
Hari semakin sore dan kini jam di dinding restoran menunjukkan pukul lima sore dan waktunya sift siang di ganti dengan sift malam.
"Davina kamu pulang naik apa?" tanya Mia saat dirinya dan Davina berjalan keluar dari restoran bersamaan.
"Davina bisa naik ojek mbak" kata Davina saat melihat pangkalan ojek yang tidak jauh dari restoran tempatnya bekerja.
"Ya sudah mbak pulang dulu ya, kamu hati hati pulangnya" kata Mia saat angkot yang biasa ia tumpangi berhenti tepat di depannya.
"Iyah mbak, mbak Mia juga hati hati" kata Davina yang di balas senyuman oleh Mia yang langsung naik ke dalam angkot dan melambaikan tangannya dari dalam angkot ke arah Davina yang di balas oleh lambaian tangan Davina.
"Bang ojek" kata Davina saat sampai di pangkalan ojek.
"Iyah neng, mau kemana?"
"Ke jalan xxxx ya bang"
"Baik neng ayo naik, ini helemnya" kata tukang ojek tersebut menyerahkan helem ke Davina yang langsung dipakai Davina dan naik ke atas motor.
membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk Davina sampa di rumah William, "Berapa bang?"
"Dua puluh ribu neng" kata tukang ojek tersebut, Davina langsung merogoh dompet milikinya dan menyerahkan uang warna hijau kepada abang tukang ojek tersebut dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah william.
Tingkah Davina di perhatikan oleh seseorang yang menatapnya dari lantai dua, siapa lagi kalo bukan William, entah kenapa habis kejadian tadi siang itu membuatnya malas sekali bekerja dan memutuskan untuk pulang saja kerumahnya, tapi saat ia akan membuka laptopnya matanya menatap Davina yang baru saja pulang kerja.
Entah arti tatapan apa yang bisa membuat William menatap Davina tanpa berkedip, "Gadis itu benar benar berbeda dari gadis pada umumnya"
"Ah...kamu ini mikir apa sih Will, semua wanita itu sama saja dan ingat mereka mendekati mu hanya karena hartamu bukan yang lainnya" kata William yang berbicara pada dirinya sendiri dan langsung membuka laptopnya, William memilih untuk mengerjakan pekerjaannya yang tidak sempat ia kerjakan di kantor tadi siang.
*
Sedangkan di dalam kamar mandi Davina membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lelah dan lengket, setelah selai mandi Davina membalut tubuhnya dengan handuk yang melilit di tubuhnya, Davina melangkah ke arah lemari dengan mengosok gosokan handuk kecil ke rambutnya yang basah sambil Davina bercermin di depan pantulan kaca lemarinya.
Setalah memakai baju Davina keluar dari dalam kamar dan melangkah menuju dapur untuk memasak makan malam, tapi saat Davina sudah sampai di dapur Davina melihat William yang tengah mengambil jus jeruk dari dalam lemari.
__ADS_1
"Tuan...ada yang bisa saya bantu?" tanya Davina dari belakang tubuh William yang membuat William memutar tubuhnya dan melihat Davina yang hanya menggunakan daster berwarna ungu.
"Apa kau tidak punya baju yang lebih bagus dari ini?" Cibir William sambil meneguk jus jeruk yang ada di gelasnya.
"Memangnya kenapa dengan baju saya tuan?" tanya Davina yang merasa tidak ada yang salah dengan baju yang ia gunakan saat ini.
"Sangat murahan" kata William yang membuat Davina yang tadi melihat penampilannya sendiri beralih menatap William. "Iyah...bajumu itu sangat murahan, dan sangat layak dan untuk wanita seperti dirimu itu" kata William yang langsung meninggalkan Davina.
Huffff.....
Davina membuang nafas kasar saat hatinya sedikit tersakiti, "Sabar Vin...."
"Karena cara mengubah orang seperti tuan William itu harus pakai kelembutan, dan kesabaran, sekarang biarkan dia dulu mau melakukan apa saja, asal kamu jangan marah apalagi memberontak" kata Davina yang mulai mengeluarkan bahan bahan dari dalam kulkas bersamaan dengan pak Mun yang datang ke dapur.
"Pak Mun, biar saya saja yang naruh sayurnya" kata Davina saat pak Mun ingin membawa satu mangkok sayur ke meja makan.
"Tapi ini masih panas Nona" kata Pak Mun mencegahnya Davina.
"Gak papa pak Mun, Davina bisa kok, pak Mun seleikan saja goreng ikannya" kata Davina yang di angguki oleh Pak Mun. Davina langsung mengambil satu mangkok sayur dan membawanya sangat hati hati.
"Au....panas.... panas.... panas...."
"Maaf tuan maaf saya tidak sengaja" kata Davina yang langsung menaruh sayur di tangannya di atas meja dan membersihkan baju Wiliam dengan kain yang ada di pundaknya.
"Maaf tuan, biar saya bersihkan"
"Tidak perlu..." kata William menepis tangan Davina kasar. "Kau tau ini rumah bukan rumah nenek moyang kamu, jadi kerja dengan becus...." kata William mengibaskan kaos yang ia gunakan supaya panas yang di rasakan kulitnya tidak terlalu panas.
"Kalo jalan itu lihat lihat, apa kamu tidak bisa melihat orang sebesar ini lewat di hadapan mu...? apa kau sudah buta?"
"M—maaf tuan"
"Maaf maaf apa kau cuma bisa meminta maaf tanpa berbuat sesuatu? apa kau cuma bisa bikin kesalahan tanpa bertanggung jawab?"
__ADS_1
"S—saya harus apa tuan?"
"Obati aku kau pikir apa lagi? apa kau pikir ini tidak panas? apa kau mau aku menyiram mu dengan air panas baru kau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini?" kata William penuh penakanan.
"J—jangan tuan jangan, s—saya akan ambilkan obat dulu tuan, anda bisa tunggu di sini" kata Davina yang langsung mengambil obat P3K yang ada di dekat dapur dan membawanya ke meja makan di mana William sudah menunggunya.
"I—ini tuan obatnya" kata Davina menyodorkan salep untuk luka bakar pada William, William melihat salep yang ada di tangan Davina dan beralih menatap Davina yang berdiri di hadapannya.
"Apa kau menyuruhku mengobati lukaku sendiri? sedangkan luka itu yang menyebabkan adalah kau"
"Obati aku cepat dan jangan banyak bicara, karena aku tidak punya urusan berlama lamaan dengan wanita seperti dirimu!" kata William yang melihat Davina ingin mengeluarkan suara.
"B—baik tuan" kata Davina terbata bata, sesaat Davina diam dan memperhatikan William yang tidak membuka kaosnya, trus bagaimana caranya ia mengoleskan salep ini? pikir Davina.
"Kenapa diam?"
"I—itu tuan, sebaiknya anda membuka baju yang anda gunakan supaya bisa mengoleskan salep ini"
"Kalau kau bisa melakukannya kenapa kau harus menyuruhku? apa sekarang kau sudah berani menyuruh ku?"
"Tidak Tuan bukan seperti itu..."
"Cepat obati dan tutup mulut mu itu..."
Davina berjongkok di depan William sesaat Davina meremas tangannya sebelum membuka kaos William, Davina menaikan sedikit kaos yang William gunakan dan terlihat perut sixpack William yang sangat keras, Davina hanya bisa menelan salivanya saat otaknya mengigat dimana William menyutubuhinya untuk pertama kalinya, Davina mengoleskan salep luka bakar tersebut ke kulit William yang terlihat merah akibat kuah sayur yang ia bawa tadi.
"Sudah tuan" kata Davina yang membenarkan kaos yang di gunakan William setelah ia mengoleskan salep luka bakar pada luka William.
"Sekarang pergi ke kamarku, bersihkan kamarku sekarang juga..." titah William yang di angguki oleh Davina yang langsung melangkahkan kakinya naik ke lantai dua.
***
Assalamu'alaikum.
__ADS_1
Di sini author mau kasih info sedikit sama kalian buat pembaca Istri Tuan Casanova kalo author sudah bikin ig khusus untuk novel novel author, untuk mendapatkan info buat novel novel author kedepannya 🤗♥️
(Ig : danidela25)