
Pelangi yang sudah diperbolehkan pulang dihari ketiga nyatanya harus dirawat lebih lama yakni selama satu minggu, Daffin ingin Pelangi benar benar beristirahat karena ia tahu jika wanita itu kembali ke Apartemen ia tidak akan pernah tinggal diam dan selalu membantu pekerjaan bi Ijah.
Daffin yang sibuk mengurusi bisnis hotelnya terpaksa menyewa beberapa bodyguard dan perawat pribadi untuk menjaga dan merawat pelangi 24 Jam, tak lupa Daffin menitip pesan agar Pelangi tidak boleh menerima kunjungan tak terkecuali Dari Melvin, dan untungnya pria itu memang tidak pernah memunculkan batang hidungnya lagi setelah dotolak perasaannya, sebenarnya bukan perkara hal itu namun Melvin terlalu sibuk mengurusi pekerjaan dan misi yang diberikan Eshaq Hakan.
"Mengapa Tuan harus bekerja sekeras itu untuk mencari orang ini?" Jhon, bawahan Melvin yang terbiasa melakukan pekerjaan rahasia untuk Jaxton hotel itu bertanya sambil menyodorkan sebuah potret usang berukuran 3x4 yang mana didalamnya adalah gambar seorang pria muda dengan pakaian khas koki. Jhon juga adalah orang yang selama 4 tahun ditugaskan Melvin mencari keberadaan Pelangi namun nihil.
"Aku harus menemukannya, demi kerja sama hotel dan Chef Eshaq agar Jaxton bisa menjadi Hotel satu satunya yang menyelenggarakan pertemuan G21"
Terdengar helaan nafas dari Jhon, ia tahu Melvin sudah bekerja keras dan mencurahkan setengah hidupnya demi Jaxton hotel.
"Padahal Tanpa G21 pun Jaxton hotel masih tetap hotel terbaik di Asean" timpal Jhon.
"Aku harap ini menjadi pekerjaan terakhirku Jhon"
"Anda ingin meninggalkan Jaxton ?" pupil mata Jhon membulat.
"Entahlah.... Rasanya aku ingin hidup tenang setelah ini " Melvin menyenderkan tubuhnya disandaran kursi kerjanya dan mendongak menatap langit langit.
.
.
.
Pelangi bingung kemana dua orang pria berbadan kekar yang duduk di jok depan hendak membawanya. Ini bukanlah jalan menuju Apartemen mewah yang ia tinggali, Bertanya kepada dua orang itupun percuma, karena menurut Perawat yang kini duduk disamping Pelangi di Jok belakang Dua bodyguard itu di haramkan berbicara dan memandangi Pelangi, itu adalah titah langsung dari Daffin. Sementara sang perawat juga tidak tahu apa apa mengenai perjalanan ini.
Mobil Sedan mewah yang Mereka tumpangi akhirnya tiba disebuah kawasan perumahan paling elite yang terletak di kota Jakarta, jika Pelangi tidak salah jarak antara Apartemen mewahnya dengan Perumahan ini hanya sekitar 10 menit berkendara dengan mobil itu artinya tidak terlalu jauh.
Lalu siapa yang akan ia sambangi disini?
Apa mereka akan menjemput seseorang?
Puluhan pertanyaan yang sama masih menari dibenak Pelangi saat ia melihat jejeran rumah mewah bergaya modern dengan pilar raksasa yang menjulang tinggi, hingga akhirnya mereka tiba didepan sebuah gerbang indah berwarna Gold yang langsung terbuka sendiri saat mobil hendak masuk kedalam.
Pelangi masih mendongak menatap rumah raksasa tiga lantai tersebut sesaat setelah sang bodyguard membuka pintu dan mempersilahkan nyonyanya Keluar.
__ADS_1
Meski tidak semewah mansion utama namun pelangi tahu jelas pemilik rumah ini juga bukan orang sembarangan.
Lalu apa tujuannya berada disini?
Tak lama kemudian bi Ijah keluar dari dalam rumah dengan berlari kecil memghampiri pelangi yang menatapnya heran.
"Bi Ijah?"
"Nyonya? Bagaimana kabar nyonya? Nyonya sehat? " Bi Ijah memberondong Pelangi dengan berbagai pertanyaan sementara wanita 20 tahun itu masih terlihat bingung dengan keberadaan Bi Ijah di rumah mewah tersebut.
"Ini rumah siapa Bi?" Akhirnya Pelangi memiliki seaeorang yang bisa ditanyai.
"Masuk dulu nyonya," Bi Ijah menarik pelan lengan Pelangi, sebelum mereka masuk 3 orang yang bertugas menjaga Pelangi itu pamit undur diri karena tugas mereka sudah selesai.
"Bi Pelangi takut ini rumah siapa?"
"Ini rumah Tuan Daffin, katanya nyonya akan tinggal disini mulai sekarang"
"Tuan Daffin tidak cerita?" Tanya Bi Ijah yang melihat raut wajah Pelangi yang penuh tanya.
"Ini kejutan" Sebuah suara rendah datang dari arah belakang, pria tampan dengan jas yang tersampir dilengannya.
"Biar saya yang antar dia Bi" Daffin merangkul pundak Pelangi dan membawa istrinya itu masuk kedalam Lift, meninggalkan Bi Ijah yang menunduk penuh hormat sebelum pintu lift tertutup.
"Ini rumahmu, kau suka? " Daffin yang tinggi sejenak menunduk dan mengecup pucuk kepala Pelangi.
Pelangi hanya mengangguk lemah, mamangnya dia bisa apa?
"Suatu saat rumah ini akan ramai dengan tawa anak anak kita" Lanjut Daffin lagi.
Pelangi susah payah menelan Salivanya karena ia sadar Kehadiran seorang anak hanya akan membunuhnya,akan tetapi jika itu yang diinginkan suaminya maka ia tidak akan menolak. Bunda siti pernah berkata meninggal karena melahirkan seorang anak maka akan mendapatkan ganjaran surga.
Lalu bagaimana dengan anaknya kelak?
__ADS_1
Pelangi menggeleng Pelan, tentu anak itu akan bahagia dia terlahir dalam keluarga kaya dan Pelaangi yakin Daffin tidak akan setega itu pada darah dagingnya sendiri.
Daffin membawa Pelangi kedalam kamar yang sangat luas, tubuhnya bagai diseret sesuka hati oleh suaminya untuk melihat setiap sudut kamar barunya.
Daffin menuturkan mulai sekarang mereka akan tidur satu kamar dan satu ranjang, didalam walk in closet bahkan sudah berjejer barang barang milik Daffin dan Pelangi yang tertata Rapi, dress dan beberapa blouse mahal bahkan tak pernah dilihat pelangi sebelumnya dan langsung diklain Daffin semua itu milik Pelangi bahkan ada rak khusus untuk koleksi lingerie sepatu dan tas yang semua koleksi merk terkenal.
Pelangi bingung harus bereaksi seperti apa melihat semua pemberian Daffin, Pria itu benar benar berharap Pelangi akan tinggal selamanya disisinya.
Puas melihat seluruh isi walk in closet Daffin tiba tiba mengangkat tubuh Pelangi ala bridal style, pria itu bisa merasakan tubuh mungil pelangi tiba tiba menegang dalam gendongannya.
"Tu..an..." Lirih Pelangi, rasanya ia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukannya, kau harus sehat betul sebelum melayaniku lagi" bisik Daffin. Kata kata Daffin benar benar membuat Pelangi bisa bernafas dengan lega.
Daffin membawa Pelangi kesebuah sofa santai didepan pintu balkon dengan View langit biru yang indah,ia mendudukan pelangi diatas pangkuannya dan bersandar pada ceruk leher istrinya itu.
"Tuan Tubuhku berat...." protes Pelangi, namun Daffin bergeming ia merasa sangat nyaman, membaui tubuh Pelangi yang sangat ia rindukan, sejak Pelangi ada Daffin merasa ia punya rumah untuk ia datangi. Biasanya pulang ke Apartemen, mansion atau menginap di hotel rasanya sama saja.
"Pelangi.....biarkan seperti ini hingga kita menua, jangan meninggalkanku, aku janji tidak akan jatuh cinta padamu seperti keinginanmu dalam surat peejanjian itu, asal kau tetap disampingku memberikan rasa nyaman seperti ini"
Deg....
Entah mengapa kata kata Daffin barusan membuat jantung Pelangi berdetak lebih cepat.
Menua bersama?
Menua?
Ia bahkan tak pernah membayangkan akan hidup sepanjang itu.
"Tuan....." Pelangi balas mengusap pucuk kepala Daffin sehingga membuat pria itu semakin nyaman dan seakan ingin tertidur didalam pelukan istrinya ' Maafkan aku hidupku tidak akan sepanjang itu, mengapa kau merasa nyaman dengan wanita yang sangat membencimu? Rasanya aku ingin membunuhmu tapi mengapa kau malah menunjukkan sisi lemahmu seperti ini? Apa kau tidak tahu hatiku serapuh apa?' Batin Pelangi.
Daffin semakin menelusupkan kepalanya hingga ia bisa mendengar detak jantung Pelangi yang terdengar seperti tidak biasa.
"Mengapa seperti ada jam didalam dadamu?"
__ADS_1