
flashback
"Itu saja kak?"
Melvin mengangguk pelan, manik matanya tak bisa lepas dari wajah cantik nan teduh dihadapannya.
Melvin lalu menyimpan kalung Pelangi disalam saku kemeja dibalik jas hitam yang ia kenakan.
"Kalau begitu aku keluar kak, Tuan Daffin menungguku" pamit Pelangi.
Namun baru beberapa langkah pergelangan tangannya dicekal oleh Melvin.
"Kak...."
"Apa perjanjian kita masih berlaku?"
Hening....
Pelangi hanya menunduk, menatap tangan kecilnya yang terlihat begitu kontras dengan milik Melvin yang kekar.
Tentu ia ingat.
Meninggalkan Daffin? Alasan apa yang membuatnya harus pergi dari sisi Daffin disaat Pelangi merasa Daffin memberikan semua cinta kasih kepadanya meski belum pernah diungkapkan secara langsung.
Kecuali kematian...... Pelangi akan meninggalkan Daffin jika tuhan memang sudah berkehendak.
"Kak...anggap perjanjian itu tak pernah ada, Pelangi yakin kakak masih lebih menyayangi keluarga kakak dari pada Pelangi, jangan bodoh lebih memilih mengurusku dari pada orang orang yang bertalian darah dengan kakak."
"Itu bukan kebodohan Pelangi, apa kau menganggapnya seperti itu?" Melvin terlihat kecewa.
"Kak bukan begitu maksud pelangi...maaf"
__ADS_1
"Tentu pertalian darah adalah hal yang terpenting, jika seperti itu apa kau mau pergi bila yang membawamu adalah keluarga yang memiliki pertalian darah denganmu?"
Mata Pelangi memicing dalam, apa Melvin mengolok oloknya? Dari mana ia bisa menemukan seseorang yang berhubungan darah dengannya disaat ia sendiri ditemukan di panti asuhan.
"Jawab Pelangi"
"Kak...Pelangi anak yang terbuang, bagaimana mungkin....".mata Pelangi berkaca kaca, hatinya sangat sensitif jika membahas masalah keluarga, ditengah kondisinya yang pada kenyataannya tidak diharapkan kehadirannya.
Melvin tidak tahan melihat Pelangi, ia menarik tangan Pelangi hingga wanita itu masuk kedalam dekapannya.
"Pelangi hanya memiliki anak ini, satu satunya manusia yang akan memiliki pertalian darah denanku hanya anak ini hiks...." Pelangi terisak pelan.
"tidak Pelangi, percaya padaku...aku akan membuktikan hal yang tidak mungkin menurutmu akan menjadi mungkin tunggu saja" Melvin mengusap surai Pelangi, hingga membuat wanita itu tersadar jika apa yang mereka lakukan adalah salah.
"Maaf kak" Pelangi mengurai pelukan Melvin seraya menyusut air matanya, ia tidak peduli lagi kata kata menenangkan yang baru saja diucap Melvin. Yang ia inginkan segera keluar dari ruangan ini dan menemui suaminya.
Beruntung saat kejadian pelukan itu Daffin tak melihat dari cctv karena disibukkan oleh ulah Cleo.
.
.
.
"Pelangi....Pelangi....." Daffin seperti orang gila ia berteriak tak karuan dan menjelajah seluruh lantai rumahnya demi mencari keberadaan Pelangi, seraya merutuki Cleopatra, ia ingin mengusir wanita itu sekarang juga akan tetapi Mencari Pelangi jauh lebih penting.
Ia yakin Pelangi berada disalah satu ruangan di rumah ini, tak mungkin bertanya kepada Pelayan karena jam malam seperti ini para pekerja sudah kembali ke kediaman belakang.
"Pelangi..." Daffin menghela nafas lega saat melihat Pelangi yang tengah duduk di balkon kamar mereka dilantai 2, kamar itu mereka tempati sebelum Pelangi dinyatakan hamil.
"Tuan...." Pelangi menoleh dan tersenyum, ia tidak mungkin memperkihatkan gurat kesedihan yang susah payah ditutupinya, Pelangi tak boleh egois, ia selalu merasa dirinya bukanlah sumber kebahagiaan bagi Daffin, bahkan mungkin pengakuan cintanya kepada Pria itu adalah beban yang harus ia tanggung, pikir Pelangi.
__ADS_1
Ada setitik kekecewaan di mata Daffin tatkala melihat istrinya itu baik baik saja. Ia fikir Pelangi bersembunyi dan menangis disuatu tempat layaknya wanita wanita lain yang memergoki suaminya selingkuh.
Padahal ia saja begitu cemburu melihat Melvin mengibaskan rambut dan membuka kalung Pelangi tadi.
"Maafkan Pelangi Tuan, pelangi tidak tahu ada tuan dan nona Cleo didalam"
"Tidak...Pelangi, bukan seperti itu" Daffin menggeleng Pelan lalu duduk disamping istrinya "Bukankah kau seharusnya marah? Kau mencintaiku kan? " Daffin menepuk dadanya menuntut penjelasan dari rasa cinta seperti apa yang dirasakan istrinya.
Pelangi tersenyum, lagi lagi senyuman yang begitu tulus tanpa beban.
Akh...entah mengapa kali ini Daffin membenci senyuman itu, ia lebih suka melihat Pelangi meraung raung dan memukulinya karena telah berhianat meski pada kenyataannya tidak.
"Pelangi Mencintai Tuan, karena itu pelangi berharap tuan tidak membalasnya, jangan mencintaiku seperti yang seharusnya, dua orang yang saling mencintai harus saling menjaga dan menjalani hidup bersama selama lamanya, tetaplah jadi diri sendiri Tuan"
Daffin menghempaskan tangan Pelangi dengan kasar.
Ia tak pernah mengakui perasaannya bukan berarti tidak bisa membalas perasaan istrinya, bahkan Daffin yakin rasa cintanya kepada Pelangi jauh lebih besar dari pada yang ia bayangkan.
"Apa maksudmu Pelangi? huh"Daffin tertawa hambar, " Apa karena kau baru saja berduaan dengan Melvin dan saling memegang tangan dengan erat sehingga kau tak perlu balasan cinta dariku? Begitu?" Daffin menaikkan sedikit intonasi suaranya.
"Pelangi dan Kak Melvin tidak memiliki hubungan apa apa Tuan, dia hanya ingin meminjan kalung Pelangi entah untuk apa" Pelangi sedikit takut karena Daffin memgetahui segalanya yang terjadi di perpustakaan. Bodoh! ia merutuki dirinya sendiri yang terlambat menyadari jika Daffin memiliki semua akses cctv dirumah ini.
'Apa kau tau pelangi bagaimana terbakarnya hatiku melihat kau dan Melvin! Bagaimana bisa kau nampak biasa biasa saja melihatku dan Cleo? Apa aku tak berarti apa apa disisimu?' batin Daffin.
Daffin sedikit merasa bersalah melihat raut wajah Pelangi yang nampak ketakutan, namun sorot mata tajamnya tetap memindai seluruh tubuh Pelangi.
"Pelangi hanya ingin yang terbaik bagi Tuan" lirih Pelangi.
"Dan menurutmu yang terbaik adalah dengan membiarkanku bersama wanita lain selain dirimu! arghhh sial! Bagaimana jalan fikiranmu Pelangi"
"Maaf Tuan"
__ADS_1
"Aku akan tidur di apartemen malam ini!" Tukas Daffin sebelum meninggalkan Pelangi sendiri.