
Jhon masih saja mendesah diruang kerjanya, Dia adalah ahli keamanan yang bertugas menjaga semua sistem komputer pada Hotel Jaxton.
Beberapa Jam yang lalu ia berhasil menemukan sebuah nama yang berada dibalik akun Bank milik Hotel Jaxton, namun ia bingung harus melaporkannya pada siapa? Daffin meminta hasil segera sementara Melvin menginginkan agar semua yang berhubungan dengan Pelangi dan pantinya harus melalui dirinya.
"Arghhhh" Jhon mengacak rambutnya frustasi, setelah berdiam diri cukup lama akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Daffin.
"Maaf Tuan Melvin" gumam Jhon seraya mengetik sebuah pesan untuk Daffin.
.
.
.
"Bagaimana Tuan?" tanya Rena setelah membantu Pelangi menggunakan sebuah Dress berwarna Mustard yang dirancang khusus untuk orang hamil, sementara Ani bari saja selesai mengaplikasikan sebuah jepit rambut di kepala Pelangi.
"Nyonya Pelangi memang sangat cantik, bahkan tanpa di dandani pun ia sudah sangat mempesona" puji Bi ijah karena melihat Daffin yang hanya menatap Pelangi dengan penuh kekaguman, sementara Yang ditatap memancarkan rona memerah dipipi akibat pujian Bi Ijah dan sorot mata Sang suami.
"Ren....apa warnanya tidak terlalu terang?" Pelangi berbalik dan mematut tubuhnya di cermin.
"Tidak Nyonya, warna ini sangat pas untuk kulit anda yang putih" ucap Rena.
Daffin menggandeng istrinya Menuju sebuah mobil mewah yang hanya memiliki 2 pintu disetiap sisinya, itu artinya kali ini Daffin akan pergi tanpa seorang supir karena ia akan menikmati perjalan hanya berdua bersama Pelangi.
"Kau gugup?" Daffin mengamati Pelangi yang terus memainkan jemarinya didepan perut buncitnya. Ia meraih satu tangan Pelangi dan saling menautkan jemari mereka, sementara tangan satunya masih memegang kemudi.
"Pelangi takut membuat Tuan Malu"
"Aku akan malu jika kau memanggilku Tuan dihadapan orang banyak nanti, mereka akan berfikir aku suami yang kejam dan menganggap istriki budak, padahal sudah lama aku ingin kau merubah panggilan itu ck..."Daffin pura pura berdecak kesal namun tetap mengecup punggung tangan istrinya.
"Lalu aku harus memanggil apa?"
"Sayang!"
"Sa-sayang?"
"Hemmmm, kau bisa mulai sekarang"
"Apanya?"
"Panggilannya," kali ini Daffin sedikit menyamping dan memegang kedua tangan Pelangi, karena lampu lalu lintas tengah merah Daffin memiliki waktu untuk menggoda Pelangi didalam Mobil.
__ADS_1
"Sa-Say...." Belum sempat Pelangi menyelesaikan panggilannya tiba tiba bibirnya dibungkam oleh sesuatu yang sejenis. Bibir Daffin menempel sempurna dan menuntut untuk masuk lebih dalam lagi.
Mungkin melakukan hal mesum didalam mobil bukan yang pertama kali bagi Daffin, tapi entah melakukannya dengan Pelangi yang kini nampak merona merah adalah seauatu yang sangat luar biasa bagi Daffin.
" Ah....ah.....ah...." Hampir 5 menit mereka melakukannya hingga Nafas Pelangi terdengar terputus putus.
"Apa yang Tu....ah bukan say---yang lakukan" Pelangi membuang muka kesamping, wajahnya benar benar merah, ini kali pertama ia memiliki panggilan seintim itu dengan seorang lawan jenis.
"Kau semakin menggemaskan, tenang saja tak ada yang akan melihatnya" Daffin mengulum senyumannya, entah mengapa Daffin selalu merasa Pelangi tak pèrnah mahir melakukan ciuaman.
"Kau ini seperti gadis saja yang masih malu malu padahal perut sudah sebuncit ini" Goda Daffin seraya mengusap perut Istrinya itu. Biasanya ia kesal jika harus terjebak macet tapi tidak kali ini, selama Pelangi bersamanya rasanya semua baik baik saja.
"Apa saja yang kau lakukan selama pacaran dulu hemm? Masa iya langsung buat bayi" Daffin terkekeh, sepertinya ia tidak sadar jika lelucon yang barusan ia lontarkan menyakiti hati pelangi.
Tentu ia tidak melihat mata Pelangi yang berkaca kaca karena Daffin kembali fokus ke kemudi saat tersadar beberapa kendaraan dibelakangnya mulai membunyikan klakson karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau.
Tangan Daffin masih menggenggam erat tangan istrinya dan sesekali mencium punggung jemarinya, sepanjang perjalanan ia banyak bercerita mengenai proses pembangunan Jaxton Tower yang mulai sejak lima tahun sebelum sang Ayah meninggal Dunia, hingga menjalar kecerita masa kecilnya bersama Ayahnya yang hampir tidak ada meninggalkan kesan yang Baik. Pelangi bisa menyimpulkan jika Daffin benar benar membenci ayahnya yang tak bisa lepas dari jerat cinta pertamanya sehingga keluarga mereka harus terkena imbasnya.
"Aku penasaran mengapa ayahku sangat getol ingin menjodohkan kita saat itu" Daffin menatap netra Pelangi yang masih berembun lalu mengusap pipi wanita hamil itu dan kembali menatap jalanan, "Sepertinya ayahku tahu jika aku memang membutuhkan seorang wanita berhati lembut untuk mengimbangi sikapku yang kasar dan suka semena mena"lanjutnya lagi.
"Aku harap uncle Alex tidak salah pilih" ucap Pelangi sendu.
Ia menoleh lalu mengusap wajah Pelangi dan mengecup keningnya sangat lama. Entah mengapa setiap melihat wajah Pelangi yang nampak muram ia merasa sangat bersalah meski sebenarnya Daffin tak tahu jika ada beberapa kata katanya yang baru saja menyakiti perasaan sang istri.
Daffin berfikir Pelangi lagi lagi dilanda rasa rendah diri karena menemaninya diacara resmi seperti ini.
"Apakah Tuan akan percaya?"
Kata kata Pelangi berhasil menghentikan langkah Daffin yang berjalan disampingnya, pria itu menatap lekat wajah Pelangi sambil memgerutkan alis " Tuan?" Gumamnya lalu menghela nafas panjang.
"Pelangi kita sudah sepakatkan untuk panggilan hemmm"
"Jika Aku mengatakan Tuanlah yang pertama bagiku apakah Tuan akan percaya?" Raut wajah Pelangi terlihat begitu serius, ia seakan tak peduli dengan protes Daffin mengenai panggilannya.
"Pelangi....."
"Ciuman, hubungan suami istri, Tuan adalah pengalaman pertamaku....."ucap Pelangi dengan nafas tercekat dan seakan menahan tangis. padahal biasanya ia begitu sabar dituduh apapun ia tak pernah membela diri.
Kerutan di dahi Daffin semakin menjadi ia bingung dengan pengakuan Pelangi, bagaimana bisa? Padahal wanita itu pernah hamil sebelumnya. Namun setelah sepersekian detik Daffin menyadari mungkin saja itu adalah hormon kehamilan yang membuat Pelangi berbicara seperti itu. ia segera membawa tubuh Pelangi kedalam dekapannya sambil berbisik.
"Maaf jika ada perkataanku yang menyinggungmu"
__ADS_1
Cekrek....
Cekrek...
Blitz......
beberapa kamera mengabdikan moment tersebut, sontak Daffin dan Pelangi mengurai pelukannya.
Tak ada hardikan yang keluar dari mulut Daffin karena ia memang sengaja mengundang wartawan bisnis untuk peresmian Gedung sekaligus mengenalkan Pelangi secara resmi.
"Selamat sore Tuan Daffin Jaxton" Sapa seseorang dengan sebuah ID Card yang menggantung didepan dadanya.
" Sore !" jawab Daffin seranya merengkuh pinggang sang istri dengan posesif.
Dua orang wartawan menyusul kemudian, sebenarnya ada acara wawancara resmi nanti setelah peresmian, namun Daffin tak keberatan jika melayani dua tiga pertanyaan.
"Apa benar ini istri Tuan dan sekarang tengah menunggu kelahiran anak pertama?" tanya wartawan tersebut.
"Betul, dia istri saya namanya Pelangi Jaxton" Daffin semakin mengeratkan pelukannya dan menoleh menatap pelangi penuh kasih.
Ceklek
Ceklek
Sekali lagi runtutan suara kamera dan silau nyala blitz menghiasi wajah Pelangi hingga beberapa kali ia melindungi matanya.
Daffin yang melihat posisi Pelangi sedikit tidak nyaman lekas membawa istrinya masuk kedalam Lift yang akan membawanya ke lobby.
"Lanjutkan wawancara setelah peresmian" Tukas Daffin sebelum berlalu pergi.
Sementara tak jauh dari sana sepasang mata melihat kemesraan Daffin dan Pelangi penuh amarah, ia adalah Cleopatra.
"Apa itu istrinya nona?" tanya seorang wanita dengan Id Card wartawan, ia berdiri disamping Cleo seraya menatap punggung Pelangi penuh kagum, ia sempat melihat wajah Pelangi tadi.
'Pantas saja Daffin Jaxton lebih memilih wanita itu ketimbang Cleo'batinnya.
"Kamu ingatkan apa saja yang harus ditanyakan nanti?" ujar Cleo.
"Ingat Nona, tapi jangan lupa transferannya"
"Asal kau bekerja dengan baik aku akan menambah bonusmu" Cleo tersenyum smirk.
__ADS_1