wajah mantan kakak kelasnya itu.
"Iyah saya sudah punya anak"
"Kapan kakak menikah?"
"Baru satu tahun yang lalu, maaf aku tidak bisa mengundang mu dan William karena memang acaranya hanya di hadiri dua belak pihak keluarga" jelas Ali.
"Tidak apa aku juga ikut merasa senang kalo kakak sudah menikah. Terus mana istri kak Ali?, apa dia tidak ikut ke sini?" tanya Davina celingak-celinguk mencari sosok wanita.
__ADS_1
"Istri ku sedang ke toilet, dan tiba-tiba saja Kesya menangis seperti nya dia haus jadi aku mau ke mobil mengambil susu" ucap Ali menyebut nama sang anak.
"Sayang maaf aku lama, tadi di toilet antrian nya sangat panjang" ucap seorang wanita yang baru saja datang.
"Kak ayu?" panggil Davina.
"Davina, kamu ngapain di sini?"
"Kalian suami istri?" tanya Davina balik tak menghiraukan pertanyaan Ayu. Matanya menatap bergantian wajah di hadapan nya.
"Iyah ayu istri ku dan ibu dari Kesya" jawab Ali dengan lantang.
"Astaga ternyata dunia sangat sempit sekali" Davina mengeleng kecil.
"Namanya jodoh kita tidak ada yang tau, lagian mau sejauh dan sedekat apapun jodoh kita pasti dia akan kembali ke tempatnya" Sambung Ayu tersenyum manis menatap wajah suaminya.
Oek...oek...
"Astaga aku sampai lupa, Kesya seperti nya kehausan dan susunya tertinggal di dalam mobil"
Mendengar hal tersebut Ayu langsung mengambil tubuh mungil sang putri di timang-timang nya penuh kasih sayang. "Dia bukan haus hanya saja dia pup" ralat Ayu mencium bau-bau harum dari sang putri.
"Sebaiknya cari toilet di dekat sini" saran Davina.
"Kenapa kita tidak sekalian makan siang?" Ucap William membuka suaranya yang sejak tadi hanya diam saja.
"Kamu serius?"
"Tentu saja aku serius lagian Arsalan dan Arka juga sudah lapar, bagaimana apa kamu setuju?" tanya William yang langsung di angguki sang istri dan tentunya di setujui Ali dan Ayu.
Mereka semua menuju restoran terdekat untuk mengisi perut mereka yang kosong karena memang jam makan siang sudah tiba.
__ADS_1
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️