
Hancur!
Tubuh Daffin rasanya ingin luruh saja, Cleo dan Ibunya benar benar menjebaknya hingga kedasar jurang terdalam.
"Tidak Pelangi jangan percaya apapun kumohon sayangku" Daffin bergumam sendiri didalam mobil sport yang ia kemudikan sendiri dengan kecepatan tinggi.
Risman sudah menawarkan diri untuk mengantarkan pria itu ke Apartemennya guna mencari keberadaan Pelangi, akan tetapi Daffin menolak dan memutuskan pergi seorang diri, Lagi pula nyeri dikepalanya perlahan mulai mereda.
"Pelangi sayangq" Racau Daffin lalu memukul stirnya kuat, entah ini untuk yang keberapa kalinya, seharusnya sudah sejak dulu ia rajin mengungkapkan rasa cintanya kepada Sang istri namun Daffin terlalu gengsi, padahal tanpa mengetahui Pelangi adalah gadis yang telah ia rusak, Daffin memang tetap tak bisa hidup tanpanya.
"PELANGI ARGHH" Daffin benar benar terisak , sekuat hati ia menahan airmata hendak keluar namun nihil netranya mulai terlihat sembap.
Seperti tadi Daffin tidak menghiraukan sapaan penjaga keamanan, ia melenggang masuk kedalam lift menuju unitnya, namun lagi lagi ia menelan kekecewaan ia tak menemukan tanda tanda keberadaan Pelangi disana, dari dalam Apartemen Daffin melakukan Panggilan kepada Jhon, Pelangi dan Melvin namun tak seorang pun yang menjawab panggilannya bahkan Pelangi menonaktifkan ponselnya.
"Kemana aku harus mencarimu...maafkan aku Pelangi..maafkan Aku... Arghhh bodoh!!!"
Daffin lalu keluar dari apartemennya dan masuk kedalam Apartemen Melvin, meski kecil kemungkinan namun siapa tau saja Pelangi teŕnyata disembunyikan Melvin didalam sana.
"Pelangi...." Panggil Daffin pelan, ia memeriksa satu persatu ruangan didalam kondominium mewah tersebut namun lagi lagi nihil, wanita itu tak ada disana.
Bahkan kamar Melvin yang dikunci pun tak luput dari penggeledahan Daffin ia membuka dengan paksa setelah beberapa kali hantaman sepatu fantofel Daffin.
"Kumohon Pelangi jangan buat aku gila" Daffin terduduk pinggir ranjang dengan kedua siku bertumpu dipaha seraya meremat kuat rambut pendeknya yang tidak lagi rapi.
Daffin mendongak dan lagi lagi mencegah air mata yang hendak luruh, hatinya benar benar teriris sembilu membayangkan wajah ketakutan Pelangi diawal pertemuan mereka, "Mengapa kau tidak mencoba lari dariku?" Gumamnya pelan, pandangan sendu Pelangi yang senantiasa menyimpan kebencian masih begitu jelas di ingatan Daffin.
Wanita itu benar benar menderita, pikir Daffin dan ia dengan bangsatnya menggunakan Pelangi sebagai alat untuk menyembuhkan traumanya kepada Wanita tanpa berfikir ia justru semakin mencabik cabik luka yang tak mungkin pernah mengering itu.
"Mengapa kau begitu bodoh Daffin Jaxton" Daffin mulai menghantam kepalanya dengan kepalang tangan secara bertubi tubi, lalu setelah puas ia memghempaskan tubuhnya untuk berbaring diatas ranjang king size itu dengan kedua kaki masih menjuntai kebawah.
"Jika Aku mengatakan Tuanlah yang pertama bagiku apakah Tuan akan percaya?"
"Ciuman, hubungan suami istri, Tuan adalah pengalaman pertamaku....."
"Aku percaya Pelangi maafkan suami bodoh mu ini, Akulah yang pertama merusakmu aku orangnya" Daffin masih ingat kata kata Pelangi sebelum akhirnya mereka masuk kedalam gedung, bagaimana mungkin Daffin tak kasihan dengan tatapan Pelangi saat memberitahukan hal itu kepadanya.
__ADS_1
Daffin menoleh dan mendapati sesuatu yang tidak asing diatas Nakas Melvin, sebuah Ponsel dan dompet kecil, ia pernah melihat benda tersebut sebelumnya.
Daffin bangkit dan duduk lebih dekat dengan nakas Melvin.
Ponsel Android itu bahkan masih dalam keadaan on, Yah Melvin selalu menjaga dayanya agar bisa tetap melihat foto Pelangi yang trrsenyum sangat ceria didalam sana.
Daffin mengusap layar yang sedikit kusam itu dengan berderai air mata, ia pernah bertanya kepada dirinya sendiri mengapa Pelangi tak pernah lagi tersenyum hangat seperti ini? Dan ternyata jawaban itu semua adalah dirinya.
Ia tak bisa membayangkan Istrinya itu harus dipaksa berdamai dengan trauma masa lalunya.
Lama Daffin hanya menatap ponsel tersebut, kini ia sudah duduk di depan meja Bar mini milik Melvin, sebotol wine mememaninya sambil bernostalgia dengan kenangan buruk Pelangi diawal pernikahanya, ia ingat saat wanita itu berteriak histeris didalam mobil saat Ia hendak mengoleskan salep, atau pada saat Ia menyiksa Pelangi dikamar mandi dengan sebuah hubungan badan yang kasar, atau tatapan ketakutan Pelangi setiap ia mendekat kepada Wanita itu, kini semua telah terjawab.
"Ah....Pelangi...Istriku hikzzz" Daffin yang sudah setengah mabuk menjatuhkan wajahnya diatas beja bar dengan satu tangannya masih memegang ponsel Pelangi.
Tak lama kemudian pintu apartemen Melvin terbuka, pria yang merupakan pemilik unit itu menatap Daffin yang seakan enggan untuk menoleh kepadanya.
Mata Daffin masih terbuka dan menatap lekat potret Pelangi saat Melvin akhirnya menjatuhkan bokongnya di kursi Samping Daffin.
Sebelumnya Melvin terlebih dahulu mengambil sekaleng beer dan meneguknya hingga setengah. Matanya terpejam tatkala merasakan sensasi alkohol itu seakan menjalar hingga keubun ubunnya.
Melvin menghela nafas panjang lalu kembali meneguk beernya hingga tandas, ia yakin Daffin sudah memgetahui segalanya dari risman, Melvinpun begitu terkejut saat mengetahui kenyataan jika Risman dan Alexander sebenarnya sudah tahu mengenai peristiwa 4 tahun yang lalu, bahkan mereka terlebih dahulu menemukan Pelangi.
"Ia terlalu mencintaimu dan tak ingin membuatmu terluka, Pelangi tahu kau akan seperti ini jika mengetahui segalanya, maka dari itu ia memutuskan berdamai dengan masa lalunya yang menyakitkan" Melvin berujar sembari meremas kaleng kosong ditangannya hingga penyok.
"Jaga Tuan Daffin kak"
Melvin teringat saat terakhir ia dan wanita itu berpisah dibandara, ia memeluk erat Pelangi seakan enggan melepaskannya namun hanya satu nama itu yang terlintas dikepala wanita hamil itu.
"Sampai akhirpun ia tetap mencintaimu, meski sampai akhir kau dan Ibumu hanya bisa memberinya luka" Lanjut Melvin.
Daffin mengangkat wajahnya, ia sedikit terkejut kala menatap Mata Melvin yang terlihat sembap, tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya melainkan keberadaan Pelangi sekarang.
"Dimana Istriku?"Tanya Daffin, lewat kata kata Pria itu barusan, Daffin bisa menyimpulkan jika Melvin tahu dimana Pelangi sekarang.
"Jangan mencarinya lagi" Tukas Daffin sembari menatap kosong kedepan.
__ADS_1
"MELVIN!!!!" sentak Daffin.
"Apa tidak cukup kau menyiksaku dengan menyembunyukan semua kebenaran ini? , sampai akhir kau ingin melihatku menjadi orang jahat? Kembalikan Istriku! Katakan dimana dia!!" Dengan langkah sedikit terhuyung dan tatapan sayunya Daffin bangkit dan meraih kerah kemeja Melvin agar Pria itu berdiri dan menghadapinya.
"Kumohon katakan dimana Istriku! Dimana Pelangiku! Dimana dia Melvin!!!? ".
Tatapan Melvin terlihat datar, ia tak takut dengan Daffin, apa yang bisa dilakukan dengan pria setengah mabuk seperti ini?
"Kenapa? Kau ingin minta maaf padanya? Dia sudah memaafkanmu jauh sebelum kau memintanya, jadi lepaskan ia sekarang"
"Tidak" Daffin menggeleng dengan air mata yang terus bercucuran, ia menunduk sejenak lalu kembali menatap mata Melvin dengan tangan yang masih mencengkram sepupunya itu.
"Jika bisa aku ingin menyerahkan diriku padanya, tak apa jika aku harus mendekam dipenjara, bahkan jika ia menginginkan nyawakupun aku akan memberikannya" lanjut Daffin sendu.
"Bagaimana mungkin kau berfikir Pelangi akan setega itu pada pria yang dicintainya"
"Kau tahu kami saling mencintai, lantas mengapa tak mengatakan dimana ia sekarang, Aku...aku sudah punya gambaran masa depan dengannya, kami akan hidup bahagia setelah operasinya selesai, aku sudah menyiapkan semuanya Melvin, Donor, Rumah Sakit terbaik,tempat tinggal aku sudah menyiapkan semuanya Vin"
"Jika kau mencintainya lepaskan Pelangi, wanita itu tak sanggup berada disampingmu, ia terlalu lemah menghadapi orang orang disekitarmu, hatinya tidak sekuat baja Daffin"
"Maka aku akan meninggalkan orang orang disekitarku demi dirinya, tak pedulu jika itu ibuku sendiri!" Tukas Daffin.
"Pelangi tidak akan membiarkan kau melakukan itu, Lagi pula sudah terlambat, ia sudah tak dinegara ini lagi"
Deg...
"Melvin apa maksudmu? Kemana Pelangi?"
"Akupun tak tahu, ia hanya mengatakan akan pergi Jauh"
Daffin mencoba mencari jejak kebohongan dimata Melvin sayangnya ia tak menemukannya. Yah Melvin hanya mengantar Pelangi ke Bandara, ia juga tak tahu kemana Ayah kandung Pelangi membawa putrinya, karena Pria itu tak ingin siapapun tahu.
Eshaq juga mencegah Melvin mencari tahu lebih dalam lagi, demi kebaikan sang putri.
Perlahan Daffin melepas cengkramannya dari kerah baju Melvin.
__ADS_1
"Aku akan mencarinya meski harus kelubang semut sekalipun" Tegas Daffin.