Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 24


__ADS_3

Sampainya di kampus Davina langsung melangkah menuju kelasnya, beruntung saat Davina datang dosen juga belum masuk kelas.


"Vina...." Teriak sekar sambil melambaikan tangannya yang duduk di tengah tengah.


Davina melangkah menghampiri sekar yang tersenyum ke arahnya. "Kamu duduk di sini saja kebetulan di sini masih kosong" kata sekar sambil menunjuk kursi di sebelah tempatnya duduk.


"Iyah"Davina langsung mendudukan tubuhnya dan mengeluarkan buku dari dalam tasnya.


"Vin..."


"Iyah, ada apa?" Davina menoleh ke arah sekar yang juga sedang menatapnya.


"Hari ini kan cuma ada satu mata kuliah,gimana habis ini aku main ke rumah kamu,sekalian aku juga pengen tau rumah kamu dimana,jadi kalo aku bosen di rumah kan bisa main ke rumah kamu" kata sekar, Davina yang mendengar sekar ingin kerumahnya langsung meremas tangannya, tidak mungkin ia mengajak sekar ke rumah William sedangkan tadi pagi saja William baru memberikan peringatan keras kepadanya untuk tidak berbicara sama kepada orang lain kalo ia istrinya, kalo tidak keluarganya yang menjadi ancaman. Seketika bayangan ibu dan adik nya kemarin membuat Davina meremas tangannya semakin kuat.


"Vin..."


"Vina...." Panggil sekar beberapa kali saat melihat Davina melamun.


"Ahhh....i—iyah ada apa?" Tanya Davina saat sekar memegang tangannya membangunkannya dari lamunannya.


"Kamu ngelamun?"


"E—enggak..."


"Gimana boleh kan aku ke rumah kamu habis ini?" tanya sekar.


"Bukannya aku gak mau ngajak kamu ke rumah kos kosan aku, tapi habis ini aku juga harus kerja" jawab Davina.


"Yah...padahal aku pengen banget main ke rumah kamu"


"Maaf ya" kata Davina yang merasa bersalah, tapi ia juga tidak punya cara lain lagi, gak mungkin Davina mengajak Sekar ke rumah William itu artinya secara tidak langsung Sekar akan tau siapa dirinya.


"Gak papa, lain kali kan aku masih bisa ke rumah kamu" kata Sekar bersamaan dengan dosen masuk ke ruang kelas mereka dan mulai kegiatan belajar mengajar, Davina mencatat setiap materi yang penting di bukunya dan memperhatikan dengan serius saat dosen menerangkan materi.


*


"Vina bisa ke sini sebentar..." panggil juru masak dari dalam dapur saat Davina ingin mengantarkan makanan ke meja pelanggan, Davina yang namanya di panggil menaruh nampan yang ada di tangannya di atas meja dan melangkah masuk ke dalam dapur.


"Iyah" kata Davina saat sudah sampai di dalam dapur.

__ADS_1


"Kamu bisa antar makanan ini di ruangan VIP di lantai dua?"


"Bisa kok bisa"


"Kamu antar makanan ini di rungan nomer tiga,bawanya hati hati dan ingat jangan melakukan kesalahan saat mengantarnya karena di ruangan VIP itu ada pengusaha besar yang sedang miteeng" kata juru masak mengingatkan Davina.


"Baik" Davina langsung mengangkat nampan tersebut dan melangkah menaiki anak tangga, Ini pertama kalinya Davina menginjakan kakinya di lantai dua restoran yang sudah satu bulan ini ia bekerja, saat Davina sampai di lantai atas Davina menatap pintu yang menunjukan angka tiga, saat sudah menemukannya davina melangkah menuju pintu tersebut dan mengetuknya terlebih dahulu, saat seseorang mempersilahkannya masuk, Davina melangkah masuk ke dalam ruangan itu.


Saat Davina menaruh minuman di di hadapan seorang pria, mata Davina membulat dan seketika tubuhnya bergetar saat melihat William sang suami yang ternyata sedang miteeng di ruangan tersebut, untung Davina bisa menjaga keseimbangan Nampan yang ia bawa kalo tidak bisa di pastikan ia akan melakukan kesalahan.


"Silahkan tuan" kata Davina saat menaruh minuman di hadapan William.


"Dia bekerja di sini?"


"Ada lagi yang ingin di pesan tuan?" tanya Davina, yang membuat William mengangkat tangannya mengisyaratkan Davina agar segera cepat keluar dari ruangan tersebut.


"Kenapa dia bisa ada di sini?" kata Davina saat pintu ruangan. "Aku harap saat di rumah nanti William tidak akan marah saat mengetahui aku yang bekerja di restoran ini." kata Davina yang masih berdiri di depan pintu yang ia tutup tadi dan sesekali Davina menatap pintu itu, entah apa yang ada di pikiran Davina hingga ia enggan untuk pergi dari depan pintu tersebut.


Ceklek....


Tidak berapa lama pintu ruangan VIP tersebut terbuka dan terlihat Max yang membukanya di ikuti William dan dua rekan bisnisnya dari belakang yang membuat Davina kaget dan langsung melangkah mundur saat orang dari dalam ruangan tersebut ingin keluar.


"Pasti, saya akan pastikan proyek ini akan selesai tepat pada bulan yang telah di tentukan" jawab William.


"Anda memang bisa di andalkan, tidak ragu lagi kalo saya kedepannya akan menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan anda karena CEO nya saja bisa menghendelnya dengan sangat tepat dan teliti" kata peria tersebut dengan nada bangga.


"Anda bisa saja"


"Ngomong ngomong apakah sekarang ini anda sudah memiliki seorang istri?" tanya pria tersebut yang membuat William melirik sekilas Davina yang juga tengah menatapnya.


"Hahaha....anda ini jangankan Istri untuk seorang pacar saja saya tidak punya" kata William tanpa rasah bersalah, sedangkan Davina yang mendengar William tidak mengakuinya sebagai seorang istri membuat hatinya terasa sangat sakit ingin sekali Davina teriak dan menangis sekeras kerasnya tapi sebisa mungkin itu semua Davina tahan dengan dada yang terasa sangat sesak.


"Kebetulan sekali saya memiliki satu orang putri yang baru saja pulang dari London untuk menyelesaikan studi kuliahnya,kalo anda memiliki waktu luang datanglah untuk makan malam di rumah saya tuan, maka aku akan memperkenalkan anda dengan putriku, siapa tahu kalian cocok kan kita tidak ada yang tau bukan"


"Hahaha....anda ini bisa saja, lain kali kalo saya ada waktu saya akan datang ke rumah anda"


"Baik taun" kata peria tersebut sambil melihat jam tangan di pergelangan tangannya. "Maaf tuan saya tidak bisa terlalu lama karena saya juga harus menghadiri miteeng lima belas menit lagi, kalo begitu saya permisi tuan" kata peria tersebut yang langsung pergi dengan asistennya.


Sekarang tinggal William, Max dan Davina yang masih mematung di tempatnya. "kau...ikut aku Masuk" kata William dengan suara beratnya yang lebih di tujukan kepadanya Davina. "Dan kau Max tunggu di luar dan pastikan jangan ada satu orang pun yang berani masuk ke dalam" lanjutnya dan di angguki oleh Max.

__ADS_1


William berjalan masuk meninggalkan Davina yang ketakutan dengan meremas tangannya yang menatap pintu di mana William masuk ke ruangan tersebut. "Nona, sebaiknya anda cepat masuk sebelum tuan William akan marah" kata Max membuat Davina beralih menatap Max.


"Nona... apa anda mendengar saya?"


"I—iyah, saya akan masuk" kata Davina terbata bata dan Davina melangkah masuk dengan kaki yang bergemetar karena rasa takutnya.


Saat baru beberapa langkah Davina masuk ke ruangan VIP tersebut pintu tiba tiba tertutup kini di dalam ruangan tersebut tinggal William yang duduk membelakangi Davina, dengan langkah kaki yang gemetar Davina melangkah mendekat ke arah William.


"A—ada yang bisa saya bantu tuan" tanya Davina yang berdiri di samping William.


"Ada"


"Apa tuan? apa anda ingin makan?"


"Bukan" kata William yang langsung berdiri dari kursinya dan menatap Davina dari atas sampai bawah, Davina yang hanya menggunakan baju kerja dengan rok yang sedikit berada di atas lutut membuat William terus menatapnya.


"Tuan" panggil Davina saat William yang terus menatapnya. Davina di buat kaget saat William yang tiba tiba mengangkat tubuhnya ke atas meja membuat minuman yang ada di atas meja tersebut tumpah.


"T—tuan A—anda mau apa?" tanya Davina saat William menarik pinggangnya dengan kasar, Davina melihat wajah William seperti orang yang mengincar sesuatu.


"T—tuan ini tempat saya bekerja" kata Davina mengingatkan William yang mendekatkan wajahnya ke arahnya.


"Bukankah kau yang menawarkan bantuan, dan sekarang aku menerima niat baik mu itu" Bisik William tepat di telinga Davina dan menghembuskan nafasnya di celuk leher Davina, yang membuat Davina merasa merinding dengan sikap William tersebut.


"T—tapi tua...." ucapan Davina terpotong saat William langsung melancarkan aksinya dengan mencium celuk leher davina meninggalkan bekas ke unguan di sana, Davina menutup mulutnya rapat rapat agar tidak mengeluarkan suara ******* dari mulutnya.


"Lepaskan saja, tidak akan ada yang mendengarnya" kata William menggigit daun telinga Davina pelan yang membuat satu ******* lolos dari bibir mungil Davina.


William membuka satu persatu kancing kemeja yang Davina gunakan sambil mencium bibir Davina yang masih sangat kaku saat ia mencium nya, William yang tau kalo Davina tidak pernahkah berhubungan dengan orang lain membuatnya sangat bangga saat memiliki tubuh Davina untuk pertama kalinya.


Tangan William mengeluarkan buah dada Davina dari tempatnya dan langsung melahapnya secara bergantian membuat sang pemilik merancau tidak jelas, saat merasakan sensasi geli di aset pribadinya.


Dengan posisi yang masih sama tangan William tidak tinggal diam, tangannya menaikan rok yang di gunakan Davina hingga ke pinggang dan tangannya langsung merobek pakaian dalam yang di gunakan Davina, dan langsung memasukan tangannya ke dalam area pribadi milik Davina yang masih terasa sedikit sempit karena baru pertama kali ia masuki. William memaju mundurkan tangannya di area pribadi milik Davina memberikan pemanasan sebelum ia memasukinya kembali.


***


Jangan lupa Like,komen, Vote dan beri hadiah biar a


Author makin semangat 🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2