
Berbeda dari hari sebelumnya hari ini William mengantarkan Davina terlebih dahulu ketempat kerjanya, berhenti di didepan toko supermarket William mengamati tempat itu secara menyeluruh.
"Kamu kerja disini?" tanya William yang baru tau Davina bekerja disini.
"Iyah"
"Apa kamu betah?"
"Iyah, lagi pula orang-orang nya ramah dan baik"
Melihat William hanya diam saja Davina meraih punggung tangan suaminya mencium singkat punggung tangan itu. "Aku turun dulu, kamu hati-hati ke kantornya" ucap Davina dan langsung turun dari dalam mobil.
Menurunkan kaca mobilnya William memanggil nama Davina membuat gadis itu menoleh ke arahnya. "Nanti siang aku jemput untuk makan siang"
Davina menganggukan kepalanya. "Iyah aku tunggu" setelah mengatakan hall itu Davina melanjutkan langkahnya masuk kedalam supermarket tempatnya bekerja.
Melihat Davina sudah masuk ke dalam bangunan tersebut mobil William melaju meninggalkan halaman supermarket menuju kantornya, William yang sibuk menatap layar ponselnya tengah mencari restoran yang akan ia booking untuk makan siang nanti setelah mendapatkan restoran yang sesuai dengan keinginannya William menatap keluar jendela.
Mobil William berhenti di depan lobi perusahaan dengan sigap satpam yang berjaga langsung membuka kan pintu untuk atasannya, mempersilakan William turun pria itu langsung melangkah masuk ke dalam kantornya menuju ruangannya.
Mendudukan tubuhnya di kursi kebesarannya William membuka layar laptop di hadapan nya untuk mengecek perkerjanya yang tertunda selama satu hari kemarin, merasakan ada yang janggal dari laptopnya William mencari kejenggalan itu, tangannya terkepal kuat saat melihat beberapa berkas penting di laptopnya hilang sebagian beruntung data-data tentang proyek mega dengan tuan garda tidak hilang.
"Max!!!" teriak William dari dalam ruangannya. Max yang baru saja keluar dari dalam lift mendengar teriakan William langsung berlari ke ruang atasannya membuka pintu Max tidak izin terlebih dahulu dan langsung nyelonong masuk begitu saja.
"Iyah tuan ada apa?"
"Lihat!, kenapa data-data ini bisa hilang!" menunjukan layar laptopnya ke arah Max memerintahkan agar pria itu melihat nya.
Max sedikit membungkukkan badan melihat dengan teliti layar laptop itu dan benar saja banyak sekali data-data penting yang hilang bahkan data-data tentang proyek yang sebentar lagi selesai juga ikut hilang.
"Baru satu hari aku pergi tapi kenapa semua bisa kacau seperti ini!" rahang William mengeras ia tidak menyangka bahwa bisa-bisanya ada penyusup masuk ke dalam perusahannya saat dirinya meninggalkan kantor satu hari saja.
"Ini aneh tuan"
"Apa maksudmu?"
"Bukankah laptop anda memiliki sandi?, dan sandi ini yang tau hanya anda saja tapi kenapa orang lain bisa membukanya?. Saya rasa orang yang melakukan hall ini bukan orang luar tuan melainkan orang terdekat anda" ucap Max menebak dengan pandangan yang tidak lepas dari layar di depannya mencari data apa lagi yang hilang.
__ADS_1
"Orang terdekat? siapa orang terdekat yang berani-beraninya mencari gara-gara dengan ku?"
Melihat mimik wajah Max yang berubah drastis membuat William yang duduk di kursinya merasa penasaran akan hall yang terjadi. "Ada apa Max? kenapa wajahmu berubah seperti itu?"
"Harga saham kita anjlok drastis tuan"
"Apa?!" mengambil ahli laptopnya yang di pegang oleh Max membuat mata William membulat sempurna saat apa yang di katakan oleh Max adalah kenyataan.
"Tidak, tidak, jangan lagi tuhan"
"Cari dalang di balik semua ini sekarang juga!" perintah William.
"Tapi tuan-"
"Masalah perusahaan biar aku saja yang tangani, kamu cari saja dalang di balik ini sebelum hall ini menjadi dampak buruk bagi perusahaan ku!" potong William.
Yang di katakan oleh atasannya memang ada benarnya kalo keduanya mengerjakan hall yang sama siapa yang akan mencari hama itu?. "Baik tuan" keluar dari dalam ruangan atasannya Max menghubungi anak buahnya untuk mencari hama yang sudah mencari gara-gara dengannya.
"Ayah bantu William" guman pria itu yang berusaha tetap tenang tapi hatinya berkata lain.
***
"Bersulang untuk awal baru kita" mengangkat gelasnya membuat bunyi ting... timbul dari dua buah gelas yang saling bertemu.
"Apa kamu melakukan hall ini sendiri?" tanya wanita itu.
"Tidak, aku membayar seorang hecker untuk melakukan semua ini" ucap pria tersebut setelah meneguk minumannya.
"Apa kau bisa Pastika dia pintar melakukan hall ini?"
"Tentu kamu tahu aku membayar hacker ini dengan harga yang mahal hanya untuk pekerjaan ini"
"Bayarannya tidak akan seberapa yang penting kita sudah mendapatkan data-data pentingnya dan tinggal menunggu surat pembalikan seluruh harta William" ucap wanita tersebut yang ternyata Tanti yang sedang merayakan awal kemenangannya di sebuah club.
"Terus dari mana kamu bisa mendapatkan sandi itu?"
Tanti yang baru selesai membuatkan secangkir kopi untuk anaknya membawanya ke ruang kerja William dengan sepiring cemilan. Mengetuk pintu terlebih dahulu baru dirinya di persilahkan masuk.
__ADS_1
"Nak ibu bawakan kopi buat teman kamu kerja" menaruh cangkir di samping tangan William Tanti melirik sekilas pada layar laptop William yang tengah memasukan sandi laptopnya.
"Nasution 56"
"Kenapa masih di sini?" tanya William tak suka.
"Ma-mama cuma memastikan kamu membutuhkan yang lain atau tidak" elak Tanti.
Berdecak kesal William menatap wajah sang mama. "Harus berapa kali saya bilang kalo saya tidak butuh apa-apa dari anda!, dan sekarang silahkan keluar dari ruangan saya!" ucap William menunjuk pintu ruangannya.
"Iyah mama keluar, kamu juga jangan sampai tidur terlalu larut tidak bagus untuk kesehatan kamu"
"Keluar!" ucap William sekali lagi.
Melangkah keluar dari ruangan William Tanti mengumpat di dalam hatinya. "Nikmati saja saat-saat ini sebelum semuanya menjadi milik ku!"
"Kenapa kau tega melakukan hall itu pada anak mu sendiri?" tanya pria itu.
Meminum wine di tangannya sekali tegukan Tanti merasakan hangat di tenggorokannya. "Apa kamu tidak ngaca dulu sebelum berbicara Diki?, kamu saja menelantarkan anak dan istrimu yang entah dimana itu" cibir Tanti.
Diki terkekeh mendengar itu dan kembali menuangkan wine ke gelasnya. "Aku meninggalkan mereka juga untuk dirimu sayang"
"Omong kosong"
"Aku serius, kalo aku tidak mencintaimu aku tidak mungkin membantu mu sampai sejauh ini"
Memutar bola matanya malas Tanti memesan lagi satu botol wine kepada waitress. "Apa kau tidak ingin mencari anak mu yang ada di kota ini?"
Diki mengelengkan kepalanya. "Buat apa? bahkan kalo dia mati saja aku tidak akan peduli"
"Kalo dia bisa menghasilkan uang baru mungkin aku akan sedikit merasa bersalah"
"Merasa bersalah karena di mati sebelum kamu menikmati uangnya?" tebak Tanti.
"Iyah" keduanya tertawa sangat keras tanpa menghiraukan orang lain yang melihat ke arah mereka. Melanjutkan pesta keduanya menikmati alunan musik yang di ciptakan club tersebut.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiahnya 🤗♥️