Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 39


__ADS_3

Setelah Melihat Dokter Ayu yang berdiri dibelakang Melvin, Pelangi menghambur kedalam pelukan Ayu, ia merasa seperti kembali kemasa lalunya bertemu dengan orang orang yang pernah menjadi saksi betapa cerianya dirinya dulu.


Melvin membiarkan dua orang itu bercengkrama seraya melepas rindu di sebuah bangku taman tua dibawah pohon palem, meski terbesit sedikit rasa penasaran bagaimana kedua orang itu bisa saling mengenal namun Melvin sama sekali tak ada niat mendekat dan mendengar pembicaraan mereka.


Ayu terlihat sangat shock tatkala mengetahui kabar jika Dokter Isyana ternyata sudah meninggal, bagaimanapun Dokter baik hati itu pernah menjadi pembimbingnya.


Pelangi juga tak henti hentinya terisak saat mengetahui jika Paman satria ternyata masih mencari keberadaannya, Pria itu nyatanya tak pernah melupakannya meski ia sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya.


Karena merasa sudah membiarkan dua wanita berbincang terlalu lama akhirnya Melvin ikut nimbrung.


Sadar Melvin mendekatinya Pelangi buru buru menghapus Air matanya.


Kini Melvin berdiri tepat dibelakang Pelangi, sementara Ayu masih berusaha mencuri pandang kearah Melvin.


"Kalian kenalan lama?"


"Benar kak, Dokter Ayu adalah Teman Dokter Isyana ibuku" Jawab Pelangi dengan senyuman tipis, ia juga memberitahu jika Ayu jika Dokter Isyana mengangkat dirinya sebagai anak.


"Ohhh...."Melvin hanya mengoho seraya mengamati wajah Pelangi yang nampak bahagia, tidak sadar ia mengulas sebuah senyuman diwajah tampannya.


"Kak Melvin masih mengingatku?" Ayu akhirnya angkat bicara.


"heem, Ayu !" Jawab Melvin singkat lalu kembali menatap Pelangi, Melvin adalah orang dengan ingatan yang sangat kuat, jangankan Ayu sebagai ketua osis bahkan hampir semua adik kelas dan kakak kelasnya ia ingat namanya.


"Lalu Pelangi? Bagaimana ceritanya kau bisa berakhir bekerja di rumah keluaga Jaxton sebagai pelayan? Tanya Ayu, Pelangi memang menceritakan kepada Ayu jika dirinya adalah Pelayan di mansion ini sesuai dengan instruksi Paula.


"Pelayan?" Alis Melvin mengkerut tidak terima.


"Iya Dokter, A-Awalnya Pe-langi adalah Pelayan di A-apartemen Tu-tuan Muda Daffin" Jawab Pelangi terbata bata dengan manik mata yang terus menatap Melvin, berharap Pria itu akan membantunya.


"Oh...lalu kamu dipindahkan ke Mansion ini?" tatapan Ayu penuh selidik, ia mulai menerka ada sesuatu yang tidak beres menimpa Pelangi sehingga ia harus dipindahkan, "Apa kak Daffin menyakitimu?" Menyakiti yang dimaksud Ayu tentu saja berhubungan dengan hasrat, ia tahu betul siapa Daffin Jaxton, Casanova yang sangat terkenal, dan bukan tidak mungkin Pelangi menjadi korbannya mengingat gadis itu memiliki paras yang sangat cantik.


"Tid-ak do-dokter, bukan begitu,"


"Dia bukan Pelayan!" Tukas Melvin tiba tiba.

__ADS_1


"Kak...." Tatapan Pelangi memelas, sementara Ayu dibuat semakin bingung.


"Ada Apa sebenarnya ini?" Ayu menatap Pelangi dan Melvin bergantian.


"Ada sesuatu yang tidak bisa Pelangi ceritakan Dokter...."


"Pelangi adalah istri Daffin" Timpal melvin, yang seketika membuat Pelangi dan Ayu terperangah. akhirnya dengan bahasa lugas, singkat padat dan jelas Melvin membuat Ayu bisa mengerti posisi Pelangi di mansion ini, ia menceritakan bagaimana Pelangi harus terjebak pernikahan demi bisa mengembalikan saham 20 persen yang diwariskan kepadanya.


"Kau harus menemui pak Satria, dia harus tahu kondisi mu sekarang ini"


Kata kata terakhir Ayu kini terngiang terus didalam benak Pelangi, bagaimana tidak pelangi memang sangat merindukan sosok Satria, Bahkan saat terpuruk sekalipun ia sangat ingin berada dalam dekapan Satria dibanding Dokter Isyana kala itu, namun ia tak boleh egois, bagaimanapun Pria setengah baya itu sudah memiliki keluarga sendiri dan lebih parahnya Soraya istri sang paman tidak pernah bisa menerima keberadaannya.


Pelangi kadang memohon untuk diijinkan bertemu Satria sekali saja sebelum meninggalkan dunia ini selama lamanya, cukup baginya jika ia sudah bisa melihat pria itu dari kejauhan berbahagia bersama keluarga kecilnya.


.


.


.


Wanita bayaran setengah bugil itu mencebik kesal lalu keluar dari kamar.


Daffin memegang dadanya, entah mengapa ada rasa bersalah yang menggelayuti hatinya sejak ia memaksa Untuk tidur dengan Pelangi hari itu.


Daffin memakai semua pakaiannya hingga lengkap lalu duduk di sebuah sofa sambil mengutak atik ponselnya hingga terhubung pada sebuah kontak yang sudah beberapa hari ini ia perintahkan untuk mencari keberadaan Pelangi.


"Bagaimana?" Tanya Daffin singkat, jika kali ini tidak berhasil mau tidak mau ia akan mengancam Paula agar mengembalikan Pelangi.


"Pergerakan Nyonya Paula seperti biasa Tuan, tidak ada yang mencurigakan"


"Sial!!" Umpat Daffin kesal, ia memang memerintahkan suruhannya untuk terus mengikuti aktifitas ibunya.


"Tapi Tuan...saya meretas cctv di Mansion Nyonya Paula dan menemukan beberapa gambar yang sangat mirip dengan orang yang anda cari"


"Ya sudah kirimkan segera" Tukas Daffin lalu mematikan panggilannya, tak lama berselang beberapa video pendek dan foto yang sudah di zoom beberapa kali masuk ke ponselnya.

__ADS_1


Senyumnya mengembang tatkala menemukan wanita yang selama ini ia cari ternyata sangat dekat dengannya, padahal ia sudah bolak balik ke Mansion untuk menanyakan keberadaan pelangi kepada ibunya.


Daffin seketika menyeringai mengingat betapa licik sang ibu.


"Kau akan kembali seperti dulu lagi? "


Melvin datang dan langsung mengambil jas navy Daffin yang tersampir dan melemparnya kearah pria itu. Selama beberapa hari ini ia jengah dengan semua pekerjaan yang dilalaikan Daffin.


"Aku tidak bisa menyentuh wanita lain selain istriku!" Daffin akhirnya memakai jasnya, ia sengaja menekan kata istri dihadapan Melvin.


"Cih.." Melvin berdecih " Kau fikir aku tidak melihat berapa gadis yang keluar dari kamar ini"


"Aku kehilangan istriku Vin dan butuh pelampiasan!" Bohong Daffin padahal ia sama sekali tidak berhasrat dengan para wanita itu.


"Aku tidak akan membiarkan tubuh kotormu menyentuh Pelangi!" Sentak Melvin yang membuat Daffin tertawa mengejek.


"Pelangi dan tubuhnya adalah milikku! Ah sudahlah, hentikan permainanmu sebagai pebinor, apa kau tidak malu?" kesal Daffin lalu kembali melakukan panggilan ke Mansion utama, ia berbicara sambil berjalan meninggalkan Melvin , Daffin tak ingin Melvin tahu ia akan pulang ke Mansion utama malam ini.


.


.


.


Mudah bagi Daffin mendapatkan semua kunci kamar yang ada di Mansionnya, tak terkecuali kunci kamar Pelangi yang terletak paling pojok di mes para ART.


Paula menempatkan Pelangi dikamar ujung yang paling kecil, ukurannya hanya 2x3 m persegi, didalam hanya ada sebuah kasur dan lemari kayu, namun beberapa hari tinggal disana Pelangi merasa nyaman, para ART juga memperlakukannya dengan baik dan tidak membulynya meski pekerjaan pelangi disana tergolong ringan karena hanya berkutat disekitar Mes saja, ia juga diberi akses keluar masuk melalui pintu belakang untuk pergi memeeiksakan kesehatannya di rumah sakit.


Meski bebas namun Pelangi belum pernah menggunakan waktunya untuk menemui Satria, walau pria itu terus menerus memohon agar bertemu dengan Pelangi, yah Ayu sudah mengatakan semuanya pada Satria. Kini pelangi dan Satria sudah berhubungan melalui ponsel.


Satria dan Pelangi hanya bisa menangis saat melakukan panggilan video pertamanya semenjak 4 tahun lalu.


Pelangi berjanji akan menemui Satria saat wanita yang beberapa hari lagi genap berusia 20 tahun itu siap menceritakan segalanya sendiri serta siap memghadapi Soraya yang sangat mebenci dirinya.


Daffin memutar kenop pintu dengan gusar setelah menggunakan kunci cadangannya, ia mendapati Pelangi yang terlelap tidur dalam cahaya temaram. Dalam hati Daffin merutuki ibunya yang memberikan kamar pembantu pada sang istri, meski ia masih menganggap Pelangi saat ini hanya sekedar pemuas hasrat baginya.

__ADS_1


__ADS_2