
Paula baru saja menjalani pemeriksaan, sebenarnya ia sempat takut saat Dokter ortopedi yang ia datangi dirumah sakit swasta terbesar ini justru memberinya rujukan ke Dokter Ahli Jantung, Namun Paula berusaha menepis keraguan itu, ia yakin nyeri didadanya adalah penyakit otot atau tulang biasa. Ia tidak mungkin bermasalah dengan organ vital itu karena selama ini Paula menjaga Asupan makanan dan rajin berolah raga.
"Bagaimana Dok?" Tanya Paula penasaran, ia kini berada di ruangan Dokter Emy dengan beberapa layar yang menampilkan hasil Usg jantungnya.
Dokter wanita paruh baya itu mencoba tersenyum, yang diartikan Paula jika memang benar tak ada yang terjadi padanya.
"Bagaimana kabar menantu anda Nyonya?" Dokter emy mencoba lebih santai dengan basa basi sambil menuliskan beberapa jenis obat diatas kertas resep, ia yang tak tahu apa yang sebenarnya menimpa Daffin dan Pelangi, hanya berfikir jika Pelangi sudah dibawa oleh Daffin ke Amerika.
Ia bisa langsung mengenali Paula Jaxton adalah mertua Pelangi melalui nama dan wajahnya yang sering muncul di media dengan segudang kegiatan sosialita dan sosialnya.
"Ah...Pelangi baik baik saja" jawab Paula, wanita itu nampak heran karena Dokter ahli jantung itu menanyakan Pelangi, apa memang menantunya itu sangat terkenal setelah menikahi Daffin, Cih...Paula mencibir didalam hati.
"Ah Syukurlah" Dokter emy tak bisa menyembunyikan rona bahagianya ia berharap pasiennya itu sembuh total.
Namun rona bahagia Dokter Emy tak bertahan lama, karena air mukanya kembali berubah serius, ia kini menatap Paula seraya menyodorkan selembar resep.
"Anda Mengalami penyempitan pembuluh darah Nyonya, saya akan melihat perkembangan anda selama mengkonsumsi obat penghancur gumpalan darah, jika tak ada perubahan yang signifikan kami tim Dokter harus melakukan operasi pemasangan ring pada Jantung anda" Terang Dokter laras dengar air muka serius.
Deg.
Spontan Paula memegang dadanya, peluh dingin kembali mengucur diseluruh tubuhnya dengan getaran yang cukup terasa hingga tas jinjing mahal yang dipangkunya terjatuh, bibir Paula kelu untuk menimpali diagnosa yang baru saja diberikan Dokter Emy.
"Anda baik baik saja Nyonya?" Dokter Emy berdiri dan mengitari meja kerjanya guna mengusap punggung Paula mencoba menenangkan pasiennya itu.
"Pe-penyempitan?" Paula mendongak dengan mata yang sudah basah, ia merasa seluruh dunia baru saja menimpanya.
Dokter Emy masih mencoba tersenyum," Penyakit Jantung koroner memang berat Nyonya, tapi jangan berputus asa, Nyonya hanya perlu menjaga kesehatan dan Pola makan seraya mengkonsumsi obat dengan teratur, ini bukan akhir dari segalanya banyak orang yang didiagnosa seperti ini tapi memiliki umur yang panjang"
"Tidak...Tidak...."Paula menggeleng kuat," Aku sangat menjaga pola makan dan kesehatanku Dokter mengapa bisa Jantungku bermasalah? " Suara Paula sedikit tinggi dan bergetar, Paula Terisak kuat dan Dokter Emy membiarkannya hingga 1 jam lamanya, barbagai macam racauan dikeluarkan Paula sampai ia menagis tergugu dengan air mata yang seakan mengering.
Sekotak tissue milik Dokter Emy sudah habiss tak bersisa.
Melihat Paula yang sudah tenang Dokter Emy kembali berbicara.
"Belajarlah dari Menantu anda Nyonya, wanita lemah yang sebenarnya sangat kuat" ujar Dokter Emy.
Paula mengernyitkan alis setelah menyusut ingusnya.
Pelangi?
Kenapa ia harus belajar dari menantu yang tidak diakuinya itu?
Dokter Emy tak bisa menyatukan kedua bibirnya saat ia menjelaskan mengenai Pelangi dan Paula sama sekali tidak tahu apapun.
__ADS_1
"Jadi Pelangi ? Astaga" Saat berjalan di koridor rumah sakit Paula tiba tiba lunglai hingga harus menumpu pada dinding Rumah sakit.
"Pelangi sakit?"
Sekelebat bayangan perbuatan kasarnya selama ini kepada menantunya itu tiba tiba berputar dalam ingatanya seperti sebuah potongan potongan peristiwa.
Gadis bertubuh ringkih yang selalu ia jahati nyatanya tengah bertaruh nyawa demi melahirkan sang buah hati yang merupakan cucu kandungnya yang tak pernah ia akui.
"Apakah ini karma?" gumamnya, mengingat kini ia juga memiliki masalah dengan organ yang sama.
.
.
.
"Kau mengirim orang memata mataiku?" Tanya Melvin pada Daffin yang masih terlihat gusar dihadapannya.
Sudah lebih dari satu bulan berlalu semenjak kepergian Pelangi Selama itu pula Daffin terlihat Uring uringan.
Daffin tak menjawab ia langsung meneguk vodka yang sudah disajikan Melvin demi menyambut kedatangannya.
Alkohol ditempat yang dingin seperti ini memang paling pas untuk dinikmati.
" Sebentar lagi putriku lahir, tapi aku bahkan sama sekali tidak tahu dimana keberadaan istriku , Jangankan mengirim mata mata aku bahkan bisa mengirim pembunuh bayaran jika terbukti kau menyembunyikannya" Tukas Daffin menyorot Melvin dengan tatapan membunuh, ia benar benar putus asa tak tahu harus mencari Pelangi kemana lagi.
Hari ini Weekend Daffin dan Jhon memutuskan untuk mengunjungi Melvin di Villanya
"Jika aku tahupun tak akan kuberitahu, biarkan Pelangi bahagia dengan pilihannya sendiri" Sebenarnya Melvin juga tengah mencari informasi di Malaysia dan Singapura, namun nihil beberapa Restoran mewah yang dimiliki Eshaq Hakan nyatanya sudah berpindah tangan ke orang lain. Entah kemana Eshaq membawa Pelangi.
"Ia harus menjalani Transplantasi jika Tidak ...." Daffin tak bisa melanjutkan perkataannya ia tak bisa membayangkan sesuatu yang buruk menimpa Pelangi.
"Huh...." Melvin memandang Jauh ke depan, Hamparan kebun teh nyatanya tak bisa menyejukkan hati dan pandangannya, ia mulai menyesali keputusannya membantu Pelangi meninggalkan Indonesia, ia fikir Eshaq tetap akan melibatnya nyatanya tidak.
Mevin benar benar merasa dikhianati.
Melvin lalu menatap wajah Kusam Sepupunya yang mulai dihiasi bulu bulu halus, dan beberapa lebam membiru disana, Kata Jhon ini kali kedua Daffin mendapatkan luka itu dari Satria Karena Daffin mencoba menanyakan keberadaan Pelangi pada Pria yang mengasuh Istrinya sejak kecil itu.
"Aku benar benar brengsek heh" Daffin tertawa hambar, Bayangan kejadian 4 tahun lalu benar benar menggerogoti jiwanya secara perlahan, hanya pencarian kepada Pelangi yang bisa membuatnya tetap hidup sampai sekarang.
"Jangan terlalu menghukum dirimu sendiri, Pelangi akan sedih jika melihatmu seperti ini".
Daffin bergeming dengan tatapan kosongnya, begitupun dengan Melvin, hingga akhirnya suara ponsel Jhon mengalihkan Atensi keduanya.
__ADS_1
"Halo.....Baik Baik saya akan menyampaikanya" Jhon terlihat panik, ia lalu menatap Daffin dan Melvin secara bergantian.
"Tuan, Nyonya Paula jatuh dari kamar mandi, kondisinya kritis ia sekarang berada dirumah sakit"
"Kita akan ke Jakarta Sekarang" Bukan Daffin yang menjawab melainkan Melvin, sementara Daffin terlihat bingung harus berekspresi seperti apa.
Ia membenci Ibu yang telah menjebaknya dan membuat Pelangi pergi dari kehidupannya, Daffin tetiba teringat minggu lalu Paula menelponnya dan mengatakan ia sedang sakit dan membutuhkan Daffin disisinya, namun putra semata wayangnya itu mengabaikannya.
"Daffin!! Ayo!" Sentak Melvin yang mengembalikan kesadaran Daffin.
.
.
.
Sementara itu disebuah pedesaan di Negara Turki dengan hamparan pegunungan seorang wanita hamil nampak menikmati hembusan Angin yang menyapu wajah cantiknya, selama ini ia berfikir dirinya adalah Anak yang tak pernah diinginkan oleh kedua orang tuanya sehingga ditelantarkan dipanti Asuhan, nyatanya ia adalah seorang Putri yang sangat dinantikan kehadirannya.
Yah ia memiliki Ibu dan Ayah yang menyayanginya, meski ia tak bisa melihat ibunya kini karena sudah pergi ke surga namun Pelangi sudah cukup Bahagia mengetahui jika didunia ini nyatanya masih ada manusia yang memiliki darah yang sama dengannya.
Bukan hanya Ayah, kini ia punya paman , bibi dan bahkan beberapa sepupu yang sangat menyayanginya, walau Pelangi harus menggunakan Aplikasi penerjemah untuk berbincang dengan Mereka.
Dunia benar benar lucu bagi Pelangi, nyatanya didalam tubuhnya Pelangi sama sekali tak memiliki Darah Indonesia.
"Ayleen.....Sayang" Seorang Pria paruh baya merangkul pundak Pelangi.
"Ayah...." Pelangi selalu ingin tersenyum saat memandang wajah ayah kandungnya Eshaq Hakan.
"Besok kita akan ke Istanbul nak, Ayah sudah mengurus semua persalinan dan persiapan operasi transplantasi Jantungmu"
"Heem...."
Dua orang yang saling menyayangi itu menikmati pemandangan pedesaan dari atas balkon rumah peninggalan nenek Pelangi dari pihak Ayahnya itu.
"Apa kau masih merindukannya?" Tanya Eshaq, ia sebenarnya sangat membenci Daffin Jaxton, namun Pelangi tak mengijinkan Ayahnya membenci suaminya, bagi Pelangi Daffin tetaplah suami dan ayah dari anaknya, ia juga Percaya Daffin tak mungkin menghianatinya.
"Ia tak pernah hilang dari ingatanku Ayah, hanya saja kami tak bisa bersama, ia akan kehilangan banyak hal jika memilihku" Ucap Pelangi sembari tersenyum hangat.
Pelangi memutuskan untuk tidak menceritakan mengenai peristiwa pelecehan yang dialaminya, Melvin dan Satriapun sepakat akan hal itu, ia tak ingin Ayahnya membenci Daffin hingga keakar akarnya.
"Apa kau ingin kembali?"
"Tidak" Pelangi menggeleng Pelan, dulu ia berfikir tak akan bertahan setelah persalinannya, ia fikir Melvin yang akan menemani pelariannya sehingga pria itu bisa menyerahkan bayinya kepada Daffin setelah lahir, Pelangi tak pernah mau menggunakan Uang Melvin untuk memperpanjang hidupnya, tapi kini ia memiliki Ayah dan keluarga yang menemaninya Kelak, jangankan untuk kembali Pelangi bahkan tak lagi berfikir untuk menyerahkan Anaknya, ia akan hidup bahagia di negara Asing ini.
__ADS_1