Istri Tuan Casanova

Istri Tuan Casanova
Episode 34


__ADS_3

Setelah puas menangis di kamar mandi Davina membenarkan bajunya yang sedikit berantakan saat dirinya terlalu lama menangis di dalam kamar mandi, Davina memutuskan untuk keluar dari dalam kamar dan berdiri seperti biasanya bersama para pelayan di belakang William, meski pak Mun sudah berulang kali menyuruhnya untuk istirahat di dalam kamar Davina dengan keras kepala ingin menemani William sarapan dan akan kembali beristirahat saat William sudah berangkat ke kantor.


"Kenapa diam saja di situ!, cepat ambilkan aku makanan!" titah William sambil menatap Davina.


"S—saya tuan?" kata Davina sambil menunjuk dirinya sendiri dan mendapatkan tatapan tajam dari William. "B—baik tuan" kata Davina terbata bata, buru buru Davina menghampiri William di meja makan dan menaruh nasi serta beberapa lauk di piring William.


Huek...


buru buru Davina meletakan kembali sendok saat ia ingin mengambilkan ayam untuk William,saat bau ayam itu masuk menusuk rongga hidung Davina dan membuatnya merasa mual, para pelayan menatap Davina dengan tatapan tidak percaya saat gadis itu dengan beraninya melakukan hall seperti tadi, sedangkan William menatap tajam Davina yang masih menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Apa yang kau lakukan hah!! apa kau ingin membuat ***** makan ku hilang begitu saja!"


"M—maaf tua saya tidak segaja, huek...." kembali Davina melakukan hall yang sama, tapi semua itu berada di luar kendali dirinya.


BRAK....


William yang sangat tidak suka dengan tingkah Davina memukul meja makan dengan kuat membuat orang yang berada di ruangan meja makan kaget bukan main saat William mengebrak meja dengan sangat kuat.


"Apa kamu ingin mati hah!" Bentak William membuat Davina menundukan wajahnya dengan tangan yang menahan rasa mualnya.


"Kalo kamu sakit, sakit saja sendiri jangan menularkan virus kepada orang orang! dasar gadis kampung! apa kau tidak di ajarkan sopan santun sama orang tua mu! apa kau tidak tau itu artinya sopan santun?!"


"Maaf tuan" kata Davina pelan karena rasa mual di perutnya semakin menjolak.


"Apa kau..."


"Maaf tuan saya kebelakang dulu" kata Davina memotong ucapan William saat perutnya ingin mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi ia tahan, tanpa menunggu persetujuan William Davina langsung berlari ke arah dapur di mana semua mata yang ada di ruang makan menatap kepergiannya.


Huek...


Huek...


Huek...


Sampainya di wastafel kamar mandi dekat dapur Davina langsung memuntahkan semua isi perutnya, sampai badannya terasa sangat lemas. "Huek...huek..."

__ADS_1


"Sepertinya aku harus ke dokter" kata Davina menatap pantulan wajahnya di pantulan kaca yang ada di kamar mandi yang memperlihatkan wajahnya yang terlihat sangat pucat.


"Tidak apa apa sayang, tadi Ayah hanya banyak pikiran, jadi gak usah di dengerin ya" kata Davina saat mengingat William membentaknya dengan sangat kasar.


"Kamu bicara sama siapa?" kata seseorang dari belakang Davina, yang membuat Davina refleks membalikan badannya.


"T-tuan? A-anda sedang apa di sini?" tanya Davina terbata bata.


"Ini rumah ku, dan aku bebas melakukan apapun di rumah ini tanpa persetujuan dari dirimu!"


"M-maaf tuan" kata Davina yang tau ia tidak seharusnya bertanya seperti itu kepada William.


"Ada apa dengan perutmu?" tanya William saat kedua tangan Davina mengusap perutnya, Davina yang tau arah mata William langsung menjauhkan tangannya dari perutnya membuat William menatap aneh Davina.


"T-tidak tuan, S-saya baik baik saja" kata Davina tersenyum canggung.


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari diriku?"


"T-tidak tuan, saya tidak menyembunyikan apa apa dari anda" kata Davina bohong.


"T-tuan, S-saya harus menyelesaikan pekerjaan saya" kata Davina yang berusaha menghindar dari hadapan William tapi William dengan cepat mencengram bahunya dan menyandarkan di dinding kamar mandi.


"Cepat katakan yang kamu sembunyikan dari saya, karena saya tidak suka di bohongi!" kata William penuh penakanan.


Davina menelan salivanya dengan susah payah saat rasa takut mulai menjalari seluruh tubuhnya, saat mata William menatapnya dengan begitu tajam. "T-tidak ada yang saya sembunyikan tuan" kata Davina dengan suaranya gemetar.


"Benarkah?"


"I-iyah tuan"


William menatap mata Davina sampai mata tajamnya sekilas melihat benda tipis di kantung baju milik Davina tanpa Davina sadari karena perasaan takut yang sudah menguasai dirinya di tambah William semakin mendekatkan wajahnya ke arahnya membuat Davina bisa merasakan nafas William.


William yang sengaja melakukan itu perlahan tangannya mengambil benda yang ada di saku baju Davina tanpa Davina sadari karena rasa takut wanita itu yang begitu jelas tergambar di wajahnya.


Saat benda yang ada di saku baju Davina sudah berada di tangannya, William menjauhkan wajahnya dari wajah Davina dan bisa melihat rasa lega di wajah Davina.

__ADS_1


Davina yang baru saja bernafas lega saat William menjauhkan tubuhnya dari dirinya di buat kaget saat tespeknya sudah berada di tangan William membuat bola mata Davina membulat sempurna, "Sejak kapan tespek itu berada di tangan tuan William?"


"T-tuan itu bukan apa apa tuan" kata Davina berusaha mengambil tespek itu dari tangan William tapi dengan cepat William mengarahkan ke atas.


"Kamu hamil?" tanya William penuh penekanan dengan sorot mata kemarahan yang terpancar dari dua bola mata itu.


"T-tidak tuan" Kata Davina yang masih bisa berbohong saat William sudah tau kenyataanya dan masih berusaha mengambil tespek tersebut.


"JAWAB!" raung William memenuhi kamar mandi itu membuat Davina langsung diam dan meremas ujung bajunya. "Apa kamu hamil?!" Tanya William sekali lagi dengan menyodorkan tespek di tangannya yang menunjukkan dua garis merah ke arah Davina.


Sedangkan Davina hanya diam dan menundukkan kepalanya, William yang tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Davina, mencengkram kuat kedua bahu Davina dan menyenderkan tubuhnya dengan kasar di dinding kamar mandi membuat Davina meringis kesakitan. "APA KAU SUDAH BISU? APA KAU PURA PURA TULI!!"


"AKU TANYA SEKALI LAGI, APA KAU HAMIL?!" teriak William membuat tubuh Davina bergetar karena rasa takutnya.


"JAWAN BODOH!!!" teriak William sekali lagi tepat di depan wajah Davina.


"I-iyah tuan" jawab Davina lirih membuat tubuh William semakin menahan marah.


"Sejak kapan kamu hamil?!" tanya William dengan sorot mata yang masih memancarkan kemarahan.


"S-saya baru tau tadi pagi tuan" jawan Davina menundukan kepalanya.


William mengusap wajahnya kasar saat ia dengan ceroboh tidak meminta Davina untuk meminum pil penunda kehamilan, dan sekarang di dalam rahim Davina bibit bibitnya sudah menjadi janin membuat William mendesah frustasi.


"Ikut aku" kata William menarik tangan Davina dengan kasar keluar dari dalam kamar mandi.


"Tuan kita mau kemana?" tanya Davina tapi tidak di ubrib oleh William, William masih menarik Davina dengan paksa tidak memperdulikan Davina meringis kesakitan di pergelangan tangannya.


"Tuan lepas tuan, anda mau bawa saya kemana?" kata Davina yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan William.


"Tuan anda mau bawa saya kemana?" tanya Davina untuk kesekian kalinya membuat William menghentikan langkahnya dan menatap tajam Davina.


"Aku mau mengugurkan anak itu!!" kata William menekan kata mengugurkan dalam ucapannya.


Deg....

__ADS_1


__ADS_2