
"Pelangi ingat jangan terlalu beraktifitas" ucap Ayu memperingati wanita hamil yang sudah siap meninggalkan ranjang rumah sakit.
Ia hanya 2 malam tapi butuh 3 orang pelayan untuk mengemas semua perlengkapannya.
Setelah pelayan itu selesai mereka berpamitan kepada Pelangi dan Dokter Ayu untuk jalan duluan karena Melvin sudah berpesan seperti itu, ia sendiri yang akan mengantar Pelangi pulang.
"Jangan khawatirkan Pelangi Dokter, Pelangi akan lebih banyak di tempat tidur."Pelangi tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi rapi nan putih miliknya.
"Pelangi pikirkanlah sekali lagi, kemungkinan kau selamat dalam masa kehamilan ini hanya 20 persen" Ayu kembali membujuk wanita itu demi keselamatannya.
"20 persen itu banyak dok, Pelangi paling tahu kondisi tubuh sendiri, dulu pelangi fikir akan mati diusia 10 tahun, lalu 15 tahun tapi nyatanya Pelangi masih hidup sampai sekarang, kini Pelangi yakin bisa melihat anak ini sebelum ...."
"Sebelum apa? Apa kau berencana menggunakan cara seperti ini untuk mati Pelangi?" Nada suara Ayu sedikit tegas.
"Tidak! Pelangi akan berumur panjang" wanita hamil itu sedikit Tersenyum getir, ia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan kondisi kesehatannya yang kian menurun, ia hanya berharap semoga kelak masih bisa melihat wajah sang anak.
"Pelangi..."
Ceklek....suara kenop pintu diputar, memperlihatkan Melvin yang baru saja menyelesaikan masalah administrasi Pelangi.
Tampilan pria itu benar benar berantakan, ia mengenakan kemeja lusuh yang lengannya digulung batas siku, rambutnya juga sedikit acak acakan, karena sejak kedatangannya kemarin ia sama sekali tidak pernah meninggalkan Pelangi sedetikpun bahkan hanya untuk sekedar merapikan diri.
Ayu menatap Sendu kearah pria tambatan hatinya yang masih saja bersikap seolah olah ia masih bisa mendapatkan Pelangi dari tangan Daffin.
"Kak Melvin sudah selesai?" tanya Pelangi
__ADS_1
"Heem..., ayo kita Pulang, Melvin mengambil sebuah kursi roda dan membiarkan Pelangi untuk duduk diatasnya, ia sekilas menatap Ayu yang membuang pandangannya lalu menghela nafas berat. Melvin tahu Ayu masih marah karena menyembunyikam Fakta yang sebenarnya yang terjadi antara Daffin dan Pelangi.
.
.
.
Melvin sengaja melajukan kendaraannya pelan, ia seakan tak ingin cepat sampai hanya untuk menikmati wajah Pelangi yang nampak lebih ceria dari biasanya. Mungkin karena ia sudah mengangkat beban berat yang selama ini menindihnya yakni menceritakan segala lukanya dan berusaha berdamai dengan luka itu sendiri.
Pelangi menatap langit yang nampak mendung diluar sana.
"Ada Pelangi...." Gumam Pelangi, sepertinya baru saja turun hujan.
"Pelangi yang cantik" Timpal Melvin sambil melirik wajah Pelangi yang sumringah menatap 7 kumpulan warna mejikuhibiniu diatas langit, tentu saja maksud dari kata Cantik disini ditujukan kepada Pelangi, bukan pada Pelangi yang sebenarnya.
"Pelangi... Apa kau benar benar memaafkan Daffin?"
"Entahlah kak, Pelangi hanya ingin berdamai dengan dunia ini, Pelangi lelah menyimpan dendam"
"Kalau begitu biarkan Daffin tahu yang sebenarnya" Saran Melvin
Pelangi menggeleng pelan lalu menunduk, sejak Daffin sering memperlihatkan sisi lemahnya Pelangi sadar pria itu juga sebenarnya tidak baik baik saja, Kejadian 4 tahun lalu juga membawa trauma sendiri bagi pria yang terlihat begitu tegar itu.
"Kenapa ? Pelangi aku takut yang dikatakan Ayu ada benarnya, kau menggunakan cara ini untuk......" Mati Melvin hanya bisa melanjutkan kalimatnya didalam hati.
__ADS_1
Sebelum masuk keruangan rawat tadi Melvin sempat mendengar perbincangan antara Dokter dan pasiennya itu.
"Dan kau menggunakan cara ini untuk menghukum bedebah itu" lanjut Melvin lagi.
"Tadinya pelangi berfikir seperti itu, Pelangi ingin ia terus bersikap angkuh dan kasar agar kelak saat pelangi pergi dan ia mengetahui kesalahannya ia akan menyesal, Pelangi berencana membawa dendam ini hingga akhir hayat dan berharap Tuhan membalas dengan sesuatu yang setimpal, Pelangi berfikir ingin menjadi Lautan untuknya, sesuatu yang membuatnya nyaman namun selalu mengincarnya untuk ditenggelamkan"
"Pelangi....."
"Tapi Semua ternyata berakhir seperti ini, Pelangi menyerah kak.."
Melvin menghentikan kendaraannya lalu menghela nafas berat. Ia menatap sendu kearah wanita cantik dengan perut membuncit disampingnya.
Wanita dengan sejuta pesona dan kebaikan hati luar biasa, bagaimana bisa ia memaafkan pria yang sudah memporak porandakan kehidupannya, kecuali jika wanita ini sudah jatuh cinta.
Jatuh cinta? Melvin terkekeh pelan, ia kecewa jika Pelangi memang jatuh cinta pada Daffin, itu artinya ia benar benar sudah tidak memiliki kesempatan. Tapi Melvin takut Daffin tidak akan bisa membalas perasaan Pelangi. Ia tahu betul siapa Sepupunya.
"Kenapa berhenti kak?" Pelangi menautkan alisnya bingung.
"Pelangi, jika kau sudah tidak sanggup dan ingin pergi maka katakan padaku, mungkin bukan sekarang, tapi aku jamin akan selalu ada untuk membawamu jauh dari Dunia ini. Kita akan pergi kebelahan dunia lainnya dimana tidak ada orang yang mengenal kita berdua"
"Kak...." lirih Pelangi, air matanya jatuh, saat berada dititik terendah 4 tahun lalu selain bunuh diri yang tidak mungkin ia lakukan Pelangi pernah berharap bisa tinggal ditempat yang seperti melvin sebutkan namun Pelangi tak memiliki Daya untuk mewujudkannya.
"Bagaimana mungkin kau berfikir seperti itu, Kakak memiliki keluarga bukan manusia sebatangkara seperti diriku" lanjut Pelangi.
"Aku tidak Peduli Pelangi, berjanjilah padaku kau akan mengatakannya padaku, " Melvin lalu menautkan kelingkingnya dengan kelingking Pelangi yang terulur diatas pahanya. " Berjanjilah Pelangi"
__ADS_1
Pelangi tak bisa lagi membendung air matanya, Selain satria kini ia memiliki Melvin yang sanggup melakukan hal apapun untuknya.
Wanita cantik itu lalu mengangguk pelan.