
"Kau merindukanku" Daffin memeluk Pelangi dari belakang saat gadis itu masih mencuci piring di wastafle.
"Tuan jangan seperti ini, Ada Bi Ijah didalam kamar" Elak Pelangi seraya menggeliatkan Kepalanya agar Daffin berhenti menciumi tengkuknya. Ia terperanjat saat Daffin tiba tiba merapatkan tubuhnya.
Saat Daffin Masuk Pelangi memang tidak Menoleh karena ia fikir suara berisik di belakangnya adalah Bi Ijah yang tengah membersihkan Ruang tamu.
Daffin sudah memberi isyarat agar wanita Pafuh baya itu pulang tanpa berpamitan pada Pelangi.
"Bi Ijah sudah Pulang, aku memanggilnya agar kau tidak perlu mengerjakan pekerjaan seperti ini" Daffin menunjuk tumpukan piring yang baru saja dicuci Pelangi.
Sebenarnya bi Ijah sudah melarang Pelangi, namun gadis itu bingung harus melakukan apa sehingga ia terpaksa memelas dan memohon agar Bi Ijah mengijinkannya untuk melakukan sedikit pekerjaan.
"Aku yang meminta Bi Ijah agar mengijinkanku bekerja Tuan" Daffin kini membalik tubuh Pelangi agar menghadap dirinya sambil membantu istrinya itu melepas Apron dan meletakkannya begitu saja dilantai.
Pelangi nampak kurang rapi tidak seperti biasanya, rambutnya hanya di cepol asal dengan beberapa anak rambut yang tergerai di sekitar dahinya. Ia juga hanya menggunakan Kaos longgar dipadukan rok payung selutut namun tidak mengurangi kecantikan wanita itu.
__ADS_1
"Tuan...." Lirih Pelangi saat Daffin sudah mulai merapatkan wajahnya dan mulai mengecup bibirnya hingga berakhir dengan permainan tukar saliva yang panas.
Jangan ditanya betapa rindu Daffin dengan tubuh istrinya itu, Perjalanan yang awalnya hanya direncanakan dua hari terpaksa molor menjadi 5 hari karena beberapa pekerjaan di Hotel Jaxton cabang Singapura.
Daffin melepas pagutannya dan menaikkan kaos kebesaran Pelangi hingga tanggal sempurna dan menyisakan bra merah muda yang menggugah gairahnya.
Ini kali pertama Daffin menatap lamat tubuh Pelangi dalam keadaan terang, karena cahaya bohlam dapur dibiarkan menyala ditambah lagi cahaya matahari yang masuk kewat jendela kaca tak jauh dari tempat mereka.
Daffin mengecup pundak pelangi hingga tubuh wanita itu bergetar, namun kali ini sudah muncul gelenyar aneh yang mengusik jiwa Pelangi. Pelangi sudah mulai membiasakan tubuhnya dijamah oleh sang suami.
"Luka apa ini?" tanya Dàffin dengan nafas yang menahan gejolak nafsu, tentu ia tidak akan menyangka jika itu adalah bekas operasi yang pernah dijalani Pelangi.
Pelangi menelan Saliva dengan Kasar sebelum menjawab "Luka itu tercipta saat aku masih kecil" Pelangi lalu membuang wajahnya kesamping, ia memang tidak berbohong karena operasi peegantian katup pertamanya memang saat ia masih kecil.
Entah karena sudah diliputi nafsu atau apa membuat Daffin enggan bertanya lagi, ia memilih menggendong Pelangi layaknya bayi Koala dan membawanya masuk kedalam kamar wanita itu untuk melakukan Pergumulan yang tentu halal mereka lakukan.
__ADS_1
.
.
.
Daffin mengamati wajah Pelangi yang tengah terlelap, ia terlalu lemah setelah melayani hasrat suaminya yang tertahan selama hampir satu minggu penuh, Empat tahun tak bisa menyentuh wanita membuat Daffin selalu ingin menjamah tubuh pelangi setiap harinya, kali ini ia mulai berfikir untuk mengajak serta Pelangi ke perjalanan bisnis berikutnya.
Tangan Daffin terulur membelai wajah dengan pahatan sempurna dihadapannya, wanita ini benar benar cantik, pikir Daffin pantas saja Melvin bersedia menunggunya, tak peduli wanita itu adalah mantan istri Daffin yang berulang kali disentuhnya.. Ah mengingat hal itu membuat Daffin benar benar geram, kini ia berharap salah satu bibit unggulnya bisa mendiami rahim Pelangi selama 9 bulan agar wanita itu tidak lagi punya alasan untuk meninggalkannya, persetan dengan 20 persen saham asalkan Pelangi bersedia tinggal disisinya ia bahkan berfikir untuk memberi hal lebih kepada Pelangi. Daffin tersenyum Smirk setengah badannya sudah bersandar di kepala ranjang sambil terus membelai lembut rambut Pelangi.
Drrt.....Drrt.....Drrt.... Ponsel Pelangi yang berada diatas nakas bergetar, Dari posisinya kini Daffin bisa melihat nama dan foto frofil yang terpampang dilayar ponsel Pelangi.
"Paman Satria?" Gumam Daffin seraya mengerutkan dahi.
Ia mengambil ponsel Pelangi dan memandangnya sebentar sebelum akhirnya menolak panggilan tersebut, namun beberapa detik kemudian ponsel Pelangi kembai bergetar kali ini adalah panggilan Video.
__ADS_1