
"Apa kau pernah melihatku menyakiti wanita? Ok aku akui beberapa kali bersikap kasar pada Pelangi tapi aku tidak pernah benar benar menyakiti wanita itu" Aku Daffin, kini mereka berbicara didalam ruangan Daffin. Pria itu berdiri dengan kedua tangan yang menumpu di atas meja, seraya sesekali menunduk membenamkan kepalanya diantara tumpuan itu. Sementara Melvin yang duduk di sofa hanya menatap nyalang Daffin.
"Kau lupa dengan gadis 4 tahun lalu?" Mata Melvin seakan berkabut saat mengungkit peristiwa tragis itu, ia adalah saksi bagaimana Pelangi meninggalkan Vila dengan Luka yang tidak akan pernah bisa disembuhkan.
Andai saja Pelangi tidak melarangnya untuk mengungkap mengenai peristiwa itu kepada Daffin, Melvin bisa memastikan jika saat ini Daffin mungkin tengah berada dititik terendah penyesalannya. Melvin tahu sampai saat ini Daffin masih memikul rasa bersalah namun pria itu enggan menunjukkannya.
"Apa dia baik baik saja sekarang?" Daffin merasa tertampar, ia menarik kembali ucapannya mengenai tak pernah menyakiti wanita, Daffin menghela nafas berat, terakhir kali Melvin memberitahunya ia tengah berada di puncak kebahagiannya karena berfikir ia sudah sembuh sehingga tak perlu bertemu dengan gadis malang itu dan meminta maafnya.
"Ia sudah menikah sekarang, ia menikah dengan pria yang sangat kaya" Terang Melvin dengan tatapan kosongnya setelah ia mengalihkan manik matanya dan menatap sebuah dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota jakarta dari atas ketinggian.
Sekali lagi Daffin mendesa* ada rasa syukur mendengar gadis kecil yang pernah berada dalam kungkungannya itu kini sudah memiliki keluarga.
Melvin beberapa kali mendongakkan wajahnya guna menaham bulir air matanya agar tidak tumpah, padahal sebelumnya ia bukanlan tipikal pria yang mudah menangis. Namun mengapa semua yang ada pada diri Pelangi membuatnya ingin bersimpuh dihadapan gadis yang kini sudah menjelma menjadi wanita dewasa itu untuk memohon agar diberi kesempatan melindunginya.
Sesungguhnya Melvin sudah mengetahui segalanya mengenai latar belakang Pelangi, informasi dari orang suruhannya dan Dokter Ayu sudah cukup membuat dirinya terenyuh.
Daffin duduk dimeja kerjanya dan mengambil sebuah buku cek dari dalam laci, ia menuliskan angka sebanyak 3 milyar disana tanpa banyak berfikir. Setelahnya ia bergabung bersama Melvin dan menghempaskan bokongnya di sebuah sofa tunggal yang berhadapan dengan sepupunya itu.
"Berikan padanya, sampaikan permintaan maafku" Daffin menyodorkan cek tersebut diatas meja.
"Kau fikir pantas melakukannya?"
Daffin bisa melihat kemarahan yang amat mendalam dari sorot mata Melvin.
"Lantas aku harus apa? melaporkan diriku ke polisi? Sementara dia sendiri tidak melaporkan kejadian itu" Daffin menyugar rambutnya gusar, ia juga tidak habis fikir bagaimana mungkin tidak ada laporan pelecehan yang terjadi di villa padahal Orang suruhan mereka bahkan mencari tahu sendiri ke kantor polisi sekitar.
Melvin memijat pelipisnya dengan siku yang bertumpu dipaha " Lupakan gadis itu, jangan lakukan apapun! selamanya kau harus hidup dengan rasa bersalahmu, dia juga tak ingin mengungkit luka lama, dan ini...." Melvin mendorong kembali cek itu kehadapan Daffin "Dia memiliki suami yang sangat kaya sehingga tidak membutuhkan uangmu!" Kesal Melvin lalu berlalu meninggalkan sepupunya itu.
__ADS_1
Daffin Jaxton
.
.
.
"Saya ingin ada janji temu atas nama Satria"
"Atas nama Tuan satria?" tanya seorang resepsionis memastikan ia bertugas menyapa pengunjung saat pertama kali masuk, wanita muda itu lalu mengecek sesuatu di layar komputernya, "Beliau di ruangan VIP nomor 8 silahkan nona" lanjutnya lagi sambil memberi kode kepada seoeang pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja resepsionis agar menganrarkan pelangi diruangab yang dituju.
Pelangi tersenyum lalu mengikuti pelayan tersebut, ini adalah restoran mewah dengan layanan ruangan VIP sama seperti tempat ia bekerja dulu.
"Terima kasih" Pelangi nampak santai dengan senyum simpulnya padahal didalam hatinya tengah bergemuruh menahan kerinduan akan pria paruh baya yang ia panggil paman.
Tak ada kata yang terucap, Pelangi langsung menghabur kedalam pelukan Satria begitu pintu terbuka, menumpahkan rasa sakit yang selama 4 tahun ini ia tanggung sendiri.
"Paman merindukanmu" lirih Satria, ia membuang pandangan kesamping tak sanggup melihat betapa Pelangi terluka selama ini, Kepalanya mendongak dengan kedua tangan yang masih mengelus lembut punggung yang seakan rapuh milik pelangi, beberapa kali Satria menghela nafas dengan air mata yang terus berurai.
"Pelangi sangat merindukan paman, Pelangi...kira tidak akan pernah lagi melihat paman" Pelangi masih sesegukan.
"Maafkan paman nak...harusnya paman tidak meninggalkanmu saat itu, harusnya paman....."
' Tidak mendengar perkataan Istri paman dan tetap membawamu tinggal bersama kami' lanjut Batin satria.
__ADS_1
"Kenapa paman minta maaf" Kepala pelangi menengadah masih dalam dekapan satria.
"Paman tidak salah apa apa, jika saja Pelangi ikut dengan Paman mungkin Pelangi tidak akan semandiri ini, Pelangi sekarang wanita yang kuat Paman, semua berkat bunda Dokter Isyana" Terang Pelangi dengan air mata yang masih bercucuran, ia berusaha tersenyum, meyakinkan Satria jika selama ini hidupnya sangat bahagia.
Pelangi tidak tahu jika Satria sudah tahu apa yang ia alami 4 tahun yang lalu melalui dokter Ayu.
"Iya nak, kamu sekarang terlihat kuat....paman bangga sama Pelangi" Satria mengusap air mata Pelangi sebelum wanita 20 tahun itu melerai pelukannya.
Pertemuan pertama setelah 4 tahun ini menjadi pertemuan yang sangat panjang bagi dua orang tanpa pertalian darah itu. Satria juga sempat membujuk Pelangi agar berhenti bekerja sebagai Pelayan dan tingga bersamanya saja, ia bahkan mau membelikan sebuah apartemen untuk Pelangi dan merahasiakan keberadaannya dari Soraya, namun Pelangi jelas menolak selain kondisi yang tidak memungkinkannya lepas dari jerat Daffin, Pelangi juga tidak mau menjadi duri dalam pernikahan pamannya.
Satria sangat antusias saat pelangi bercerita mengenai masa masa indah yang ia lalui bersama Dokter Isyana, tentu Pelangi tidak menceritakan bagaimana ia ia bolak balik psikiater karena traumanya dan bagaimana ia melalui proses kuretase dan melihat segumpal daging kecil yang nyaris terbentuk sempurna dikeluarkan paksa dari rahimnya, ia juga tidak mengatakan apapun prihal pernikahannya karena bagi Pelangi pernikahan itu hanya akan berlangsung sememtara waktu.
"Bagaimana kondisi Jantung mu nak?"
Pelangi yang tengah menikmati hidangan dihadapannya sejenak berhenti "Baik paman, Pelangi sudah tidak merasakan nyeri lagi" Bohong Pelangi.
Setelah makan siang Pelangi yang mengutarakan niatnya untuk berbelanja disalah satu swalayan ternama dan Satria menawarkan diri untuk mengantarkan Pelangi. Mereka keluar dari restoran menuju sebuah mobil Mewah yang terparkir di pelataran sambil bergandengan, bagi Satria ia tengah menggandeng putri kecilnya yang sudah beranjak dewasa, namun tidak bagi dua orang wanita yang menatap nyalang kearah Pelangi dan Satria, bagi mereka Pasangan Pelangi dan Satria tidak lebih dari seorang sugar Daddy dan sugar Babynya.
"Gadis itu yang kau maksud polos?" Tanya Laila yang mengambil beberapa gambar Pelangi dengan Ponsel Cleo.
"Ia dia gadis itu!gadis pelayan yang ditiduri Daffin" mata Cleo tak bisa lepas dari Pelangi yang kini sudah pergi dengan mobil satria.
Mobil Satria yang mewah semakin mempertegas jika ia memang seorang Sugar Daddy.
"Kau mengambil gambar? Untuk apa?" bingung Cleo melihat Laila yang duduk dihadapnnya sambil memindai foto2 yang barusan ia ambil.
"Bodoh! ini bisa kau gunakan jika kau sudah kembali dalam keadaan Perawan, entah itu berguna atau tidak tapi kau harus menyimpan foto foto ini" Ujar Laila, ia memang menyarankan Cleo sementara waktu untuk menjauh dari daffin dan memperbaiki karakternya agar menjadi wanita yang membuat pria penasaran.
__ADS_1
"Baiklah" Timpal Cleo dengan senyum smirknya.