Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 50


__ADS_3

Melvin menyerah, ia melihat kesungguhan dalam sorot mata Daffin, pria itu tidak main main dengan apa yang ia ucapkan.Terlepas dari Daffin adalah orang yang sudah melukai Pelangi 4 tahun lalu.


Haruskan ia mulai percaya dan menunggu waktu berakhir untuk jadi malaikat pelindung bagi Pelangi?


.


.


.


tok tok....


Pelangi membuka pintu kamarnya dan mendapati suaminya sudah berdiri didepan dengan kemeja putih yang dua kancing atasnya dibuka dan sebuah jas hitam yang tersampir di lengan kanannya.


Daffin memang sangat jarang menggunakan Dasi kecuali ada rapat khusus atau pertemuan dengan kolega bisnisnya.


"Aku akan berangkat, kemungkinan dua hari ini aku tidak pulang karena harus ke Singapura" Jelas Daffin, ia merasa aneh harus menjelaskan jadwalnya kepada seseorang, padahal biasanya ia langsung berangkat bahkan paula sendiri tak pernah ia beritahu, tapi entah mengapa ia merasa punya kewajiban memberitahu pada Pelangi mungkin karena wanita itu adalah istri yang senantiasa menunggu kepulanganya.


Rasanya Pelangi ingin bersorak namun hanya anggukan lemah yang ia lakukan.

__ADS_1


"Jaga kesehatanmu, kata Melvin kau wanita yang lemah, aku tidak ingin kau sakit karena untuk mengandung Benihku kau membutuhkan tubuh yang sehat"


Pelangi yang menunduk hanya bisa menelan saliva dengan kasar.


"Ini" Lagi lagi Daffin memberikan sebuah kartu, namun kali ini adalah kartu kredit tanpa batas berwarna hitam.


"Tuan aku tidak membutuhkan ini Kartu yang kemarin sudah lebih dari cukup" Ujar Pelangi menolak, ia sempat tercengang saat mengecek isi kartu Debit yang khusus diberikan Daffin yang katanya untuk sebagai belanja bulanan.


"Yang kemarin untuk keperluan rumah tangga sedang yang ini khusus untuk kebutuhanmu sebagai istriku"


Pelangi menatap lekat kartu hitam yang menjadi dambaan setiap wanita yang pernah tidur dengan Daffin namun pria itu tak pernah memberikannya, Pelangi adalah wanita pertama yang ia sodorkan.


"Maaf, aku tak bisa menerimanya Tuan, aku tidak membutuhkan apapun untuk diriku sendiri" ucap Pelangi.


Daffin menghela nafas ia kembali memasukkan Kartu tersebut kedalam Saku celana bahan yang ia kenakan.


Lalu sedikit melangkah maju dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Pelangi selama beberapa Detik.


" Sebenarnya aku membenci penolakan tapi Aku tidak punya waktu membujukmu, kita bicara lagi setelah kepulanganku dari singapura"

__ADS_1


Daffin berlalu dari hadapan Pelangi karena ia yakin Melvin sudah menunggunya di basement.


.


.


.


Beberapa jam setelah kepergian Daffin,Pelangi kedatangan tamu, seorang wanita paruh baya bertubuh Gempal yang sudah diberi akses masuk melewati resepsionis.


"Perkenalkan saya Bi Ijah nyonya" Ucap wanita itu memperkenalkan diri sesaat setelah Pelangi membuka pintu.


Wanita itu memang sudah tidak asing dengan unit Daffin karena sebelum pelangi tinggal disana ia memang ditugaskan Daffin untuk membersihkan Apartemen 2 kali seminggu. Kini Daffin memintanya kembali untuk meringankan pekerjaan istrinya.


Pelangi yang sempat kebingungan akhirnya paham setelah Bi Ijah menjabarkan satu persatu tujuannya datang ke Apartemen tersebut, Tentu Pelangi menerima keberadaan wanita itu toh ia tidak punya wewenang untuk memutuskan apapun disini.


"Saya senang akhirnya Tuan Daffin menikah, dan wanita pilihannya benar benar sangat cantik" Puji Bi ijah, namun tidak bisa membuat Pelangi bangga akan dirinya.


"Terima kasih Bi, semoga kedepannya kita bisa saling membantu" ucap Pelangi penuh kehangatan.

__ADS_1


__ADS_2