
Hari weekend, minggu ini adalah menjadi hari pertama kali William mengajak istrinya keluar rumah. Tidak jauh karena Davina hanya meminta di taman kompleks yang dekat dari rumahnya saja. Duduk di salah satu kursi taman matanya tidak bisa lepas dari anak-anak berusia tiga tahun yang saling kejar-kejaran hanya memperebutkan satu balon bergambar Hello Kitty.
"Untuk mu" William menyodorkan satu botol air mineral yang baru saja ia beli.
"Terimakasih" menerima uluran botol tersebut Davina meneguk air di dalamnya.
William yang sekarang lebih suka dengan memainkan rambut Davina menyisir rambut panjang itu kebelakang. "Apa kau tidak berminat memotong?"
"Apa kamu lebih suka rambut pendek?" Davina yang sudah tidak memanggil William dengan sebutan formal seperti dulu mulai terbiasa dengan panggilannya yang sekarang.
"Tidak, hanya saja apa tidak panas?" tanya William yang masih asik memainkan rambut di tangannya.
"Sedikit" Jawab Davina kembali meneguk air di tangannya karena memang cuaca yang sedikit panas.
"Bulan ini kau sudah periksa kandungan?" beralih mengusap perut buncit milik Davina William mendaratkan kecupan kecil.
"Sudah minggu lalu setelah pulang kerja"
"Apa kata dokter?" tanya William penasaran.
"Katanya semuanya baik tidak ada yang perlu di khawatirkan, hanya saja...."
"Hanya saja apa?" melihat gadis yang duduk di sampingnya mengantungkan kalimatnya membuat William merasa penasaran.
"Hanya saja aku belum tau jenis kelaminnya apa"
"Kenapa begitu?"
"Aku ingin mengetahuinya setelah ia lahir nanti"
"Apa tidak lebih baik kita tahu dari sekarang?, biar kita bisa menyiapkan semuanya mulai sekarang" sebagai yang yang memiliki masa lalu sangat buruk William berusaha sekuat tenaga untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi untuk istri dan calon anaknya walau masih dalam hitungan hari dirinya menjalani kehidupan baru dengan Davina.
"Tidak usah, yang terpenting itu dia di dalam sini sehat tidak kekurangan satu apapun, bukankah itu sudah lebih dari segalanya?" tanya Davina meminta pendapat.
"Iyah kamu benar, lagian masalah jenis kelamin itu biar jadi urusan tuhan karena kita tinggal terima apapun yang di berikan nya. Termasuk dirimu"
"Aku?" gadis itu menunjuk dirinya sendiri tak paham dengan ucapan suaminya.
Tersenyum sangat manis William mengusap wajah cantik tersebut dengan lembut. "Iyah, karena kamu aku bisa merasakan hidup tenang seperti ini"
"Ini baru beberapa hari tapi kamu sudah memujiku setinggi langit"
"Jangankan setinggi langit ingin rasanya aku memujimu setinggi apapun itu sampai manusia sendiri tidak bisa mengukurnya"
"Hahahaha" tawa Davina benar-benar lepas kali ini saat mendengar gombalan receh anak SMA yang di layangkan William kepadanya.
"Kenapa tertawa?" tanya William terlihat tak suka.
__ADS_1
"Apa kamu tidak sadar ini pertama kalinya aku mendengar kamu gombal seperti itu"
"Apa lucu?"
"Tidak, hanya saja aku baru pertama kali in mendapatkan gombalan dari seorang laki-laki dalam hidupku" elak Davina.
"Jadi aku orang pertama?" tanya William dengan nada bahagianya.
"Iyah kamu orang pertama yang melayangkan gombalan itu untuk ku"
Merasa senang saat mendengar kalo dia lah orang pertama membuat William ingin salto girang sekarang juga. "Karena aku orang pertama maka setiap harinya aku akan memberikan gombalan untuk mu" mencolek dagu Davina membuat gadis itu merasa geli sendiri.
"Pulang sekarang ya, udah mau siang gak baik buat kamu lama-lama kena sinar matahari"
"Kenapa?" tanya Davina bingung.
"Karena matahari bisa langsung bersembunyi saat melihat mu"
"Will udah, stop!" ucap Davina yang yang merasa geli-geli sendiri dengan gombalan tidak masuk akal itu.
"Ternyata begini jadinya kalo mantan Casanova belajar gombal, terlihat aneh tapi juga lucu"
"Kenapa? aku bahkan belum mengeluarkan semua gombalan yang aku punya" membantu Davina bangun dari duduknya mereka berjalan pulang ke rumah dengan William tiada hentinya mengatakan gombalan-gombalan itu di sepanjang perjalanan menuju rumah.
Suasana rumah yang sedikit berwarna sekarang membuat penghuni di dalamnya merasakan sedikit merasakan kelonggaran karena perubahan sifat William. Kalo dulu para pegawai rumah yang terlihat sangat kaku hanya sekedar untuk tersenyum sekarang terlihat berbeda.
"Iyah dulu aku bisa selucu itu juga ternyata" kekeh William yang tekah sampai di dalam rumah keduanya memilih duduk di ruang keluarga.
"Aku yakin pasti sifat konyal mu itu akan turun ke anak mu"
"Tidak apa, asal jangan sifat buruk ku" tersenyum masam William meraih remot televisi di atas meja.
Melihat itu Davina meraih tangan kekar William menautkan jari-jari tangannya pada jari William. "Jangan bicara seperti itu, itu hanya masa lalu yang tidak perlu di ungkit-ungkit lagi dan sekarang yang ada hanya masa depan yang tengah menunggu kita"
"Iyah" merasa senang mendengar itu William mengecup singkat bibir merah Davina membuat gadis itu memekik kaget.
"Kenapa kau selalu kaget seperti itu?"
"A-aku hanya belum terbiasa dengan hall itu"
"Makanya itu harus di biasakan"
"Jangan mendekat" Davina menahan tubuh William agar tidak mendekat.
"Kenapa?, apa kau tidak mau aku cium"
"Bu-bukan, hanya saja di rumah ini banyak orang aku malu" ucapnya merona malu.
__ADS_1
"Jadi kalo sepi mau?" menaik turunkan alisnya William menggodanya Davina yang sudah tersipu malu.
"Lu-lupakan, aku mau ke dapur bikin susu" tidak tahan akan godaan William Davina beranjak dari duduknya.
Meraih tangan Davina meminta agar gadis itu kembali duduk. "Biar aku saja" ucapnya yang langsung bangkit dari duduknya melangkah ke arah Dapur.
Davina yang melihat William yang berjalan ke arah dapur memilih menunggu pria itu dengan menyandarkan punggungnya di badan sofa dan menatap layar televisi. Tidak berselang lama William sudah kembali dengan segelas susu vanila di tangannya.
"Harus habis"
"Iyah" menerima uluran susu tersebut Davina meminum susu di tangannya.
"Will" panggil Davina.
"Sayang!" ralat William.
"Iyah sayang" ucapnya ulang.
"Kenapa?"
"Apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya gadis itu hati-hati.
"Katakan"
"Apa boleh aku pulang kampung besok?" ucap Davina yang memang sudah mengambil cuti dua hari untuk menjenguk sang ibu yang sudah lama sekali tidak melihat kondisinya secara langsung.
"Kenapa?" tanya William yang ingin tau alasan gadis itu.
"Aku hanya ingin melihat ke adaan ibu, sudah lama sekali aku tidak pulang ke sana hanya sekedar mengecek keadaannya"
"Sendiri?"
"I-iyah"
"Apa kau tidak ada niat an untuk mengajak ku?"
"Ka-kamu mau?" tanyanya terbata-bata.
"Tidak ada salahnya bukan aku melihat ibu mertua ku sendiri?"
"Kamu serius?"
"Iyah dan besok kita berangkat"
Tidak bisa berkata apa-apa lagi Davina langsung memeluk tubuh kekar itu dari samping, rasanya sangat bahagia saat William mau bertemu ibunya karena itu menandakan pria itu benar-benar sudah menerimanya sekarang.
***
__ADS_1
Pastikan kalian udah Like dan komen episode sebelumnya🤗♥️